Seleksi Beasiswa Unhan, Berbagi Pengalaman dari Persiapan hingga Lulus

Universitas pertahanan

Seleksi beasiswa Universitas Pertahanan bisa dibilang cukup ketat dan menyita energi. Butuh persiapan matang lahir dan batin. 🙂 

***

Halo teman apa kabarnya. Senang bisa menyapa kembali. Kali ini saya akan berbagi pengalaman tentang bagaimana dua tahun yang penuh tantangan selama menjadi mahasiswa S2 di Unhan bermula. Yup. Milestone kehidupan saya selama dua terakhir hingga akhirnya menjadi magister pertahanan bermula dari proses pendaftaran dan seleksi bukan? 🙂 

Sebenarnya sudah agak lama saya ingin menuliskan postingan ini. Tetapi maju mundur terus. Namun karena adanya beberapa pertanyaan yang masuk baik lewat kolom komentar maupun surel, akhirnya saya putuskan untuk jadikan saja sebuah blogpost. Apalagi sekarang memang sedang masa seleksi beasiswa Unhan. Semoga sedikit informasi dari saya bisa membantu teman  semua yang sedang atau akan berjuang untuk masuk unhan.

Aniwei, saat ini Unhan juga membuka kesempatan beasiswa untuk program Sarjana (S1). Begitu juga dengan program doctor (S3). Siapa tahu tulisan ini tetap related dengan persiapan ikut seleksi S1 dan S3. Jadi, taka da salahnya temans baca-baca dulu. 

Baca Juga : Serba Serbi Beasiswa S2 dan S3 Universitas Pertahanan 

Untuk beasiswa S2 Unhan sendiri ada empat jalur masuk. Ada untuk TNI, Polri, Aparatur Sipil Negara alias PNS, dan Umum. Nah berhubung  bukan satu di antara tiga abdi negara (TNI, Polri, PNS) jadilah saya masuk dari jalur umum. Yup, temans bisa bayangkan betapa heterogennya calon mahasiswa dari jalur umum ini. Dari berbagai daerah dan latar belakang pendidikan. Hihi, dan yang baru lulus juga banyak banget…. Tapi tidak perlu gentar. Semangat menjemput jodoh. J  

Agar  bisa dinyatakan lolos sebagai mahasiswa Unhan, temans akan menjalani serangkaian tes. Pendaftaran di Unhan menggunakan sistem gugur. Jadi setiap calon mahasiswa harus bisa melewati setiap tahapan tes sampai tuntas.

Apabila dinyatakan lolos administrasi, bersiaplah untuk mengikuti tes TOEFL dan TPA. Kedua tes ini dilakukan beriringan. Setelah itu bagi yang dinyatakan lolos, akan mengikuti tes psikologi. Tahap selanjutnya adalah tes wawancara. Bila temans dinyatakan lulus tes wawancara, Selamat, tinggal sedikit lagi, yaitu mengikuti tes kesehatan dan melakukan daftar ulang.

Bagaimana pengalaman melalui tahap demi tahap seleksi hingga dinyatakan lulus? Yuks lanjutt…  

Beasiswa Unhan

Persiapan Pendaftaran Beasiswa Unhan

Well, sebenarnya kisah perjalanan di Unhan bermula dari persiapan yang sangat mepet waktu. Mulanya semangat saya maju mundur untuk ikut seleksi. Penyebab utama, temans tentu tahu, saat pengumuman pendaftaran beasiswa dibuka, saya masih sedang rempong-rempongnya dengan tiga malaikat kecil di rumah. Terutama si kecil Arsyad yang belum genap 2 tahun. Namun dengan dorongan pak misua, dan beberapa pertimbangan untuk masa mendatang akhirnya saya bulatkan untuk ambil kesempatan.

Mempersiapkan berkas untuk pendaftaran beasiswa Unhan menurut saya cukup menguras energi. Mungkin karena pengalaman saya yang mengurus serba mepet waktu. Buat temans yang ingin mengikuti seleksi pada tahun ajaran mendatang mungkin bisa mempersiapkan jauh-jauh hari seluruh berkas ini.

