Di tengah hiruk pikuk Jakarta yang nyaris tak pernah benar-benar tidur, ada satu momen yang selalu terasa berbeda selepas Lebaran: halal bihalal. Bukan sekadar acara formal dengan sambutan dan foto bersama, tetapi ruang kecil tempat rindu, tawa lama, dan cerita masa lalu kembali menemukan jalannya.
Itulah yang saya rasakan ketika menghadiri halal bihalal Ikatan Alumni Universitas Riau (IKA UNRI) Jabodetabek beberapa waktu lalu. Acara itu bukan hanya tentang berkumpul, melainkan tentang pulang meski hanya sebentar. Seperti kembali ke suasana yang dulu pernah akrab di bangku kuliah.
Sejak memasuki ruangan, nuansa hangat langsung terasa. Ada yang datang membawa keluarga, ada yang masih sibuk bercengkerama dengan teman satu angkatan, ada pula yang baru bertemu lagi setelah bertahun-tahun dipisahkan pekerjaan dan kota. Menariknya, obrolan kami tidak pernah benar-benar berubah. Ada bahasan soal dosen legendaris, cerita organisasi, hingga kenangan tugas yang dulu terasa berat tapi kini justru jadi bahan tertawaan.
Di sela acara, saya menyadari satu hal sederhana: waktu memang berjalan cepat, tetapi relasi yang dibangun dengan tulus ternyata tidak mudah hilang. Justru setelah usia bertambah, momen seperti ini terasa semakin penting. Kita mulai memahami bahwa jaringan pertemanan bukan hanya soal nostalgia, tetapi juga energi emosional yang membuat seseorang tetap merasa terhubung.
Acara halal bihalal itu juga memperlihatkan bagaimana alumni memiliki ikatan yang unik. Tidak perlu bertemu setiap minggu untuk tetap merasa dekat. Kadang cukup satu sapaan, satu candaan lama, lalu suasana cair begitu saja. Rasanya seperti membuka kembali album lama yang penuh cerita.
Yang paling membekas justru bukan bagian seremoni atau sambutan resmi. Bukan pula dokumentasi yang ramai di media sosial. Melainkan momen-momen kecil seperti saling menepuk bahu, tertawa bersama, dan obrolan spontan yang membuat waktu terasa berjalan lebih lambat.
Di era ketika banyak hubungan menjadi serba digital dan cepat berlalu, pertemuan seperti ini terasa makin berharga. Ada rasa bahwa silaturahmi bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi cara sederhana untuk menjaga akar dan mengingat kembali dari mana kita pernah bertumbuh.
Mungkin itu sebabnya halal bihalal selalu punya tempat tersendiri di hati banyak orang Indonesia. Ia bukan hanya budaya selepas Lebaran, tetapi ruang untuk merawat kedekatan yang perlahan mulai jarang kita sempatkan.
Dan sehari di halal bihalal itu mengingatkan saya: kadang yang paling kita butuhkan bukan acara besar, melainkan kesempatan untuk kembali merasa dekat dengan orang-orang yang pernah menjadi bagian penting perjalanan hidup kita.