Tentang Internet dan Kita : Tiga Kisah, Satu Benang Merah

Internet dan Kita

 

Membaca tulisan di website komunitas Emak Blogger berjudul Internet Anak dan Orang Tua membuat saya tergelitik menuliskan posting kali ini.

Tulisan itu ditulis Mak Indah Juliati Sibarani. Kurang lebih isinya tentang bagaimana seharusnya kita, para orang tua, menyikapi perkembangan dunia digital dalam mendidik anak.

“Internet itu ibarat sungai di belakang rumah kita. Daripada melarang anak-anak bermain dekat sungai, membuat berbagai macam penghalang, kenapa kita tidak mengajari mereka untuk berenang,” begitu salah satu kutipan di postingan Mak Indah.

Saya jadi teringat film berjudul men, women, & children yang rilis tahun 2014. Saya memang telat menonton film yang disutradai Jason Reitman ini, yaitu dua tahun kemudian. Tepatnya dua bulan lalu ketika staycation bersama keluarga di salah satu hotel di kawasan Cikarang.

men women and childrenMeski menonton belakangan, film ini bagi saya masih terasa sangat up to date dan mengena. Narasi tentang polemik penggunaan internet dalam keluarga ditampilkan dalam kritik yang tajam. Tentang bagaimana tiga keluarga berbeda mengelola dan menempatkan internet dalam kehidupan.

Pada tulisan ini, saya tak akan membuat resensi film. Boleh jadi beberapa kritikus film menilai film ini dingin. Ada juga yang bilang plot film ini terlalu datar karena memang bergenre drama.

Lupakan dulu soal plot dan alur film. Yang jelas film yang diangkat dari novel dengan judul serupa karangan Chad Kuktgen ini dengan gamblang menceritakan bagaimana kehadiran internet dan gadget telah mengubah cara orang menjalin hubungan, berkomunikasi dengan keluarga dan lingkungan sosial.

Saya hanya akan menarasikan ulang kehidupan tiga keluarga dalam film men, women & children. Bagaimana masing-masing orang tua menyikapi kehadiran internet pada anak remaja mereka. Tentu saja ada konflik lain, konflik suami istri dan juga tetangga.

Endingnya, silakan kita menentukan sendiri. Ada di manakah kita saat ini. Menjadi orang tua yang seperti apa? Dan bagaimana seharusnya kita bersikap pada anak-anak dalam menghadapi perkembangan dunia internet.

  1. Moms super protektif ala Patricia

patricia dan brandy
Patricia dan Brandy

Ini kisah tentang seorang ibu bernama Patricia (Jennifer Garner). Patricia adalah ibu yang aktif di media sosial. Ia terlibat dalam beberapa komunitas pengguna internet. Termasuk komunitas orang tua peduli internet untuk remaja. Namun, pengetahuan akan dunia digital membuat ia menjadi over protektif terhadap putrinya Brandy yang beranjak remaja.

Dengan kemampuan digitalnya, Patricia diam-diam mengetahui seluruh password media sosial Brandy. Ia leluasa membaca semua pesan untuk putrinya, bahkan sebelum Brandy sempat membaca. Rasa melindungi dalam diri Patricia terhadap anak membuat ia bahkan menyaring seluruh pesan yang masuk. Ia juga tak segan menghapus pesan yang ia anggap tidak cocok dengan Brandy.

Di mata Patricia, Brandy yang sudah sekolah di SMU tetaplah putri kecil yang harus selalu diawasi. Ia bahkan membatasi kehidupan Brandy dalam membina pertemanan. Terutama pertemanan dalam dunia maya.

Di sisi lain, Brandy yang beranjak dewasa merasa kebebasannya sebagai individu terganggu. Ia tak punya ruang untuk dirinya sendiri dalam membangun pertemanan.

Brandy akhirnya tumbuh menjadi penyendiri, dan tidak punya teman. Setiap kali ia mencoba membangun pertemanan, ibunya selalu ikut campur.  Ia menjadi gadis yang selalu menghabiskan masa istirahat di pustaka sekolah, sendirian.

Brandy : “The only thing that dangerous in this house, Mom,  is You!”

 

  1. Moms “teman” dunia maya ala Donna

Donna dan Hannah
Donna dan Hannah

Berkebalikan dengan Patricia, Donna (Judy Greer) justru menjadi partner putrinya Hannah dalam mengelola dunia maya. Bersama sang putri ia membuatkan situs blog berisi foto-foto pribadi Hannah. Situs itu dikelola oleh sang ibu dengan tujuan menarik minat agensi agar bisa merekrut Hannah dalam dunia model dan perfilman.

Bagi Donna, ia merasa sudah mengenal dekat anaknya. Ia merasa menjadi partner, ibu, dan teman yang selalu ada di setiap kehidupan Hannah. Namun, pengetahuan yang terbatas akan besarnya jangkauan media sosial membuat Donna abai akan beberapa hal. Di luar pengetahuan Donna, Hannah justru menggunakan situs pribadinya untuk menjalin pertemanan bebas di dunia maya bahkan juga di dunia nyata.

Menurut Hannah, ia merasa semua tindakan yang dilakukan masih dalam jalur. Bahkan, ia merasa ibunya mendukung semua tingkah lakunya di media sosial. Memang, Donna tak pernah melarang, bahkan bangga dengan kemampuan Hannah di medsos. Tapi Donna lupa bahwa pengetahuannya akan media sosial tak cukup mengimbangi pengetahuan Hannah yang masih remaja dan lebih cepat menangkap perkembangan media sosial.