Untuk calon mahasiwa yang masuk lewat jalur umum, beberapa berkas penting yang perlu dipersiapkan adalah surat rekomendasi dari atasan untuk yang sudah bekerja, bisa juga dari kampus atau professor untuk yang tidak bekerja. Berhubung saat masa pendaftaran saya posisinya lagi off kerja, akhirnya mengurus surat rekomendasi dari dekan fakultas saat S1 dulu.

 

Beasiswa Unhan

 

Persyaratan lain yang lumayan menyita waktu adalah mengurus surat keterangan sehat dan bebas narkoba. Alasannya, di syarat pendaftaran disebut surat harus berasal dari rumah sakit pemerintah. Nah untuk urusan di RS pemerintah tentu temans tahu prosesnya tak seenak dan secepat kalau di RS Swasta. Harus ikut antrian yang cukup panjang. Oiya, untuk surat keterangan bebas narkoba dan tato saat itu bayarnya lumayan antara Rp150 ribu sampai Rp500 ribu, tergantung rumah sakitnya di mana. Saya mengurus di RSUD Bekasi.

Untuk tes bebas tato juga dilakukan di ruang berbeda sehingga melalui proses lagi. Jadi di rumah sakit saya melakukan 3 tes di 3 tempat dan antrian berbeda, yaitu tes kesehatan, tes bebas narkoba, dan tes bebas tato. Persyaratan lain yang diminta adalah SKCK yang masih berlaku, membuat persepsi atau semacam esai singkat mengenai program studi yang dipilih serta menyiapkan riwayat hidup.

Hal terpenting yang perlu dipersiapkan dengan matang adalah persepsi mengenai program studi yang akan diambil. Esai ini ditulis maksimal dua halaman dengan bahasa inggris. Saya mengambil pilihan pertama Studi Damai dan Resolusi Konflik, sedangkan pilihan kedua adalah Asimetri War. Selain karena memang tertarik dengan dua bidang kajian ini, kebetulan S1 dulu  saya kuliah di jurusan Hubungan Internasional. Jadi memang related dengan kedua prodi ini.

Persepsi yang kita buat hanya untuk pilihan pertama. Jadilah dalam dua lembar itu saya mengingat-ingat pelajaran waktu S1 dulu. Tentang ancaman keamanan nasional dan keamanan internasional. Hihi, semacam mengulang cerita lama tentu saja dengan interpretasi kekinian tentang situasi politik global.

 

Seleksi beasiswa unhan
Persiapan menyambut milestone baru

 

Setelah semua berkas terkumpul termasuk pas foto, selanjutnya adalah melakukan pendaftaran online. Agar prosesnya lancar pastikan internet yang temans pakai lancar ya. Sebab selama pendaftaran online kita harus mengunggah beberapa berkas. Setelah semua berkas terkumpul, waktunya menunggu. Berdoa semoga step pertama berhasil dilalui dengan baik.

Seleksi Unhan: Tes TOEFL dan TPA

Akhirnya masanya tiba. Pengumuman calon mahasiswa yang lulus seleksi adiministrasi terpampang di website Unhan. Oiya, saat itu saya mendaftar pada gelombang kedua. Jadi masa penantian antara pengumuman lulus administrasi dan jadwal Tes TOEFL dan TPA tidak terlalu jauh.

Tes TOEFL dan TPA berlangsung di kampus Unhan Bogor, sedangkan saya tinggal di Cikarang. Akhirnya kami berpikir bagaimana strategi yang baik agar bisa mengikuti seleksi dengan santai dan tidak terburu-buru. Saat itu ada informasi bahwa Unhan menyediakan bus bagi calon mahasiswa yang ingin mengikuti tes dan barangkat dari Jakarta. Bus disediakan di kampus Unhan yang berada di Salemba.

Pikir ini dan itu, saya memutuskan tak mungkin berangkat ujian dari Cikarang di pagi buta. Mengejar jadwal kereta api paling pagi dari Cikarang-Bojong Gede-Unhan rasanya akan menyita energi. Untuk menginap di sekitar kampus Unhan Sentul saat itu belum ada koneksi. Jadilah saya memutuskan menginap di salah satu penginapan tak jauh dari Salemba. Lumayan modal, tapi ga apa demi sesuatu yang sedang diperjuangkan.

 

Beasiswa Unhan
Bus besar sebagai penanda jalan

 

Bus dari Unhan Salemba berangkat pukul 06.00. Rupanya banyak juga calon mahasiswa yang berangkat dari Salemba. Seingat saya saat itu ada 3 bus yang disiapkan. Membaca basmallah, bus bertuliskan Kementerian Pertahanan itu dinaiki. Tak lama menunggu, bus penuh dan kami pun berangkat. Di bus terpampang beberapa wajah tegang. Tak mau ikut larut terbawa mood teman-teman lain saya pilih santai sambil menutup mata. Dan akhirnya terlelap.. Hihi… Bangun-bangun ternyata sudah hampir sampai kampus Unhan.

Tes TPA dan TOEFL dibagi menjadi dua kelompok. Ada yang kebagian tes TPA di hari pertama dan TOEFL di hari kedua, dan sebaliknya. Saya kebagian tes TPA di hari pertama dan TOEFL di hari kedua. Syukurlah agak plong dikit, karena seperti kebanyakan calon peserta saya memang agak deg-degan untuk tes TOEFL ini. Dari hasil baca dan tanya sana-sini, saya mengetahui bahwa untuk lolos nilai minimal untuk TPA adalah 550 dan 500 untuk TOEFL.

 Tes TPA yang diujikan di Unhan tak jauh berbeda dari tes TPA kebanyakan. Kalau temans rajin berlatih dan membaca contoh soal TPA apalagi yang dikeluarkan UI dan Bappenas tentu akan semakin plong rasanya. Ada tes numeric, sinonim, kebahasaan dan logika. Jadi ada baiknya sebelum ikut tes perbanyak kesempatan untuk melahap sebanyak mungkin soal TPA. Hihi, saya sendiri sebetulnya tidak terlalu banyak persiapan untuk kedua tes ini, baik TPA maupun TOEFL. Kerempongan dengan tiga krucils hihi tak usah disebut. 🙂 

Hari kedua lanjut tes TOEFL. Seingat saya ada 100 soal 40 listening, 25  grammar/written expression, 50 soal reading. Saya coba optimalkan mencuri poin di bagian reading karena memang itu yang lebih dikuasai. Sedangkan untuk listening coba semampunya dan konsentrasi.

Oiya temans. Untuk mengikuti baik tes TPA dan TOEFL ini perlu banget kebugaran, Jadi usahakan jangan begadang dan sarapan sebelum berangkat. Tekanannya menurut saya lumayan di awal. Saat sebelum ujian kita disuruh berbaris, lalu mendapat wejangan dari panitia yang rata-rata berseragam militer. Hihi kebayang kan tekanannya. Apalagi saat masuk kelas, seorang bapak berseragam mengumumkan.’ Selama tes jangan ada yang keluar, kalau ada yang meninggalkan ruangan dianggap gugur.”

Deg. Matilah awak. Kalau mau buang air kecil ya tahan saja sampai selesai. Belum lagi kalau ada pak panitia yang iseng dan sedikit bernada tegas dalam menyampaikan aturan. Buat temans yang sedang ga fit bisa dibuat mentalnya jatuh sebelum bertanding. Selain itu ruangan selama ujian juga cukup dingin.

Apapun itu, yang penting sudah berusaha. Selepas mengikuti tes dan mengerjakan dengan maksimal, silakan berdoa. Jika memang berjodoh dengan salah satu bangku di Unhan, insyaallah tak akan ke mana.

Beasiswa Unhan

Seleksi Beasiswa Unhan: Tes Psikologi

Pengumuman yang lolos tes TPA dan TOEFL akhirnya tiba. Jumlah peserta menjadi semakin sedikit. Eits tapi ternyata sedikit untuk gelombang kedua. Rupanya pada tes selanjutnya yaitu tes psikologi digabung antara peserta yang lolos tes TPA dan TOEFL gelombang satu dan dua. Jadilah saya mulai melihat wajah-wajah yang belum ditemui pada tes sebelumnya.

Pada tes ini calon peserta yang berpakaian militer, PNS dan juga polisi mulai kelihatan. Bikin gentar juga melihat bapak-bapak TNI nan gagah bakal duduk bersaing dengan kita di kursi peserta. Belum lagi melihat para calon dari kelompok ASN yang rapi dengan baju kerjanya.  

Kebetulan tes psikologi berlangsung pada saat bulan puasa. Jadilah ini benar-benar ujian mental, hati, dan perut. He.. Seperti tes sebelumnya saya menginap di Salemba dan berangkat ke Unhan Bogor menggunakan bus. Tes berlangsung di gedung BPNB.

Tesnya lumayan panjang. Ada tes Koran, pauli, dan juga pernyataan mengenai rencana tesis, semacam proposal mini. Beberapa pertanyaan juga menguji tentang seberapa serius kita berniat untuk masuk Unhan.

Tes dimulai pukul 08.00 teng dan berakhir pukul 2-an. Karena ini tes mental maka penting menyiapkan segala perlengkapan dengan baik. Pensil, penghapus, dan juga alat tulis lain. Seperti tes sebelumnya, ruangan saat itu menjadi terasa dingin. Entah karena panitia yang memang menyetel AC dengan derajat rendah, entah karena gugup dan deg-degan, entah karena puasa… 🙂

Menurut pengalaman,  untuk mengikuti tes psikologi ini yang diperlukan memang kesiapan mental dan hati. Luar dan dalam. Terutama kepercayaan diri tentang mengapa Anda memilih Unhan?

Seleksi Beasiswa Unhan: Tes Wawancara

Apa yang teman bayangkan saat akan mengikuti tes wawancara, di Unhan pula yang merupakan kampus bela negara. Ya ya…. Pertanyaanya pasti tidak akan jauh-jauh dari urusan pertahanan negara. Paling tidak itu yang sempat terpikir.

Namun, tak mau larut dari tekanan, saya pun mulai mencoba rileks. Tak kenal maka tak sayang, maka mulailah belajar lebih detil tentang apa itu Unhan, apa visi dan misi dan sejarah berdirinya. Ya kali siapa tahu pewawancaranya iseng tanya sejarah Unhan. 🙂

Hari tes itu tiba. Saya mendapat ruang kelas ketiga. Saat itu seingat saya ada 10 kelompok wawancara. Setiap kelompok terdiri dari 10-15 calon mahasiswa. Tes wawancara itu diurut berdasar abjad. Saya bisa bernafas lega karena nama awal huruf I, jadi bukan jadi peserta pertama.

Cukup lama menunggu. Cukup membuat hati sedikit deg-degan. Apalagi hari itu saya tidak sempat sarapan. Sempat terpikir bagaimana ini? Bila dibiarkan sampai siang dengan ketidakpastian, bisa-bisa saat wawancara tiba akhirnya beneran tumbang.

Ga mau membiarkan tekanan menjadi penghalang, saya putuskan untuk pergi dulu ke kantin membeli sesuatu untuk dimakan. Rupanya koperasi dan kantin sepi. Tutup. Saat saya bertanya pada (mungkin mahasiswa) di mana bisa mencari makan, dia menyarankan saya ke lantai dasar, dining house. Logika saya memang seharusnya di sana ada tempat makan karena nama gedungnya adalah dining house.

Maka saya pun turun ke lantai dasar. Rupanya memang ada tempat makan seperti prasmanan di sana. Ibu petugas sedang sibuk berbenah. Saat itu saya kira tempat itu adalah kantin sehingga saya berpikir untuk belanjar. Rupanya itu adalah ruang makan mahasiswa. Semua yang ada disediakan gratis.

Saya tak tahu, tapi si ibu penjaga kemudian mempersilakan makan. Saya diberi pisang juga. Alhamdulillah lega rasanya. Belakangan, saat sudah lulus di Unhan saya menjadi dekat dengan si Ibu. Rupanya dia juga ingat bahwa saya pernah “minta makan’ saat tes di sana. Hihi…

Fasilitas Unhan
Fasilitas Unhan

Kembali lagi ke atas, lantai 3 tempat tes. Lega rasanya ternyata masih giliran di atas saya. Namun rasa lega itu tak lama. RUpanya peserta yang mendapat urutan nama di atas saya tidak hadir, sehingga langsung loncat ke giliran. Jadilah langsung deg-degan karena harus segera masuk ke ruang wawancara.

Ada yang menarik. Saat tes wawancara kita sudah diingatkan oleh panitia, bahwa saat masuk ruangan harus laporan dulu. Iyapp benar. Laporan seperti saat upacara. Mungkin karena ini kampus Unhan jadi semi-semi militer.

Segera ingatan waktu masa sekolah masih aktif jadi pelaksana upacara muncul untuk menguatkan tekad. Di ruangan, sudah ada tiga pewawancara yang menunggu. Salah satunya adalah sekretaris prodi atau sama dengan Kajur di beberapa universitas.

Agak kikuk rasanya, saya pun melapor. Kaki rapat dan memberi hormat. Setelah hormat berbalas, baru deh laporan. Kurang lebih begini

 

“Lapor, saya Ira Guslina Sufa, siap mengikuti Wawancara.”

 

Hihi… kalau dipikir-pikir agak lucu-lucu juga. Kebayang nanti proses perkuliahan juga akan diawali dengan laporan segala macam. Rupanya tidak saudara-saudara itu hanya berlangsung sesaat.

Eits setelah laporan, jangan langsung duduk ya. Tunggu dulu dipersilakan baru duduk. Selanjutnya silakan jawab dengan jujur pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

Ada beberapa jenis pertanyaan yang saat itu diajukan: seputar Unhan, seputar jurusan yang dipilih dan motivasi masuk unhan, wawasan kebangsaan dan isu kekinian, serta sedikit informasi pribadi mengenai keluarga dan latar belakang.

Untuk wawasan tentang Unhan saya ingat waktu itu ditanya Motto Unhan. Walaupun sebelumnya sudah baca, namun karena sifatnya hapalan sesaat ya lupa juga. Hihi, ingatnya waktu itu integritas dan nasionalisme aja. Coba deh ditanya sekarang, pastilah dengan tegas dan lantang akan saya bilang bahwa moto Unha adalah NASIONALISME, IDENTITAS, dan INTEGRITAS.

Pertanyaan lain seputar Unhan misalnya darimana kamu tahu tentang Unhan, dan mengapa kamu mau kuliah di Unhan.

Lanjut ke penanya kedua pertanyaannya lebih beragam, tapi ga jauh-jauh dari urusan bela negara, pertahanan dan keamanan. Misalnya?

  • Apa pendapat Anda tentang HTI? Bagaimana pendapat tentang ISIS?

Langsung deh putar otak, mengingat-ingat kembali isu terkini tentang HTI. Kebetulan memang saat itu masih hangat isu tentang pembubaran HTI. Lalu dengan segala daya mulailah dijawab dan beri sedikit analisa. Kelar urusan HTI jawab deh soal ISIS. Lagi-lagi soal negara.

Nah selanjutnya pertanyaan baru mulai mengarah tentang keilmuwan yang diambil.  Saya ditanya tentang hakekat keamanan dan ancaman keamanan nasional dan internasional dewasa ini. Karena kebetulan dalam persespi mengenai DRK memang saya mengulas mengenai ancaman keamanan ini maka cobalah diurai.

Di luar setelah sesi wawancara saya sempat ngobrol dengan salah satu peserta yang berapi-api bercerita bahwa dia juga ditanya tentang konsepsi keamanan. Lalu keluarlah teori realis, idealis, tentang keamanan. Sedang saya di ruang wawancara lebih menjawab secara praktikal dan analisis dengan sedikit pendekatan teoritis saja.

BEasiswa Unhan

Agak jiper juga mendengar jawaban si teman ini. Namun belakangan, rupanya dia tidak lolos dan kami tidak jadi teman sekelas. Mungkin ini bisa jadi pegangan buat temans yang nanti mengikuti tes wawancara di Unhan. Jangan menjawab terlalu book oriented, cobalah agak sedikit luwes dan analisis. Semoga itu membantu.

Balik lagi ke sesi wawancara. Penanya ketiga lebih banyak bertanya seputar komitmen, bagaimana nanti akan menjadi mahasiswa Unhan. Saya yang sudah beranak tiga tentu saja ditanya, nanti kalau lulus Unhan bagaimana dengan anak2? Yang pasti karena Unhan kuliahnya full senin-minggu, asrama, dll saya jawab dengan kalimat pamungkas.

 

“Saat memutuskan untuk ikut seleksi beasiswa Unhan ini, saya dan keluarga sudah bersiap dengan segala kemungkinan yang akan dijalani nanti.”

 

Berkali-kali pertanyaan yang sama coba diulang-ulang. Dan saya tetap mencoba konsisten.

Terakhir pertanyaan, “kalau kamu tidak lulus nanti, apa rencanamu selanjutnya?”

Spontan saat itu dijawab, “Saat ini saya tak punya dan tidak memikirkan opsi itu Pak. Bagi saya saat ini hanya ada satu opsi yaitu berusaha semampunya untuk lulus di Unhan.”

Hihi, agak sedikit klise mungkin ya. Tapi ya gitu deh, namanya juga usaha. Bayangkan saja, kalau seandainya lagi melamar calon mempelai terus ditanya calon mertua dan jawab gini, “saya akan mencari calon pengantin lain pak.” Hahahaa mungkin langsung ambyar deh acara lamaran. J

Well, cukup lama. Wawancara yang menurut saya lebih terkesan seperti lagi ngobrol dan diskusi ringan. Suasanya menjadi sedikit cair karena beberapa kali saya dan pewawancara tertawa bersama. Hufff, cukup lega rasanya. Dan akhirnya pewawancara yang duduk di tengah mengatakan sudah berakhir.

Seperti amanat panitia saya kembali melapor.

“Lapor, wawancara siap dilaksanakan, laporan selesai.”

Hihi,, langsung deh saya dapat teguran. Bukan siap, tetapi selesai. Saya jadi kebawa dengan suasana di kampung di Padang. Kalau di Padang, kata siap itu berarti sudah.

Setelah senyum sedikit, laporan diulang

“Lapor, wawancara selesai dilaksanakan.”

Laporan diterima, dan kami pun bersalaman. Saya menyalami satu persatu para pewawancara.

Plong selesai sudah. Namun penantian belum berakhir karena harus menunggu pengumuman kelulusan. Oiya, setelah wawancara selanjutnya saya mengukur baju dan seragam. Kata panitia itu belum jaminan lulus 100 persen. Panitia meminta mengukur baju hanya untuk berjaga-jaga.

Baiklah, pengukuran dilakukan. Mulai dari ukuran topi, baju kaos, dan mengukur baju untuk bela negara.

Setelah urusan selesai, saya pun pulang.

Alhamdulillah beberapa waktu kemudian keluarlah pengumuman mahasiswa yang dinyatakan lulus dan bisa mengikuti pemeriksaan kesehatan.

Nama saya masuk di salah satu peserta yang lulus. Sebagai calon Mahasiswa Prodi Damai dan Resolusi Konflik. Sebagai mahasiswa dengan latar belakang Hubungan Internasional tentu saya sangat antusias untuk bisa mengikuti perkuliahan.

Dan ketika masa perkuliahan dimulai, petualangan  baru dimulai. Dengan segala ceritanya. Ditempa menjadi kader intelektual Bela Negara. Sampai akhirnya pertengahan Maret 2020 lalu, masa wisuda itu tiba. Selamat, M.Han.

 

Beasiswa Unhan
Bersama Linda, Mahasiswa Unhan asal Zimbabwe

 

 

 

 

Summary
Seleksi Beasiswa Unhan, Sharing Pengalaman
Article Name
Seleksi Beasiswa Unhan, Sharing Pengalaman
Description
Seleksi beasiswa Universitas Pertahanan menggunakan sistem gugur. Terdiri dari tes TOEFL dan TPA, tes psikologi, tes wawancara, dan tes kesehatan
Author
Publisher Name
dunia biza network
Publisher Logo
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *