Sharing Seputar Anugerah Pewarta Astra (APA) Yuk!

 

 

Halo Temans. Apa Kabarnya. Semoga semua sehat adanya. Lama tak menyapa ternyata rindu itu manis ya… 🙂 

Postingan kali ini saya dedikasikan tak sebatas untuk temans yang sedang melirik, tertarik, mengincar, atau tengah bersiap ikut Anugerah Pewarta Astra, tetapi untuk teman semua, para pembaca. Semoga berguna dan jadi nilai tambah ya. 

Jadi ceritanya saya memang sudah lama berencana untuk sharing khusus seputar Anugerah Pewarta Astra ini. Namun, karena sesuatu dan lain hal terutama pekerjaan yang menuntut tenggat jelang tahun berganti, niat itu tak kunjung kesampaian. 

Sampai awal pekan lalu Mas Adhe Albian dari Komunitas ISB meminta untuk mengisi materi #SelasaSharing. Meski tak spesifik menyebut, kurang lebih intinya seputar APA. Nah sekalian, akhirnya tulisan ini jadi deh. Semoga berguna  ya. 

 

Sekilas Ikut APA

Apa sih APA? APA adalah anugerah yang diselenggarakan oleh PT Astra International untuk tulisan dan foto seputar program CSR melalui Kampung Berseri Astra, Desa Sejahtera Astra dan sosok inspiratif penerima Satu Indonesia Award. Kategorinya ada lomba tulis media, umum, foto media dan umum. 

Saya ikut APA sejak pertama kali diadakan 2016. Saat itu tertarik karena tertantang menulis dengan tema human interest. Hadiahnya saat itu belum se-wow sekarang. Ada motor untuk juara pertama. Sedang juara dua dan seterusnya benda elektronik. 

Pada APA 2016, menulis tulisan berjudul “Pesan Hijau dari Puncak Bukit Batu Kasur.” Kurang lebih tulisannya tentang program CSR Astra di daerah Bukit Batu Kasur Cianjur. Ada juga tulisan berjudul “60 Tahun Astra, Menginspirasi Hingga ke Batas Negeri” tentang CSR Astra di Rote, NTT. 

Nah karena ini baru keikutsertaan pertama masih ngambang maunya Astra seperti apa. Jadilah tulisan pertama ini seperti advertorial aksi korporasi ASTRA lewat program CSR. 🙂 

Waktu pengumuman pemenang, tulisan Pesan Hijau mendapat juara harapan, 10 besar. Di sana belajar dari tulisan pemenang. Ada Kang Masruro yang menjadi juara pertama dengan judul “Mengembangkan Payung di Tengah Badai”. Ternyata tulisan ini lebih cair dan tidak terlalu kentara advertorialnya. 

Akhirnya mulai memahami, dan belajar karya seperti apa yang diinginkan Astra. Pada APA 2017 saya ikut lagi. Saat itu kami tinggal di Semarang. Saya mulai mencari tulisan apa yang kuat di sekitar daerah itu. Jadilah dua tulisan, kampung lalu lintas di Kota Semarang dan cerita desa menari di Tanon. 

Saya terinspirasi untuk menulis tentang desa menari karena karakter ceritanya yang kuat. Saat reportase insidental ke sana bersama keluarga kebetulan kami datang tepat di hari ada acara. Ada pertunjukan tari anak-anak. Kebetulan yang luar biasa karena kami datang tanpa janji dan dadakan mengisi libur suami. Alhamdulillah tulisan “Menari dari Generasi ke Generasi,” terpilih sebagai juara ketiga. 

 

Baca Karya untuk APA 2017: Menari dari Generasi ke Generasi

 

Saat seremoni penerima APA 2017. Ada si kecil Arsyad ikut nimbrungdi panggung. 🙂

 

Apa 2018 saya kembali ikut karena penasaran dengan hadiahnya. Setelah riset dan mencari subjek liputan yang kuat, diputuskan untuk pergi ke Pulau Seribu. Berdasarkan riset dari berbagai sumber, di sana program penghijauannya cukup kuat. Ditambah memang isu pencemaran air laut dan sampah sedang jadi sorotan.

Saya berangkat sendiri dengan bekal riset sana sini. Sebelumnya belum pernah menjejak di Pulau Seribu. Jadi anggap saja semacam me time dari rutinitas sehari-hari sebagai mom of three. Tentu saja dengan misi menggali sebanyak mungkin cerita. 🙂

Nah karena ini karena perjalanan sendiri dan menyeberang pulau, saya sudah membuat janji dulu dengan Bu Mahariah yang menjadi penggerak KBA Pulau Pramuka. Oiya, untuk kontak ini temans juga bisa temukan dengan mudah. Di setiap penyelenggaraan panitia APA selalu menyiapkan kontak ini untuk membantu kita. 

Alhamdulillah tulisan berjudul “Tangan-tangan Ibu di Pulau Seribu” menjadi juara pertama.  Pengumumannya Maret 2019. Saat itu saya sedang di Bali ikut kegiatan kampus, Kuliah Kerja Dalam Negeri semacam KKN untuk sarjana. Benar-benar tidak menyangka karena tak mengikuti seremoninya.  Informasi tentang hasil awarding diketahui setelah dimention teman-teman lewat twitter dan IG. 

 

Baca karya APA 2018: Tangan-tangan Ibu di Pulau Seribu 

 

 

Masyallah, Alhamdulillah. Saya sampai tak bisa berkata dan sempat gemetar juga. Mau nangis atau teriak tidak bisa karena sedang di keramaian. Sampai akhirnya  punya waktu menepi ke mushola di Kintamani,  di sana haru dan bahagia tercurah. 

Kurang lebih begitu ceritanya. Oiya apakah selalu menang? Tidak juga. Pada 2019 ikut lagi dan menuliskan cerita berjudul “Kisah Nurman Farieka dan Sepatu Kulit Istimewa.” Tulisan ini bercerita tentang Kang Nurman, penerima Satu Indonesia Award dari Bandung.

Tulisan ini tidak menang. Tetapi penerima Juara Pertama APA 2019 mas Khairul Anwar juga menuliskan cerita tentang sosok yang sama. 🙂 Dari sini jadi belajar lagi. Ternyata untuk menuliskan sosok ada triknya juga agar tidak terlalu berorientasi pada orangnya tetapi perubahan apa yang ingin dicapai. 

Lalu, 2020 ikut lagi dan Alhamdulillah dapat juara 2, persis saat kami di rumah sedang tak ada motor. Motor yang sebelumnya dipunya baru saja dikirim ke kampung untuk kendaraan orang tua. Kebetulan motor bapak sudah rusak parah. Karena lagi pandemi dan jarang ke luar rumah ya kami putuskan motornya dikirim  saja pulang. Alhamdulillah Allah menggantinya lewat APA.

Belajar dari pengalaman 2019 saya kembali mengangkat kisah penerima Satu Indonesia Award. Tapi kali ini tak lagi berkutat pada figurisasi alias fokus pada figur penerima SIA. Tetapi tentang apa yang dia lakukan dan bagaimana dampaknya pada lingkungan. Temans bisa lihat ceritanya di sini.

 

Baca Juga: Terarah Jukung Mengubah Badung 

 

 

Dari pengalaman ikut beberapa kali APA ini, ada banyak pelajaran yang ditemukan. Terutama dalam mengemas dan menyajikan karya yang menarik hati juri. 

Nah, buat temans yang penasaran, berikut coba disarikan beberapa hal penting terkait APA. Betewe, disclaimer on ya temans, penjelasan ini dibuat berdasarkan hasil simpulan sendiri. Jadi silakan kalau temans punya pandangan berbeda. 🙂 

 

Apa saja yang perlu dipersiapkan untuk mengikuti APA? 

Sejauh pengalaman, berikut beberapa hal yang dilakukan selama persiapan mengikuti APA

  1. Pelajari tema besar 

Setiap penyelenggaraan APA biasanya panitia menyediakan tema besar. Sebagai contoh, pada 2018, tema utamanya adalah “Semangat Kampung Indonesia”. Karena temanya tentang kampung maka saya coba riset KBA atau DSA yang kira-kira memiliki cerita yang menarik. Penuh semangat dan memiliki nilai. 

Untuk 2021 ini tema utama APA adalah Tersenyumlah Indonesia. Silakan temans mengira-ngira arahnya ke mana. Pentingnya kita mempelajari tema ini adalah agar ruh tulisan yang kita buat nanti bisa mencerminkan harapan dari penyelenggara, dalam hal ini Astra International. 

 

2) Tentukan cerita dan tokoh/kisah yang kuat

Cara mencari target liputan dengan mempelajari daftar KBA dan DSA dari list panitia. Dari situ saya coba untuk riset kira-kira kampung mana yang terjangkau. Selain itu kita juga bisa mulai mengatur janji dengan narasumber atau orang yang ingin ditemui untuk sumber informasi. 

 

3) Lakukan riset dan reportase

Riset ini penting dilakukan sebelum reportase ke lapangan atau sebelum wawancara dengan narasumber. Hal ini agar tulisan kita bisa menjadi lebih berkembang dan menghasilkan sesuatu yang baru dan sekadar materi yang sudah umum diketahui. 

Semakin banyak riset yang dilakukan maka proses reportase atau wawancara bisa dilakukan dengan lebih mendalam. Reportase bisa dilakukan dengan mendatangi langsung lokasi. Atau karena keterbatasan akibat pandemi juga bisa dilakukan melalui daring. 

Untuk APA 2020 dua karya yang saya sajikan dilakukan dengan wawancara via telepon dan riset reportase via daring. Selain bersumber dari cerita narasumber atau tokoh, kita juga bisa melakukan penggalian melalui video dan foto seputar kegiatan yang dilakukan di subjek sasaran. Bisa dengan meminta dokumentasi pada tokoh yang bersangkutan. 

 

4. Sajikan dengan bertutur

Saya lebih nyaman dengan metode bertutur atau storytelling karena kita bisa punya ruang untuk eksplorasi. Lagipula, bila melihat mekanisme APA 2021, panitia memberi poin khusus untuk penyajian dalam bentuk feature atau indepth reporting. Nah karena yang diminta adalah feature atau indepth reporting maka menulis storytelling akan memberi ruang kita untuk bernarasi lebih mengalir. 

Beberapa hal penting dalam menulis storytelling adalah pemilihan diksi, pembuka yang menarik sampai pemilihan judul yang unik. Untuk temans yang penasaran bagaimana mengemas tulisan storytelling bisa klik di link di bawah ya. 

 

Baca : Seni Memangkan Lomba Blog dengan Storytelling 

 

5) Temukan value

Saat akan menyajikan tulisan ada baiknya kita sudah menemukan value dari kisah yang akan diangkat. Menurut saya ini menjadi poin penting agar tulisan yang kita buat tidak sekadar deskripsi atau malah puja dan puji. Value ini juga penting untuk menghindarkan dari glorifikasi seperti yang saya ceritakan sebelumnya untuk pengalaman tulisan APA 2019. 

Menemukan nilai sebelum kita mengemas tulisan akan membantu kita untuk fokus pada pesan yang ingin disampaikan. Dengan begitu, kita tidak hanya fokus bercerita pada kegiatan dan capaian tetapi juga pada dampaknya.

Sebagai contoh, tulisan Tangan-Tangan Ibu di Pulau Seribu, meski banyak bercerita tentang kegiatan dan kepedulian ibu-ibu di pulau Pramuka tentang sampah, value utamanya tetap terbungkus dalam satu benang merah. Pentingnya penyelamatan laut dari sampah. Agar hewan laut tetap bisa hidup aman, dan manusia terhindar dari bencana ekologi. 

Begitu juga dengan kisah Terarah Jukung Mengubah Badung. Agar terhindar dari glorifikasi akan kisah heroik Merta Yoga dalam menemukan aplikasi untuk membantu nelayan di laut, penting untuk menyajikan dampak sosial dan ekonomi temuannya itu terhadap nelayan di Bali. 

 

***

Well, itu dia ya temans kurang lebih. Selamat berkreativitas. Ada banyak cerita di luar sana yang siap menjadi tulisan ciamik pembawa perubahan.

Tak peduli di mana pun dan siapapun yang menjadi subjek, bila disajikan dengan menarik dan kaya akan nilai tentu akan sangat berguna untuk banyak orang. 

Semoga temans berjodoh dengan salah satu hadiahnya. Tidak perlu takut untuk mencoba, karena kita tak pernah tahu hasilnya. Saya percaya setiap tulisan punya takdirnya. 

Oiya buat temans yang ingin tahu lebih jauh bagaimana mengemas tulisan feature dan agar lebih enak dibaca,  berikut  beberapa tulisan yang bisa jadi acuan.

 

Referensi 1: Mengadopsi Gaya Penulisan Feature untuk Blog 

Referensi 2: [Masih Tentang] Mengadopsi Feature untuk Blog

 

Referensi 3: Yuk Membuat Kalimat Efektif 

 

Semoga berguna ya temans. Feel free bila ada yang ingin didiskusikan bisa DM atau WA ya. 

Good luck! 

 

 

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *