Disleksia: Tanda-tanda dan Penanganan yang Perlu Diketahui

Disleksia dan Tanda-tanda dan Penanganan yang Perlu Diketahui

Disleksia adalah perbedaan proses belajar yang membuat penyandangnya mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, dan atau mengeja.

Kondisi ini membuat penyandangnya, terutama pada anak-anak yang sedang menempuh pendidikan formal kesulitan belajar. Dalam beberapa kasus, anak menjadi frustrasi dan tidak dapat mengikuti proses belajar di sekolah.

Kecendrungan anak-anak dengan disleksia lemah dalam proses mempelajari tata bahasa, memori, dan mengurutkan suatu rangkaian.

Disleksia dapat dikenali dengan tanda-tanda sebagai berikut;

  • Kesulitan membedakan huruf yang mirip seperti b/d atau p/q;
  • Kesulitan mengurutkan huruf menjadi rangkaian kata, menafsirkan “pesawat” sebagai “sepawat” atau “buku” sebagai “kubu”; atau
  • Pengurangan huruf dalam kata-kata, seperti membaca “terbang” sebagai “terang”.
  • Beberapa tanda lain termasuk tulisan tangan yang berantakan dan pengurangan huruf atau kalimat ketika membaca naskah.

Meski begitu, disleksia tidak memengaruhi tingkat kecerdasan anak. Seperti anak-anak lain, anak-anak dengan disleksia memiliki kekuatan dan kelemahan yang unik.

Mereka mungkin mengalami kesulitan dalam pengembangan tata bahasa tetapi sangat berbakat di bidang lainnya. Sebagai contoh, seorang anak dengan disleksia dapat memiliki kesulitan untuk menulis dan membaca kata-kata sederhana, namun di saat yang sama sangat pandai dalam musik, olahraga atau seni.

Menurut Dyslexia Association of Singapore (DAS), orang tua dan edukator memiliki peran penting dalam proses belajar anak-anak dengan disleksia. DAS adalah organisasi layanan sosial yang aktif menyediakan beragam layanan untuk individu yang menyandang disleksia, di Singapura dan kawasan sekitarnya.

 Sekolah dapat menjadi mimpi buruk bagi anak-anak dengan disleksia. Tanpa disadari, seorang anak dengan kesulitan belajar sering merasa tidak diinginkan di sekolah bahkan di era sistem pendidikan modern, karena orang-orang di sekitarnya termasuk guru, masih menganggap mereka bodoh atau malas.

Berdasarkan data Dyslexia Association of Singapore (DAS), diperkirakan ada sekitar 10 persen dari total populasi dunia menderita disleksia, sehingga tidak jarang kita akan menemui anak-anak yang mengalami kesulitan belajar akibat disleksia – mungkin saja Ia adalah anak kolega Anda, anak teman Anda atau bahkan anak Anda sendiri.

Berikut adalah beberapa metode yang disarankan oleh DAS untuk mengembangkan kemampuan bahasa dan menemukan talenta anak-anak dengan disleksia:
  1. Mengajar dengan kreatif

Saat berinteraksi dengan anak, gunakan bahasa yang jelas dan sederhana dan hindari penggunaan kata-kata yang sulit. Lakukan kegiatan yang melibatkan berbagai panca indera seperti indera penglihatan, pendengaran, kinestetik, sentuhan, guna membantu perkembangan anak.

  1. Membaca buku

Aktivitas menyenangkan yang dapat dilakukan bersama anak-anak adalah membaca buku! Selain meningkatkan kosakata anak, kegiatan ini dapat membantu mereka membuat model kalimat, bentuk kalimat, dan fonetik.

  1. Membantu mereka untuk fokus

Beberapa anak mungkin menghadapi kesulitan dalam menghafal, berpikir adaptif, dan mengendalikan diri. Untuk itu, dukung proses belajar mereka dengan memberikan alat bantu visual, menyalakan musik background untuk mengurangi gangguan, dan melatih fokus mereka dengan meditasi.

  1. Selalu libatkan mereka

Beri kesempatan bagi mereka untuk bertanggung jawab atas proses belajarnya. Ini dapat dilakukan dengan melibatkan mereka dan menjadikannya peserta aktif. Selain itu, tantang mereka di bidang-bidang dimana mereka memiliki potensi agar kita dapat menemukan dan mengembangkan talentanya.

  1. Jadilah teman yang baik

Mulailah percakapan yang bermakna dengan mereka. Tidak ada cara yang lebih baik dalam memba