10 Kiat Agar Terus Menulis dan Berkarya

ainun
foto by @salsabeela @nulisbuku

Sore merayap malam, matahari menghilir di langit Jakarta, pada Sabtu, 28 November. Namun, di salah satu ruang pertemuan di gedung Conclave jalan Wijaya 1 Jakarta Selatan, suasana baru memanas.

Ainun Chomsun, seorang penulis, blogger, social media strategic and community development, dan sosmed adict, tengah membakar semangat tujuh puluh lebih peserta diskusi kepenulisan yang diadakan nulisbuku.com. “Mulailah dan teruslah belajar,” Ainun mengucapkannya dengan sumringah.

Dari kursi di pojok kanan depan deretan peserta, saya mangut-mangut menelaah materi dan kiat yang disampaikan Ainun. Saya tersenyum manakala ia menceritakan masa lalunya ketika ia memilih menepi dari dunia kerja, memprioritaskan buah hati. Serius menekuni kepenulisan lalu mengakrabkan diri dengan sosmed. Tapi saya juga marah, malu, dan sedih ketika ia bercerita betapa mudahnya jadi penulis.

Ya, benar. Seluruh rasa bercampur di hati saya saat ia menjelaskan langkah demi langkah agar eksis menulis dan berkarya. Kata Ainun, “ini mudah!”. Saya marah lantaran tak melakukan. Saya malu karena  belum memulai. Dan saya sedih tersebab tak pernah merealisasikan.

Malu? Iya saya malu pada diri sendiri. Sebab sejak lulus SMA saya sudah memendam keinginan untuk menerbitkan buku sendiri. Buku sendiri, buku yang sepenuhnya tulisan saya sendiri. Kalau buku berjamaah memang saya sudah terlibat pada beberapa pekerjaan. Tapi menerbitkan buku sendiri, itu baru seru!

bookBanyak hal yang membuat keinginan itu tak kunjung sampai. Sibuk bekerja, lagi gak ada mood, kurang ide, dan seterusnya. Ya namanya juga alasan. Ada 1001! [nyengir]

Terlambat. Seringkali saya hilang semangat untuk menulis karena merasa sudah terlambat. Saya suka iri melihat penulis-penulis muda potensial yang sudah menelurkan banyak karya. Misalnya Bernard Batubara, 26 tahun, yang baru saja meluncurkan buku ke delapan. Aishh sudah ke delapan saja?? *usap mata.

Dan saya yakin saya tak sendiri bukan? Di luar sana ada banyak yang memendam rasa serupa. Ingin punya buku namun belum kesampaian. [Nyari sekutu] Apakah itu termasuk kamu?

Untungnya, sekarang saya menemukan spirit baru. Seluruh rasa yang terasa dalam diskusi kini berturbulensi menjadi energi positif baru untuk segera memulai dan tak lagi membiarkan kata terlambat menjadi penghambat. 🙂

Jadi dari diskusi bersama Ainun, saya mencatat ada 10 kiat agar kita bisa terus menulis. Ini kiat dari Ainun ya yang saya tambah dengan beberapa elaborasi.

Tentu saja saya belum berhak berbagi kiat karena juga masih berproses. 🙂 Postingan ini pun saya buat untuk pengingat bagi diri sendiri. Biar bisa dibaca di kemudian hari. Syukur-syukur juga berguna buat pembaca yang lain.

Inilah 10 kiat yang mungkin sesuai dengan saya dan juga kamu.

1.Mulailah dengan semangat belajar.
Mulai. Ya harus diakui ini step paling berat. Kata para penulis senior, kalau sudah memulai step selanjutnya bakal mengalir. Tapi ingat. Mulailah menulis dengan tetap menjaga rasa ingin tahu. Terus belajar dan perkaya wawasan.

2.Bangun cerita sederhana dengan bahan yang dikuasai.
Kenapa harus bahan yang dikuasai? Sederhana saja. Bila kita menulis sesuatu yang dipahami dengan baik maka cerita akan lebih hidup. Penulis akan lebih mudah memberi nyawa tulisan