Hmm, pada bagian ini saya merasa seperti sedang melihat fenomena medsos hari ini. Betapa sebenarnya anak-anak remaja zaman sekarang punya kemampuan yang luar biasa dalam memahami dan menguasai jejaring sosial.

Kalau dalam tulisan Mba Indah disebut sebagai anak dengan native digital. Sedangkan para orang tua, Mak seperti kita, banyak pula yang merasa sudah tahu banyak. Padahal hanya mengenal dan menguasai secuil dari luasnya jagad dunia maya.

Kembali ke cerita Donna dan Hannah. Segalanya berjalan lancar sampai akhirnya Donna mendapat kabar dari agency. Sebuah impian yang selama ini ia tunggu. Namun bukan kabar baik, ia malah mendapat kabar buruk. Anaknya, Hannah, tidak layak menjadi  artis lantaran pihak agency menemukan situs pribadi Hannah yang dianggap tak layak untuk seorang calon artis.

Awalnya Donna heran karena ia merasa selama ini telah mengelola blog itu dengan gambar yang wajar. Ia baru ternganga begitu membuka dengan seksama. Di situs terdapat banyak foto dan cerita tak pantas yang diunggah Hannah tanpa sepengatahuan Donna. Namun sekali lagi, selama ini Hannah tak merasa salah dengan tindakannya karena ia merasa semua aktivitasnya sudah diketahui dan disetujui sang ibu.

 

  1. Daddy yang memberi kebebasan internet ala Kent

 

Kent ( Dean Norris) adalah ayah seorang remaja bernama Tim. Tim mengalami depresi setelah Kent ditinggal cerai oleh ibunya. Tim meningalkan klub sepakbola dan menjadi maniak game online.

Tanpa sepengetahuan Kent, Tim mengenal permainan karakter game online yang sedang digandrungi remaja seusianya. Dalam permainan ini, pemain diajak menjadi lakon utama dalam game online.

Karakter dalam permain game online ini bahkan memberi penghormatan pada lakonnya yang berani bunuh diri bila gagal menyelesaikan misi. Tim yang kalut, merasa punya tempat pelarian dari masalah perceraian ayahnya.

tim dan brandy
tim berteman dengan brandy

Di saat yang sama, Tim mulai mengenal Brandy melalui salah satu situs pertemanan. Ini merupakan satu-satunya situs pertemanan milik Brandy yang aman dari pengawasan Patricia. Hubungan Tim dan Brandy berjalan mulus sampai akhirnya Patricia mengendus keberadaan akun medsos rahasia Brandy. Patricia mensabotase komunikasi dengan Tim.

Kent sebenarnya mengetahui kesenangan baru Tim dengan game online. Namun ia melihat hal itu sebagai hal biasa. Bahkan ia tak mempersoalkan Tim larut dalam permainan online. Menurut Kent, mungkin itu bisa mengobati luka hati Tim. Namun, Kent abai mencari tahu permainan apa yang sedang dimainkan Tim.

Kent tak tahu bahwa Tim sedang berinteraksi dengan permainan berbahaya di dunia maya. Karakter dalam game online ini juga yang memicu Tim melakukan percobaan bunuh diri setelah ia merasa gagal membangun hubungan dengan Brandy.

 

Satu Benang Merah    

internet and mask

Tiga kisah keluarga dalam menggunakan internet ini memiliki problematika yang berbeda. Ada yang terlalu protektif, ada yang menjadi ‘teman’ dan ada yang memberi kebebasan penuh. Pada akhirnya ketiga model hubungan dalam memperlakukan internet ini menemukan masalah masing-masing.

Patricia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa putrinya bukan gadis kecil lagi. Donna tersadar bahwa sebagai ibu ia perlu mengedukasi putrinya untuk menggunakan internet dengan bijak. Menjadi teman dan partner di dunia maya saja tidak cukup untuk mentransfer nilai pada anak.

Sedangkan Kent menyadari bahwa, ia tak bisa memberikan akses internet sepenuhnya pada anak. Sebagai orang tua ia perlu mengetahui dan mencari tahu lebih jauh apa saja yang dilakukan dan diakses anak di dunia maya.

Bahwa menjadi orang tua juga harus bisa menyepadankan diri dengan anak. Membekali diri dengan berbagai pengetahuan di dunia maya.

Bagaimana dengan kita? Di mana kita berada saat ini. Apakah menjadi orang tua yang super protektif, menjadi ‘partner’, atau malah menjadi orang tua yang memberikan kebebasan penuh pada anak untuk mengakses internet.

Ataukah kita sudah masuk ke level orang tua bijak yang bisa menggabungkan karakter Patricia, Donna, dan Kent dalam diri kita. Kita yang menjalani, kita yang tahu sudah sejauh mana kita melangkah. Lets be the smart parents for our children.

Waktunya memantaskan diri menjadi orang tua yang bijak. Menjadi orang tua, guru, dan juga sahabat anak dalam bermedia sosial dan internet.

 

 

Bermanfaat? Yuk... SHARE...!!!
Facebook
Google+
http://duniabiza.com/2016/08/15/tentang-internet-dan-kita-tiga-kisah-satu-benang-merah/
Twitter
SHARE
5 out of 5 based on 5 rating. 5 user review.
11 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *