Menemukan Empati di Tengah Pandemi

 

Pandemi akibat virus corona atau Covid-19 telah mengajarkan kita banyak hal. Seketika kehidupan kita berubah. Sejenak sempat berpikir pasrah dan menyerah pada takdir Allah. Lalu, seiring bangkitnya lagi kepercayaan, ketakutan akan bahaya besar yang dibawa virus corona berubah menjadi energi positif baru yang menjalar.

Kita tentu masih ingat bagaimana kehidupan berjalan ketika hari-hari penyebaran virus dari Wuhan ini menggetarkan seluruh dunia. Teriakan Jiayo Wuhan yang viral melalui sosial media sebagai tanda saling menyemangati tak hanya mengalir di kota Wuhan Cina yang saat itu menjadi kota pertama yang harus menjalankan lockdown.

Dari berbagai belahan dunia dukungan mengalir. Memberi semangat saling mendukung. Dan bahwa virus corona bisa dilawan bersama.

Beberapa waktu kemudian, ketika penyebaran virus corona mendunia teriakan saling menyemangati mengalir di seluruh negeri. Para pekerja seni di Italia menggelar konser di beranda Apartemennya agar bisa dinikmati seluruh tetangga tanpa harus berkerumun.

Di Jakarta, dan beberapa kota tanah air, empati itu pun mengalir. Sesaat setelah pemerintah memberlakukan lockdown, berbagai kanal donasi untuk mereka yang terdampak terus mengalir. Penggalangan dana untuk masker, APD untuk tenaga kesehatan, bantuan sembako untuk pekerja serabutan yang mendadak kehilangan pendapatan, dan gerakan traktir ojek online. Ada banyak jenis donasi yang dibuka.

Dan hingga kini, saat penyebaran virus corona masih belum menunjukkan akan berakhir solidaritas untuk bersama melawan covid-19 terus mengalir. Menggalang dukungan untuk terus bersemangat, tidak kendor menggunakan masker dan mematuhi protokol kesehatan.

covid-19

Bagaimana dengan kita?

Bagaimana dengan kita, apa yang kita lakukan saat pandemi melanda? Masih tetap dengan gaya hidup lama, nongkrong dan keluyuran tanpa ingat waktu dan lingkungan. Makan enak dan membuang makanan yang tak disuka. Batuk dan meludah sembarangan kapan dan di manapun yang disuka. Atau bahkan tetap happy-happy pergi ke sana ke mari dengan muka polos tanpa ditutupi masker?

Kitalah yang tahu dan kitalah yang menentukan di mana berada. Namun yang perlu diingat bahwa kita hidup tidak sendiri. Ada keluarga dan lingkungan yang juga hidup saling berdampingan. Bila tak bisa membantu yang lain, paling tidak sayangi diri sendiri.

Bukankah melindungi diri dengan taat pada protokol kesehatan, setia menjaga jarak, tak kendor memakai masker merupakan cara paling sederhana untuk bersama melawan pandemi.

#BersamaLawanCorona

Add a Comment

Your email address will not be published.