Prinsip tersebut menjadi landasan pendekatan pendidikan yang disampaikan Conrad Hughes, Kepala Sekolah di International School of Los Angeles, dalam artikel yang dipublikasikan oleh World Economic Forum pada akhir bulan lalu..
Hughes, yang sebelumnya memimpin sekolah internasional serupa di Jenewa, menilai penggunaan AI di sekolah perlu diimbangi dengan metode pembelajaran yang menuntut keterlibatan kognitif siswa secara langsung.
Pendekatan ini dikenal sebagai cognitively demanding pedagogy (CDP), yakni metode pembelajaran yang mendorong siswa untuk berpikir sendiri, memperkuat daya ingat, dan mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
Di tengah semakin mudahnya anak memperoleh jawaban melalui chatbot, kemampuan untuk memahami persoalan dan menyusun pemikiran sendiri justru menjadi semakin penting.
Mengapa pendidikan perlu kembali ke dasar?
Perkembangan teknologi selama beberapa dekade terakhir telah mengubah ruang kelas. Literasi digital, kecakapan menggunakan AI, dan kemampuan memahami data menjadi bagian penting dari kompetensi yang dibutuhkan generasi mendatang.
Namun, kemudahan teknologi juga memunculkan persoalan baru. Ketika siswa menyerahkan proses berpikir kepada AI, mereka berisiko kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan kognitifnya sendiri.
Hughes menyoroti penelitian mengenai penggunaan model bahasa besar atau large language models (LLM) dalam penulisan esai, serta penurunan skor membaca, matematika, dan sains dalam Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).
Keterkaitan antara penggunaan chatbot dan penurunan kemampuan belajar perlu ditafsirkan secara hati-hati karena tidak dengan sendirinya membuktikan hubungan sebab-akibat. Meski demikian, kekhawatiran mengenai ketergantungan berlebihan pada teknologi menjadi alasan untuk mengevaluasi kembali metode pembelajaran.
Salah satu persoalan yang disoroti adalah cognitive offloading, yaitu kecenderungan memindahkan sebagian pekerjaan mental kepada alat eksternal. Ketika siswa terlalu sering mengandalkan AI untuk menyusun jawaban, mereka dapat kehilangan kesempatan berlatih mengingat informasi, mengenali pola, dan membangun argumen.
Fenomena membaca terburu-buru juga menjadi perhatian. Siswa mungkin dapat menyelesaikan bacaan dengan cepat, tetapi belum tentu memahami isi dan konteksnya secara akurat.
Karena itu, pendidikan perlu kembali memperkuat keterampilan dasar, seperti membaca buku, menulis dengan tangan, berhitung tanpa bantuan perangkat, dan menyelesaikan persoalan secara mandiri.
1. Biasakan anak membaca dan menulis secara mandiri
Membaca dan menulis bukan sekadar aktivitas untuk menyelesaikan tugas sekolah. Keduanya merupakan fondasi untuk mengembangkan kemampuan memahami informasi, menyusun argumen, dan mengungkapkan gagasan secara sistematis.
Dalam pendekatan CDP, siswa perlu tetap diberi kesempatan membaca teks secara langsung, mencatat dengan tangan, dan menjawab pertanyaan berdasarkan pemahamannya sendiri.
Guru juga perlu menguji pemahaman bacaan, bukan sekadar menilai apakah siswa mampu menemukan jawaban yang benar.
Ketika anak membaca sebuah buku, misalnya, mereka perlu memahami alur pemikiran penulis, mengenali hubungan antargagasan, dan menjelaskan kembali isi bacaan menggunakan bahasa sendiri.
Kebiasaan menulis dengan tangan juga dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran yang mendorong siswa mengolah informasi secara aktif. Tujuannya bukan menggantikan seluruh teknologi digital, melainkan memastikan anak tetap menguasai keterampilan dasar tanpa bergantung pada alat bantu.
Bagi orang tua, kebiasaan membaca bersama anak dapat dimulai di rumah. Hughes menyarankan agar orang tua terus membacakan buku untuk anak hingga usia yang relatif lanjut, setidaknya sekitar 11 tahun.
Aktivitas tersebut dapat dilanjutkan dengan diskusi mengenai isi buku, pilihan kata, dan alasan di balik tindakan tokoh. Dengan cara ini, anak tidak hanya memperoleh kosakata baru, tetapi juga belajar membangun pemahaman dan mengungkapkan pendapat.
2. Latih kemampuan memecahkan masalah tanpa AI
AI dapat membantu menjelaskan konsep matematika atau menawarkan langkah penyelesaian soal. Namun, siswa tetap perlu memiliki kesempatan untuk menyelesaikan persoalan secara mandiri.
Kemampuan berhitung mental, mengingat informasi, mengenali pola, dan menyusun strategi merupakan bagian dari keterampilan yang perlu dilatih melalui pembelajaran rutin.
Dalam praktiknya, guru dapat meminta siswa menyelesaikan soal matematika tanpa kalkulator atau chatbot sebelum memperkenalkan bantuan teknologi.
Setelah siswa mencoba sendiri, AI dapat digunakan untuk membandingkan metode penyelesaian, memeriksa kemungkinan kesalahan, atau mengeksplorasi pendekatan alternatif.
Urutan ini penting agar teknologi berfungsi sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti proses berpikir.
Pendekatan tersebut juga dapat diterapkan pada mata pelajaran lain. Dalam pelajaran sains, misalnya, siswa dapat diminta menyusun hipotesis dan menjelaskan alasan di balik kesimpulannya sebelum menggunakan AI untuk memperluas pencarian informasi.
Dengan demikian, keberhasilan belajar tidak hanya diukur dari jawaban akhir, tetapi juga dari kemampuan siswa menjelaskan bagaimana jawaban tersebut diperoleh.
3. Perbanyak diskusi, debat, dan ujian lisan
Kemampuan menyampaikan pendapat secara langsung semakin penting ketika banyak aktivitas komunikasi berlangsung melalui perangkat digital.
Hughes menekankan pentingnya diskusi, debat, ujian lisan, dan viva atau ujian lisan untuk menguji pemahaman siswa.
Metode tersebut mendorong anak merespons pertanyaan secara spontan, mempertahankan argumen, mendengarkan pandangan orang lain, dan menyesuaikan penjelasan ketika menghadapi pertanyaan lanjutan.
Guru dapat meminta siswa mempresentasikan hasil penelitian, mempertahankan pendapat dalam debat, atau menjelaskan langkah penyelesaian suatu masalah tanpa membaca jawaban yang telah disiapkan.
Selain menguji penguasaan materi, pendekatan ini membantu guru melihat apakah siswa benar-benar memahami pekerjaannya atau hanya mengandalkan jawaban yang dihasilkan AI.
Diskusi juga melatih kemampuan mengelola beberapa gagasan sekaligus. Siswa harus mengingat pendapat sebelumnya, memahami argumen lawan bicara, lalu menyusun tanggapan yang relevan.
Keterampilan tersebut tidak cukup dikembangkan hanya dengan mengerjakan tugas tertulis atau berinteraksi melalui layar.
4. Gunakan AI secara sengaja, bukan otomatis
Kembali ke dasar pendidikan bukan berarti menolak teknologi. Sebaliknya, AI tetap perlu diperkenalkan sebagai bagian dari proses belajar, tetapi penggunaannya harus memiliki tujuan yang jelas.
Hughes mengingatkan bahwa setiap penerapan teknologi di ruang kelas perlu mempertimbangkan manfaat, risiko, dan kontribusinya terhadap pengalaman belajar.
Guru, misalnya, dapat menggunakan AI untuk membantu siswa mengeksplorasi konsep yang rumit atau memperoleh umpan balik awal terhadap pekerjaannya. Namun, materi dan respons yang dihasilkan sistem perlu diperiksa agar sesuai dengan tujuan pembelajaran dan tidak menyesatkan siswa.
Tutor berbasis AI juga perlu dikurasi oleh tenaga pendidikan yang memahami kebutuhan siswa. Teknologi tidak semestinya digunakan hanya karena tersedia atau dianggap sebagai simbol modernisasi sekolah.
Tugas sekolah pun perlu dirancang dengan mempertimbangkan kenyataan bahwa siswa mungkin memiliki akses terhadap AI. Jika sebuah tugas dapat diselesaikan sepenuhnya dengan menghasilkan jawaban instan, guru perlu memikirkan cara lain untuk menguji pemahaman.
Salah satu caranya adalah menggabungkan tugas tertulis dengan penjelasan lisan, proses pengerjaan di kelas, atau refleksi siswa mengenai langkah-langkah yang mereka ambil.
Dengan pendekatan tersebut, AI tetap dapat dimanfaatkan tanpa menghilangkan peran aktif siswa dalam belajar.
5. Ajarkan literasi AI, data, dan etika teknologi
Keterampilan dasar perlu berjalan beriringan dengan kemampuan memahami teknologi modern. Anak-anak tetap harus belajar bagaimana algoritma bekerja, bagaimana data digunakan, dan bagaimana teknologi memengaruhi kehidupan sosial.
Hughes juga menyoroti pentingnya memahami dampak sosial dan emosional media sosial serta konsekuensi lingkungan dari penggunaan AI.
Pembelajaran mengenai AI karena itu tidak cukup berhenti pada cara menulis perintah atau prompt untuk menghasilkan jawaban. Siswa perlu memahami keterbatasan sistem, memeriksa kebenaran informasi, mengenali potensi bias, dan mempertimbangkan persoalan privasi.
Di bidang sains dan teknologi, pembelajaran STEM juga perlu mendorong kreativitas, pemikiran kritis, dan pertimbangan etis.
Anak perlu memahami bahwa keluaran AI tidak selalu benar dan bahwa tanggung jawab atas keputusan tetap berada pada manusia yang menggunakannya.
Kemampuan tersebut semakin penting ketika AI digunakan untuk mencari informasi, mengerjakan tugas, atau membantu mengambil keputusan.
6. Orang tua dan sekolah perlu memiliki pendekatan yang sejalan
Pembelajaran tidak hanya berlangsung di sekolah. Kebiasaan anak menggunakan teknologi di rumah juga memengaruhi cara mereka belajar dan memproses informasi.
Orang tua dapat membangun kebiasaan membaca bersama, mengajak anak berdiskusi, serta memberi kesempatan kepada mereka untuk menyelesaikan masalah sebelum mencari jawaban melalui perangkat digital.
Ketika anak menggunakan AI untuk mengerjakan tugas, orang tua dapat menanyakan alasan di balik jawaban yang diperoleh, sumber informasi yang digunakan, dan apakah anak mampu menjelaskan kembali materi tersebut tanpa bantuan mesin.
Di sekolah, guru perlu merancang aturan penggunaan AI yang sesuai dengan tujuan setiap mata pelajaran. Ada kegiatan yang lebih efektif dilakukan tanpa teknologi, sementara kegiatan lain dapat memperoleh manfaat dari bantuan AI.
Yang terpenting, sekolah dan keluarga tidak menjadikan larangan sebagai satu-satunya solusi. Anak perlu memahami kapan teknologi membantu pembelajaran dan kapan penggunaannya justru mengurangi kesempatan untuk berpikir secara mandiri.
Bukan menjauhkan anak dari teknologi
Perdebatan mengenai AI dalam pendidikan sering berujung pada dua pilihan ekstrem: mengadopsi teknologi secara luas atau melarangnya di sekolah.
Menurut pendekatan yang disampaikan Hughes, kedua pilihan tersebut tidak cukup menjawab persoalan utama. Pendidikan membutuhkan visi yang jelas mengenai keterampilan yang hendak dikembangkan, metode pengajaran yang sesuai, dan cara menilai hasil belajar.
AI akan terus menjadi bagian dari kehidupan anak, baik di sekolah maupun di rumah. Karena itu, kemampuan menggunakan teknologi harus dibangun bersamaan dengan kemampuan berpikir kritis, membaca secara mendalam, berhitung, berdiskusi, dan memecahkan masalah.
Paradoksnya, semakin canggih teknologi yang tersedia, semakin penting pula penguasaan keterampilan dasar.