Menjajal Jalan Darat Lintas Tengah Sumatera, Jakarta-Padang dengan Keluarga Kecil

Pada Agustus 2019 ini satu fase pendidikan terlewati. Sidang judul tesis bersamaan dengan jadwal perkuliahaan yang padat telah rampung dijalani. Untuk itu sebuah keputusan kecil kami buat. Pulang Kampung ke Batipuah, Tanah Datar dan Solok Sumatera Barat akan kami lakukan.

***

Untuk pulang kampung ini diputuskan kami akan menempuh jalur darat. Hanya kami sekelurga kecil. Saya, suami dan Bintang (5,9 y), Azizah (4y) serta Arsyad (2,8y) (Trio BiZA). Perjalanan akan dimulai dari Sentul, Bogor dengan tujuan akhir Batipuah-Tanah Datar, Sumatera Barat. Berdasarkan peta di Google, jarak yang akan kami tempuh sekitar 1.400-an kilometer dengan waktu tempuh 28 jam jika ditempuh non stop.

Dalam perjalanan membelah lintas Sumatera ini hanya suami yang akan menyetir. Jadi kami bergerak seoptimal mungkin dengan berhenti dan mencari penginapan terdekat ketika langit gelap. Dengan skenario hanya berkendara pada siang hari maka perjalanan akan ditempuh selama 3 hari dan 2 malam di penginapan. Persiapan pun kami lakukan, salah satunya mempelajari peta lintas tengah Sumatera. Total jarak tempuh dari Jakarta ke Batipuah adalah 1480 km.

Untuk lintas Sumatera terdiri dari tiga jalur. Lintas Barat, Lintas Tengah dan Lintas Timur. Lintas yang banyak dilewati kendaraan adalah Lintas Tengah dan Lintas Timur karena melewati banyak provinsi dengan penduduk relatif lebih besar. Relatif karena satu provinsi di Sumatera setara dengan gabungan beberapa kabupaten di pulau Jawa…

Berjalan lebih jauh…. menyelam lebih dalam….

Perjalanan hari pertama dimulai pada pukul 06.00 pagi dari Sentul, Bogor. Trio BiZA masih dalam posisi tertidur ketika kami meninggalkan kota hujan. Karena bangku belakang diisi oleh anak-anak, maka mobil city car 5 bangku yang kami kendarai diubah menjadi suasana kamar. Mereka dapat tetap melanjutkan tidur selama perjalanan.

Tidak ada hambatan berarti pada etape pertama. Kami sempat kebingungan ketika memasuki Pelabuhan Merak, Banten karena ini merupakan perjalanan darat pertama dengan keluarga inti. Dari membaca plang rambu, terlihat ada dua jenis dermaga untuk menyeberang ke Bakauheni, Lampung. Dermaga eksekutif serta dermaga biasa.

 

Jalur dermaga eksekutid
Jalur untuk masuk dermaga eksekutif atau dermaga umum di Pelabuhan Merak

 

Kami kemudian memilih jalur di dermaga biasa, tidak ada antrian. Petugas kemudian mengisi data kendaraan dan menanyakan nama penanggung jawab. Untuk kendaraan golongan satu ini maka biaya yang harus di bayar adalah Rp375.000. Tidak ada biaya tambahan per penumpang orang. Seluruh biaya harus dibayar secara non tunai yang tersedia dalam bentuk uang elektronik. Layaknya pintu tol, maka pada pelabuhan semua uang elektronik yang diterbikan bank nasional dapat digunakan.

Untuk uang elektronik, pihak ASDP sebagai pengelola pelabuhan Merak juga menyediakan loket e-money dari Bank Mandiri di gerbang pembayaran. Meski begitu bagi pengguna kartu lainnya atau bagi yang sudah menyadari kekurangan saldo uang elektroniknya dapat menambah setelah keluar dari gerbang Tol Jakarta-Merak. Sepanjang jalan banyak berjejer warung pulsa yang juga agen laku pandai Bank sehingga bisa melakukan penambahan saldo uang elektronik. Jaringan toko ritel modern yang banyak tersebar hingga perumahan juga tersedia sepanjang jalan menuju pintu pelabuhan.

Setelah membayar, dengan mengikuti iringan mobil di depan dan bertanya ke petugas siaga akhirnya kami menuju Dermaga VI. Jumlah antrian pada akhir Agustus itu tidak  terlalu panjang. Pada pukul 09.00 WIB mobil mungil kami sudah berada di dalam lambung kapal untuk menuju Bakauheni, Lampung.

Petugas mengumumkan dari pengeras suara kapal, waktu tempuh penyeberangan dari ujung barat Jawa ke ujung timur Sumatera ini selama 2 jam. Meski begitu dengan antrian, waktu merapat ke dermaga dan proses turun dari kapal, mobil kami baru keluar dari pelabuhan Bakauheni, Lampung pada pukul 12.00 WIB atau dengan kata lain selama 3 jam.

Pada etape ini kami tidak berhenti makan siang karena telah dilakukan di dalam kapal dengan bekal dari rumah. Anak-anak juga berkesempatan menyegarkan diri pada fase ini karena kamar mandi kapal cukup bersih dan ruang tunggu yang nyaman. Suami langsung ambil posisi tidur untuk menjaga stamina.

Suasana di kapal penyeberangan kini jauh lebih nyaman. Anak-anak senang karena bisa ekplorasi alam laut

Bagi penumpang yang menginginkan privasi lebih, pihak kapal juga menyewakan kamar VVIP yang dilengkapi kasur, kursi sofa dan TV layar lebar dengan harga Rp150.000. Untuk menggunakan ruang VVIP ini dapat menghubungi petugas resepsonis atau penjaga keamanan ruangan.

Baca Juga: Pengalaman naik bus ke Padang, Lorena sampai NPM

Kami menggunakan ruang lesehan. Petugas memungut biaya Rp15.000 per orang dewasa dan Rp10.000 untuk anak. Biaya ini sepertinya resmi karena terdapat spanduk besar pada ruangan, juga diberikan karcis oleh petugas.

Meski begitu, untuk fasilitas yang sama dalam perjalanan arus balik dari Bakauheni, Lampung – Merak, Banten, menggunakan kapal berbeda kami tidak dipungut biaya pada fasilitas yang sama. Bahkan pada kapal yang kami lupa catat nama lambungnya itu, lesehan dibuat dengan sekat-sekat kamar dua lantai yang memberi suasana ada ruang lebih privasi antar penumpang.

LINTAS TENGAH

Perjalanan membelah pulau Sumatera kami mulai lewat sedikit dari tengah hari. Begitu turun dari kapal, karena jam istirahat siang, tidak banyak petugas yang terlihat dalam perjalanan mencari gerbang keluar. Meski begitu rambu petunjuk terpampang cukup jelas. Perlahan menyusuri panah petunjuk  serta sejumlah mobil yang lalu lalang akhirnya mobil keluar dari pelabuhan Bakauheni.

Mengikuti rambu dan iringan mobil keluar Pelabuhan Bakauheni

Awalnya kami mengira ada jeda antara pelabuhan Bakauheni dengan gerbang tol Trans Sumatera. Kami berharap dapat mengisi kembali bensin sampai penuh sebelum memulai etape panjang ini. Ternyata gerbang tol Bakauheni tepat di pintu keluar pelabuhan. Akhirnya diputuskan perjalanan langsung masuk ke dalam tol dengan penambahan bensin di area istirahat jalan tol.

Informasi yang kami himpun, etape lanjutan walau belum resmi beroperasi, pengguna dapat menjajal ruas Bakauheni-Tebanggi Besar dan Tebanggi Besar – Kayu Agung pada waktu-waktu tertentu. Apalagi pada akhir Agustus itu dalam sejumlah pemberitaan media online, kondisi tol sudah dapat digunakan namun masih menunggu sertifikat laik operasi dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Jika skenario menempuh jalan tol sampai Kayu Agung ini dapat dilakukan maka kami perkirakan dapat menginap di Palembang pada hari yang sama. Apalagi, kata pedagang  di rest area, kadangkala pintu tol penghubung itu dapat digunakan.

Dengan asumsi etape pertama dapat tembus sampai ke Palembang, maka jarak tempuh ke Padang, menjadi lebih singkat karena cukup 2 hari perjalanan dan satu kali menginap di Palembang.

Skenario kedua, dan akhirnya kami fokuskan ketika berangkat dari Bogor, yakni keluar di Tebanggi Besar dan melanjutkan perjalanan di lintas tengah karena jalan menuju Kayu Agung, Palembang belum dibuka. Maka dengan bantuan dari Google Maps, kami keluar di Kayu Agung dan menuju lintas tengah.

 

Kondisi rest area masih darurat. Sejumlah alat berat sedang mempersiapkan area permanen

Kondisi jalan tol Trans Sumatera ini relatif lancar, belum banyak kendaraan melintas. Jalan tol sepanjang 130 kilometer ini kami lewati dalam 1,5 jam. Di dalam tol sendiri saat kami melintas tersedia SPBU Portabel beserta warung dan toilet darurat. Darurat karena hanya terbuat dari terpal-terpal. Sejumlah alat berat sedang bekerja untuk menyiapkan bangunan rest area permanen. SPBU Portabel sendiri hanya menyediakan jenis bahan bakar Pertamax dan Biosolar. Dari tiga rest area darurat, hanya dua yang masih tersedia bahan bakar ketika kami lewat siang itu. Jadi saran terbaik, pengisian tangki bahan bakar dilakukan sebelum naik ke kapal di pelabuhan Merak, Banten.

Selepas tol, kota pertama yang kami kejar adalah Kotabumi, jarak menuju ujung provinsi Lampung itu 52 km dari gerbang tol Tebanggi Besar. Tidak ada kesan khusus melewati kota. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Baturaja. Perjalanan berhenti pada sore pada pukul 15.30. Anak-anak makan nasi soto, setelah kami berdoa dan memenuhkan kembali tangki bensin.

Suasana bangku belakang, Trio BiZA sibuk bermain dan mewarnai.

 

Kota Baturaja dimasuki setelah pukul 19.00 malam. Kami memilih hotel yang tidak jauh dari jalan Lintas Tengah Sumatera. Hotel ini dipilih menggunakan aplikasi pemesanan hotel online. Rupanya hotel berada di dekat mall terbesar di kota kecil itu. Meski begitu kami tidak jadi singgah dan memilih beristirahat mengumpulkan energi untuk esok hari.

 

ETAPE 2, Baturaja – Sarolangun

Pada hari kedua perjalanan ini, mobil mungil bersama Trio BiZA melaju pada lintas tengah Sumatera  setelah pukul 07.30. Pada pagi hari kami sarapan dari yang disedikan oleh petugas hotel. Juga disempatkan belanja buah segar untuk camilan sepanjang jalan. Pak Suami memesan buah jeruk yang ada kesan asamnya untuk dimakan ketika kantuk menyerang.

Dalam etape ini, kami melaju melewati, Baturaja – Tanjung Enim sejauh 110 km, untuk kemudian melaju ke Muara Enim sejauh 18 km. Pada perjalanan ini Google menyasarkan kami memasuki area kerja Bukit Asam (PTBA). Jalan ini memang lebih singkat secara jarak, namun hanya digunakan oleh mobil perusahaan tambang milik negara itu.

Tanda disasarkan oleh Google bagi pengendara yang melewati lintas tengah ini cukup mudah dikenali, rute yang ditempuh keluar dari jalan Lintas Sumatera yang ramai dan banyak dilintasi kendaraan. Jalan di areal Bukit Asam awalnya rapi khas jalan lingkungan untuk kemudian bertemu dengan jalan berbatu yang digunakan truk berat.

Pesona Sunset dari Jembatan Ampera

Setelah disasarkan oleh Google ini, kami menyadari perusahaan teknologi dari lembah silikon itu masih kekurangan data terhadap Lintas Tengah Sumatera. Untuk itu kami kemudian mengabaikan saran dari Google jika keluar dari jalan raya.

Kota Lahat yang seringkali menjadi momok bagi pengendara berhasil dilewati lepas tengah hari. Jarak dari Muara Enim ke Lahat sejauh 47 km tidak menemukan kendala berarti. Perjalanan kemudian menuju Lubuk Linggau. Pada kota ini kami kembali memenuhkan tangki bahan bakar. Anak-anak disuapi sup daging pada sore itu. Suami sendiri memilih tidur ketika saya menyuapi Trio BiZA setelah kami berdoa di Mushala SPBU.

Rute ini relatif berkelok-kelok dengan kiri kanan ladang sawit atau karet. Jalan hanya cukup untuk dua mobil besar berpapasan. Dalam perjalanan etape ini kami menemukan dua truk besar terguling karena pengerjaan jalan yang tidak sempurna. Posisi aspal tidak rata dengan bahu jalan membuat truk-truk bermuatan berat itu rawan terbalik. Untuk itu penting menjaga jarak dengan truk besar dalam berkendara.

Pemberhentian kami di SPBU untuk istirahat dan memulai perjalanan di awal hari terlalu siang membuat target sampai di Sarolangun pada waktu langit masih terang tidak dapat tercapai. Kami memasuki kota Sarolangun pada pukul 19.30 an. Pada aplikasi pemesanan hotel online, kami merasa kurang pas dengan pilihan yang ada. Maka kami putuskan untuk melakukan pemesanan mencari hotel yang ada dengan menyusuri kota.

Kami memilih hotel yang memiliki parkir, pagar dan petugas keamanan di Sarolangun namun masih berada dalam jalan Lintas Sumatera . Pilihan ini agar tidak was-was selama beristirahat apalagi kami tidak memiliki pengalaman apapun atas kota di Sumatera Selatan itu.

Kampuang Kami Datang

Kampung kami datang, Gerbang batas Jambi – Sumbar.

Perjalanan hari ketiga dimulai dengan matahari telah terang. Kami baru bergerak meninggalkan hotel di Sarolangun sekitar pukul 07.30 setelah anak-anak rampung sarapan dan suami membersihkan ruang dalam mobil. Perjalanan lebih santai karena kami melintasi kota lumayan ramai di Provinsi Jambi. Di Bangko sedang ada pawai menyambut Muharram yang sepertinya dipimpin oleh Wakil Bupati karena ada kendaraan dinas berplat BH 2 xx.

Kota Bangko juga relatif ramai dengan masjid-masjid besar yang memanjakan mata. Kami menikmati kota ini hanya dengan sesapuan mata tanpa berhenti. Perjalanan kemudian berlanjut menuju Muaro Bungo yang masih berjarak 115 kilometer dari titik ini. Sama dengan Bangko, kami Muaro Bungo hanya menikmati kota dengan sesapuan mata.

Bagian dari provinsi Jambi itu, terlihat lebih tertata dari kota-kota yang dilewati lintas tengah namun masuk Sumatera Selatan. Jalanan pada rute ini juga relatif datar dengan teman perjalanan truk-truk bermuatan sawit ataupun kendaraan besar membawa mobil.

Pada rute ini godaan menekan gas lebih dalam menjadi tinggi, namun dengan rute menanjak yang jalan dibaliknya tidak terlihat maka kewaspadaan harus lebih tinggi dengan tidak memaksakan kendaraan melaju. Kami masih dilindungi oleh Allah SWT karena ketika kami memacu truk besar di ujung tanjakan karena suasana sepertinya lengang muncul CRV Putih dari balik.  Syukur pengemudi dari depan sigap turun ke bahu jalan sehingga menghindari kecelakaan yang akan terjadi.

Kami masuk ke Gunung Medan lepas makan siang, suasa jambi berpadu suasana Kampuang sudah terasa begitu melintasi area ini. Sebuah rumah makan kampuang dengan merek kebarat-baratan menjadi pilihan. Pasalnya suasana ang dikesankan lebih rapi dan tidak berjejalan dengan kendaraan bus dan truk lintas Sumatera.

Seperti khasnya rumah makan Padang, yang  enak adalah rumah makan kebanyakan. Bukan tempat resmi perhentian kendaraan. Setelah Ishoma kami kemudian melintasi kota-kota di Sumatera barat mulai dari Kiliranjao, Dharmasraya hingga Sijunjuang.

Karena hari masih siang, kami kemudian memutuskan berbelok ke Sijunjuang untuk kemudian tembus ke Batusangkar, Tanah Datar. Pilihan ini karena ada petunjuk arah yang menyebutkan jarak tempuh ke Tanah datar hanya 43 kilometer. Ternyata jarak dalam peta itu jia ditempuh menjadi lebih jauh ketimbang melewati rute ke Solok untuk kemudian ke Tanah Datar. Medan berbelok dengan pendakian, banyak kampung dan jalan kecil menjadi tantangan untuk melewati jalur ini. Meski begitu rute ini layak dinikmati karena masih menampilkan suasana kampung-kampung rantau khas Sumatera Barat. Rute ini juga menunjukan tradisi bertanam karet juga ada di wilayah ini.

Akhirnya jelang Magrib kami sampai di rumah dan disambut makan malam dengan rendang buatan Amak…

 

KEBUTUHAN SALDO E-Money Jakarta – Padang Via Tol Trans Sumatera :

Jakarta – Merak (via Lingkar Luar) Rp63.000

Bakauheni – Tebanggi Besar (140 Km)  – Rp112.500

Penyebrangan Merak – Bakauheni – Rp375.000

Kebutuhan toll via Tebanggi Besar – Kayu Agung, Palembang (185 km) estimasi Rp1000 per km atau kira – kira Rp185.000 (menunggu peresmian dari pemerintah untuk biaya fixnya)

Kebutuhan Bahan Bakar ; rata-rata berdasarkan catatan ecodrive kami menempuh jarak untuk 1 liter bahan bakar 16 km – 16,3 km.

Jalur Darat Lagi

Sekarang, setelah kami merasakan perjalanan jalur darat sepertinya pilihan pulang via trans sumatera menjadi alternatif yang lumayan. Kalau dipikir-pikir bila tanpa menginap dan dengan dua sopir perjalanan bisa ditempuh dua hari satu malam. Untuk perjalanan rombongan jadi jauh lebih hemat.

Bahkan sekarang, bila butuh kendaraan lebih juga bisa alternatif menyeea mobil. Seperti untuo kebutuhan lebaran. Soal sewa mobil ini saya sering dengar mengenai TRAC, jasa sewa mobil dari Astra. Harganya menurut saya sangat bersahabat. Suami juga sudah berpengalaman menggunakan jasa mereka.

Dulu waktu suami berkantor di Semaeang, kantornya menyediakan mobil dengan model sewa bulanan pada TRAC. Mobil selalu terawat dan mesin terjaga. Apalagi sekarang menyewa mobil dari TRAC jadi lebih mudah karena ada aplikasi onlinenya. Sewa mobil Jakarta Sewa mobil Jakarta ya saya ingatnya TRAC aja.

Seingat saya, syarat untuk meminjam juga tidak terlalu rumit. Menunjukkan SIM A dan mengisi data sesuai kebutuhan. Untuk harga sewa sangat bersaing. Trmans bisa cobe cek sendiri di situsnya. Urusan perawatan mobil yang disewakan, ah saya rasa tak perlu mempertanyakan komitmen Astra. Ya kan… 😊

22 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *