Morotai, I Shall Return

sumber : morotaikab.go.id
sumber : morotaikab.go.id

Awal Juni lalu, Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan meluncurkan program Wonderful Morotai.

Tentu saja saya antusias. Apalagi dalam peluncuran itu, Menteri Arief Yahya menyatakan akan ada 4 even besar yang digelar di Morotai. Empat festival tersebut adalah Festival Desa Pesisir, Festival Pulau Dodola, Festival Jejak Perang Dunia II dan Festival Budaya.

Seketika bayangan pulau cantik di utara Maluku itu melintas di kepala. Pulau yang indah. Pulau penuh sejarah. Pantas saja Jenderal Perang Dunia dari Amerika yang terkenal, Douglas MAc Arthur ingin berulang datang ke sana.

“Morotai I Shall Return”

***

Menempuh perjalanan lebih dari 2.500 kilometer dengan selisih waktu lebih dari tiga tahun tak membuat ingatan saya akan Morotai hapus. Pengalaman tiga hari berpetualang di pulau eksotis itu masih menggoda memori hingga kini. Barangkali itu pula yang membuat Douglas Mc Arthur, Jenderal Amerika Serikat, pemimpin tentara sekutu pada perang dunia II, jatuh cinta dengan Morotai.

Dari pulau ini, 65 tahun lalu, sekutu memukul mundur tentara Jepang. Di sini pula Tentara Nasional Indonesia membangun pusat komando perjuangan Trikora pada masa pembebasan Irian Barat. Saya beruntung. Ketika datang ke pulau di garis utara gugus Halmahera itu, saya bertemu penduduk lokal yang hapal seluk beluk Morotai. Namanya Muhlis Eso.

Bersama Muhlis saya berkeliling dengan sepeda motor menyusur jejak perang dunia. Bertemu dengan tetua kampung, mendengar cerita dari saksi sejarah, dan melihat aktivitas masyarakat membuat kopra. “Orang tua di sini ada yang pernah bertemu tentara sekutu dan Jepang,” ujar Muhlis waktu itu.

 

Aktivitas-masyarakat-morotai
beberapa masyarakat masih menggunakan pedati untuk transportasi

Petualangan kami dimulai dari Bandar Udara Leo Watimenna. Bandara ini dulu bernama Pitu Street, merujuk tujuh landasan utama yang ada di sana. Dari bandara kami menyusur setiap jalur hingga sampai ke situs Sumur Air Kaca. Sumur ini terletak dua kilometer dari bandara sekaligus menjadi tempat persembunyian Jenderal Douglas Mc Arthur.

Menurut Muhlis, pada beberapa goa di areal pemandian masih tersimpan sisa perang dunia seperti selongsong peluru, bayonet, dan pelontar roket. Sayang, kami tak masuk ke goa lantaran sudah sore dan mau hujan. Situs sejarah lain yang bisa dikunjungi adalah monumen Mc Arthur di Pulau Sumsum, monumen Trikora, dan situs temuan tank amphibi. Selain di darat, perairan Morotai juga memiliki spot selam yang merupakan tempat terkuburnya bangkai pesawat tempur sekutu.

Tak melulu tentang masa lalu. Morotai di masa kini juga tak kalah memikat saya. Saya takjub dengan semangat Muhlis dan penduduk lokal lain yang bergotong royong mendirikan museum swadaya. Di museum itu mereka menyimpan berbagai temuan sisa perang dunia II.

muklis
Muhlis menunjukkan koleksi peninggalan sejarah yang ada di museum swadaya

“Ini museum kami, tempat anak cucu kami nanti mengingat sejarahnya,” ujar Muhlis.

Untuk mendukung wisata sejarah, di beberapa desa juga mulai dikembangkan kerajinan anyaman kelapa dan pandan. Kearifan masyarakat itu ditambah keindahan alam yang tak terlupa. Laut biru, pasir pantai yang halus, juga keelokan terumbu karang dan hewan laut.

Dari atas perahu mesin saat bertolak dari Daroeba, ibu kota Morotai, menuju Pulau Sumsum, saya bisa menyaksikan dengan mata telanjang ikan-ikan berenang ke sana ke mari.

Pulau lain yang tak boleh terlewat adalah Dodola besar dan kecil. Saat itu, ketika kami sampai di Dodola besar, air laut sedang surut.

Bermain Pasir di Pulau Dodola

sumber ; pulaumorotaikab.go.id
sumber ; pulaumorotaikab.go.id

Berkunjung ke Morotai tak akan lengkap sebelum berlabuh di Pulau Dodola. Pulau ini terletak sekitar 5 mil dari Kota Daruba, ibu kota Kabupaten Morotai.

Di Dodola, saya menikmati pemandangan bawah laut yang eksotis. Gerombolan terumbu karang, dihiasi hilir mudik aneka ikan hias. Keindahan bawah laut ini bisa dinikmati dengan mata telanjang dari permukaan laut.

Selain suguhan pemandangan bawah laut, pulau ini juga dihiasi hamparan pasir putih yang indah. Ada dua jenis pasir putih di sini. Pasir yang lebih halus ada di bagian pantai yang menghadap Pulau Halmahera. Sedang pantai yang menghadap Pulau Morotai sedikit lebih kasar.

Untuk sampai ke pulau ini, dari Daruba tinggal menyewa speed boat yang parkir di Pelabuhan Haji Imam Lastori. Perjalanana 20 menit ke Pulau Dodola menjadi tak berasa karena saya tak henti memandangi pulau yang tersebar di sepanjang perjalanan. Burung-burung laut sesekali akan melintas menemani perjalanan singkat itu.

Sampai di Pulau Dodola, begitu turun dari speed boat, saya segera menghambur ke pantai. Di sana ada dua pulau yang terhubung dengan pasir putih, Dodola Besar dan Dodola Kecil. Saya pun menyusur koridor pasir putih itu sambil memilih karang yang terdampar.

Karang di sini tersebar di sepanjang bibir pantai, baik di Dodola kecil maupun Dodola besar. Jenis karang yang lebih beragam terdapat di pantai yang menghadap ke Pulau Halmahera. Di sini, pantainya lebih landai sehingga kita bisa berjalan hingga hampir 3 meter ke arah laut dari bibir pantai.

Sungguh pengalaman yang tak terlupa. Morotai I Shall Return!***

 

 

 

8 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.