Kepak Garuda Penggerak Perempuan Desa

Ada semangat, asa, dan  gelora untuk menjadi berdaya.

 ***

Senyum sumringah terpancar di wajah Ibu Ratna Nurhayati saat saya berkunjung ke rumahnya di Desa Parigi Mekar, Kecamatan Ciseeng, Bogor, Jawa Barat, akhir Desember lalu. Dengan ramah, ia mempersilakan saya duduk. Siang itu Bu Ratna tengah menyiapkan bahan baku untuk membuat keset.

Ia lalu mengambil meja anyam yang tersender di samping rumah. Kain perca kombinasi tiga warna –merah, putih, hitam—sudah tersedia di atas meja anyam. Sembari melanjutkan bercerita, dengan lincah, tangan perempuan paruh baya itu menarik kain satu persatu. Dalam hitungan menit, hula, selembar keset nan apik pun jadi.

“Alhamdulillah, kalau lagi santai biasanya sekali duduk bisa selesai 3 sampai 5 keset. Sehari bisa selesai satu kodi (20),” ujar Bu Ratna berbinar. Satu keset rata-rata dihargai Rp 5.000,-.

Sepuluh tahun lalu, saat mulai membuat keset, ia tak pernah berpikir usahanya bisa berkembang seperti sekarang. Pendapatan sang suami yang saat itu berjualan tahu keliling belum bisa menopang pengembangan usaha. Jangankan berpikir meluaskan pasar, untuk membeli bahan baku saja dia sering harus putar otak. Apalagi, saat itu ia dan suami juga harus menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya.

Dalam kondisi serba terbatas, pada awal 2010,  tersiar kabar dari Balai Desa bahwa ada orang dari Jakarta yang ingin membantu permodalan. Ratna memasang telinga. Ia merasa dapat angin sorga. Apalagi, ia mendengar bahwa bantuan modal, hanya diperuntukkan bagi kelompok ibu.

Sehari setelah kabar tersiar,  petugas yang memperkenalkan diri dari layanan keuangan mikro bernama Amartha tiba ke rumahnya.  Ratna menyambut antusias. Ia lalu diberitahu, agar bisa mendapatkan dukungan dana, para ibu harus membentuk  kelompok kecil yang disebut majelis. Majelis terdiri dari minimal 15 anggota dan harus bersedia mengikuti pelatihan selama seminggu.

 

Bu Ratna bersama perempuan Ciseeng

Ratna menyanggupi syarat yang diminta. Dengan sigap ia mengajak ibu-ibu di sekitar rumah untuk  bergabung. Dalam waktu sehari ia berhasil mengumpulkan 20 orang, lebih dari syarat yang diwajibkan. Bagi Ratna dan para tetangga, kesempatan itu sangat langka karena sebelumnya mereka sulit untuk mengakses bantuan permodalan dari perbankan.

Sesuai yang dijanjikan, selama seminggu, Ratna dan para ibu yang tergabung dalam Majelis Cermai mendapatkan pelatihan. Di situlah mereka menjadi tahu sedikit demi sedikit mengenai tips dan cara mengelola keuangan. Juga mendapat wawasan tentang risiko dan aturan dalam pinjam meminjam di lembaga keuangan. Setelah mendapat bekal, Ratna mendapat dukungan permodalan Rp 500 ribu untuk setahun yang harus dicicil Rp 13 ribu setiap pekan.

Dari situlah ia mulai berpikir untuk serius membuat keset. Bila semula hanya mampu mengolah sekitar 20 kilogram bahan keset dalam sebulan, kini ia bisa memproduksi keset dengan bahan sampai 2 kwintal per bulan. Pada saat menjelang Idul Fitri, sebulan ia bisa menghabiskan 3 kwintal bahan. Dengan pinjaman modal yang kini sudah mencapai Rp 13 juta, Ratna pun kini sudah bisa melibatkan ibu-ibu lain di sekitar untuk memasarkan keset buatannya. Tambahan dukungan modal dari Amartha juga digunakan untuk membantu usaha suami memasok sayur mayur ke pasar di Jakarta Barat.

“Sekarang alhamdulillah sudah jauh lebih baik, anak-anak sudah ada yang kerja dan kuliah. Saya pun kini juga sudah bisa renovasi rumah.”

Bu Ratna, perempuan tamatan SD yang berhasil mengantarkan pendidikan anak hingga sarjana

 

Kabar bahagia akan hadirnya Amartha, tak hanya dirasakan Bu Ratna. Lisda, perempuan yang tergabung di Majelis Jeruk, Desa Parigi, Ciseeng itu juga merupakan mitra Amartha angkatan pertama.   Sama seperti Bu Ratna, uang pinjaman Rp 500 ribu yang ia dapatkan digunakan untuk mengembangkan usaha bibit ikan yang ia geluti.

Akhir 2010, saat bergabung dengan Amartha, dengan modal terbatas ia baru bisa beternak lele. Dengan adanya kucuran dana baru, ia lalu membuat kolam ikan di belakang rumah dan membeli tambahan bibit ikan. Hingga kini, tak hanya lele, Lisda juga beternak bibit ikan hias seperti koi.

Hampir sembilan tahun bergabung menjadi mitra Amartha, usaha Lisda terus berkembang. Dengan pinjaman usaha yang mencapai Rp 12 juta, ia tak lagi hanya beternak bibit lele. Lisda sudah mengembangkan bibit ikan hias seperti koi, groopy, blue neon dan cupang. Jangkauan pasar pun kini berkembang tak lagi hanya di pasar ciseeng tetapi sudah menjangkau Parung dan beberapa pesar di sekitar Jakarta.

“Padahal dulu saya sempat putus harapan, apalagi pernah juga kena musibah semua bibit mati. Alhamdulillah dengan bantuan Amartha bisa bangun lagi (rumah),” ujar Lisda sumringah.

Saat ini  selain mengembangkan usaha Lisda berharap bisa melanjutkan renovasi rumah. Ia ingin anak-anaknya bisa mendapatkan sandang, pangan dan papan yang lebih baik.

 

pembibitan ikan di belakang rumah Bu Lisda

Bagi Ratna dan Lisda, perkenalan dengan Amartha merupakan jalan baru yang mengubah banyak cerita. Ratna yang dulu sulit mendapatkan akses permodalan dari perbankan, kini bisa menjadi pelopor di desanya. Apalagi sudah hampir sepuluh tahun ia dipercaya menjadi ketua Majelis Cermai. Sekaligus menjadi agen yang bertugas mengkoordinir pengumpulan angsuran mingguan para anggota.

Ratna senang bisa membantu para ibu lain untuk terhubung dengan Amartha mendapatkan modal usaha. Para perempuan desa yang dulu hanya menjadi ibu rumah tangga kini mulai banyak yang punya usaha. Ada yang berjualan sayur, keripik, buka toko, usaha ikan, dan juga membuat keset seperti dirinya. Berdasarkan data Amartha, selama 2010 tercatat 190 perempuan Desa Ciseeng yang bergabung menjadi mitra.

Perjalanan yang Mengubah Cerita

Kehadiran Amartha memang telah mengubah cerita hidup banyak perempuan di Ciseeng. Menurut Ratna, hal itu karena sebelum mendapatkan pinjaman para anggota majelis harus “sekolah’ selama seminggu untuk mendapat pelatihan. Dari situ mereka bisa berpikir lebih luas bagaimana menggunakan pinjaman dana dengan bijak.

Namun bagi Ratna, hal yang tak bisa dia lupa, di Amartha ia bertemu dengan sosok muda yang menginspirasi. Walau tak sering berjumpa, pria itu kata Ratna selalu menyelipkan pesan bermakna. Dia, lelaki berdarah Bugis kelahiran 1987 yang menjadi tokoh utama di balik kiprah Amartha bagi perempuan desa.

“Kalau datang ke sini, Mas Taufan Garuda itu selalu ingatkan agar ibu-ibu pintar-pintar menggunakan dana,” ujar Ratna. 

Ya. Andi Taufan Garuda Putra, begitu nama lengkap pemuda itu. Masyarakat Ciseeng lebih ingat ia sebagai Mas Taufan Garuda.

Andi Taufan Garuda Putra, pendiri Amatha, peraih Satu Indonesia Award 2011

Sepuluh tahun lalu, sebuah perjalanan membawa Taufan sampai ke Desa Ciseeng. Saat itu ia baru saja resign dari sebuah perusahaan multinasional yang berpusat di Amerika Serikat. Namun, panggilan untuk bisa berbuat lebih bagi masyarakat membuat ia memilih jalan lain.

Dari Jakarta, Taufan menumpang kereta commuter line (KRL) hingga ke Stasiun Tenjo. Dari situ ia melanjutkan perjalanan berkeliling dengan motor sewaaan menuju desa-desa di sekitar Bogor. Tujuannya hanya satu, mencari desa untuk menjadi lokasi pilot project Amartha, sebuah usaha pembiayaan mikro yang sedang dirintis.

“Pada siang hari, di Desa Ciseeng, saya melihat banyak ibu yang sedang menganyam keset dan tikar di halaman rumah mereka. Saya berdialog dengan ibu-ibu dan menemukan bahwa akses permodalan sangat sulit mereka dapatkan untuk mengembangkan usaha,” jelas Taufan bercerita mengenai latar belakang kehadiran Amartha di Ciseeng.

Hasil diskusi dengan para Ibu, membuat Taufan membulatkan tekad menjadikan Ciseeng sebagai lokasi pilot project pertama Amartha. Sejak awal ia memang ingin memiliki perusahaan pembiayaan yang bisa membantu para perempuan untuk lebih berdaya.

Menurut Taufan, selama ini ia melihat perempuan memiliki keterbatasan terhadap akses permodalan. Padahal ia percaya, dengan memberikan para perempuan kesempatan untuk mengembangkan usaha dan mendapatkan penghasilan lebih, keluarga mereka dapat lebih sejahtera. Selain itu, berdasarkan riset awal yang dilakukan, ia berkesimpulan bahwa perempuan lebih patuh membayar pinjaman daripada laki-laki.

 

mayoritas rumah tangga di Kecamatan Ciseeng punya usaha

 

Ciseeng pun terpilih. Bersama beberapa anggota tim, Taufan lalu membangun komunikasi dengan pemerintah setempat untuk menjajaki peluang. Ia senang, tawaran yang disampaikan mendapat sambutan baik dari masyarakat Ciseeng. Maka setelah itu mulailah tim kecil turun ke RT-RT untuk mencari para ibu yang mau berkelompok dan membentuk majelis.

Bagi Amartha, menyatukan ibu-ibu dalam satu kelompok akan memberikan banyak manfaat. Majelis akan mendorong para ibu untuk saling memotivasi dalam pengembangan usaha. Setiap minggu, para Ibu juga diminta berkumpul untuk berbagi pengalaman sekaligus mengumpulkan angsuran. Sesekali, pertemuan mingguan dimanfaatkan untuk memberikan berbagai pelatihan dan literasi keuangan oleh Business Partner (BP) Amartha kepada para perempuan desa.

“Lewat pertemuan mingguan, para anggota dapat membangun semangat gotong royong untuk saling membantu.” ujar Taufan.

 

Dari Ciseeng untuk Indonesia

Pasar benih ikan Ciseeng

Setahun melakukan pendampingan usaha untuk perempuan desa di Ciseeng, Taufan melihat banyak harapan. Antusias para ibu membuat ia tergerak untuk meluaskan jangkauan Amartha. Hampir semua ibu membayar cicilan tepat waktu. Selain itu, ekonomi desa terlihat semakin bergerak.

Semangat Taufan makin terpantik ketika tahun 2011, setahun sejak Amartha berdiri, ia  terpilih menjadi satu dari enam penerima Satu Indonesia Award yang diselenggarakan PT Astra Internasional. Dedikasi Taufan dalam pendampingan perempuan desa mengganjar ia menjadi penerima award di bidang kewirausahaan.  Satu Indonesia Award merupakan penghargaan yang rutin diselenggarakan PT Astra Internasional untuk memberikan apresiasi kepada sosok inspiratif yang dianggap banyak memberi kontribusi  pada lingkungan dan masyarakat. Saat itu penyelenggaraan Satu Indonesia Award yang kedua.

“Senang mendapatkan apresiasi (Satu Indonesia Award) dan menjadi motivasi bagi Amartha untuk terus berinovasi,” ujar Taufan.

Sejak 2011 ia mulai meluaskan pendanaan untuk desa-desa lain di Bogor. Sampai pada 2015, Amartha yang masih berstatus koperasi berkembang hinga mencakup seluruh wilayah Jawa Barat. Taufan yakin, model pembiayaan yang sudah diterapkan untuk ibu-ibu di Ciseeng dan Jawa Barat bisa diterapkan untuk cakupan yang lebih luas, Indonesia.

“Melihat dampak sosial yang diciptakan Amartha di Desa Ciseeng, mendorong kami untuk terus memberdayakan lebih banyak lagi perempuan pengusaha mikro di seluruh pedesaan di Indonesia.”

Andi Taufan Garuda Putra

 

Menerima Satu Indonesia Award 2011 bidang kewirausahaan

Taufan dan tim Amartha pun mulai berpikir untuk mengembangkan bentuk usaha. Namun tetap pada patron utama;  hanya mendanai usaha produktif, untuk perempuan di pedesaan. Bagi Amartha memberikan bantuan pendanaan untuk perempuan akan berdampak luas karena berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan rumah tangga.

Pada 2016, Amartha yang semula berbentuk koperasi berubah menjadi perusahaan teknologi finansial peer to peer landing yang menghimpun langsung pendanaan dari publik yang bisa disalurkan secara langsung pada mitra Amartha terpilih. Dengan model ini, Amartha memperluas akses pendanaan bagi perempuan di seluruh Indonesia. Di sisi lain, konsep ini memberi alternatif kepada masyarakat perkotaan untuk turut berinvestasi dengan tetap memberikan kontribusi sosial.

Meski telah berkembang menjadi perusahaan kekinian, konsep kelompok melalui majelis dan tanggung renteng yang selama ini dipakai tetap dipertahankan. Tanggung jawab meminjam salah satu anggota menjadi tanggung jawab bersama seluruh anggota majelis. Dengan semangat gotong royong ini pula, Amartha pada 2017 memperluas cakupan untuk seluruh wilayah Jawa.

“Saya ingin terus mewujudkan visi Amartha, kesejahteraan merata bagi Indonesia.”

Tahun ini, Taufan telah membawa Amartha menjangkau lebih banyak perempuan desa Indonesia untuk berdaya. Tak hanya di Jawa, cakupan usaha sudah menjangkau Sulawesi dan Sumatera. Hingga akhir 2019, tercatat lebih dari 350 ribu perempuan bergabung menjadi mitra Amartha. Jumlah kredit yang telah disalurkan pun tak tanggung-tanggung, sudah lebih dari Rp1,5 triliun.

Kini, hampir sepuluh tahun sudah Amartha berdiri. Kepak sayap Garuda tak lagi hanya milik perempuan desa. Kiprah Taufan memberdayakan perempuan membuat Presiden Joko Widodo memilihnya menjadi salah satu staf khusus. Bersama sejumlah sosok muda inspiratif lainnya, ia diharapkan bisa memberi masukan untuk perubahan Indonesia.

Andi Taufan Garuda Putra, lentera di tengah perempuan desa yang ingin tetap berdaya. Foto: doc Amartha

Tak hanya di Indonesia, kiprah Taufan dan Amartha juga tersiar ke mancanegara. Pada Oktober 2019 lalu, Taufan membawa Amartha menerima penghargaan dari UNDP dan beberapa lembaga dunia di Jenewa, Swiss, sebagai perusahaan jasa keuangan yang berdampak meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Amartha juga disebut sebagai perusahaan pembiayaan yang mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) dan berperan aktif dalam pengentasan kemiskinan.

Kepak sayap Garuda telah mendunia. Namun, Taufan tak mau berhenti berkarya. Semangat untuk terus menginspirasi bagi negeri seperti yang menjadi komitmen para penerima Satu Indonesia Award tak pudar dari dadanya.

#KitaSatuIndonesia

#IndonesiaBicaraBaik

***

 

 

 

30 Comments

Leave a Reply to Herva Yulyanti Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *