Abrakadabra Ala Keputih

 

Apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar sebuah kampung yang berdiri di atas bekas gunungan sampah? “Ah pasti bau, gersang dan kumuh. Jangankan untuk hidup tenang, untuk mendapatkan air bersih saja pasti susah.”

Bila pikiran itu yang ada di benak, itu dapat diterima. Saya pun hampir berpendapat sama. Sebelum akhirnya menjejak di Keputih. Kampung yang berada di bekas tempat pembuangan sampah akhir di pinggir Kota  Surabaya.

***

Matahari baru tergelincir ketika saya menjejakkan kaki di Desa Keputih, Sukolilo, Rabu, pekan terakhir Oktober 2018. Cahayanya begitu terik. Perjalanan membonceng ojek motor  sekitar 40 menit  dari penginapan tak jauh dari gedung Balai Kota Surabaya membuat badan cepat berkeringat.

Untungnya, rasa gerah dapat berlalu. Begitu masuk gerbang Desa Keputih, suasana segar dan asri langsung menyapa. Deretan tanaman hias tertata rapi di depan rumah warga. Begitu pula di jalan sepanjang gang. Pada beberapa titik, tanaman merambat berwarna hijau dan tanaman bunga ditata apik berbentuk seperti gapura.

 

Bersih: Gerbang menuju kampung Keputih tertata rapi dan asri

Begitu sampai di desa, bangunan rumah yang sebagian besar masih semi permanen, dengan dinding kayu dan ukuran yang tak sebegitu luas. Dalam keterbatasan itu, tanaman hijau memenuhi seluruh gang yang hari itu saya lalui.

Segarnya suasana di Keputih, membuat saya lupa dengan hawa panas dan gerah yang dirasakan sejak berkunjung ke Surabaya. Pemandangan hijau itu begitu kontras bila dibanding keadaan di sekeliling kampung. Sebelum sampai ke gerbang desa, kita harus melewati bekas gunungan sampah yang gersang. Tanah kosong dibiarkan terbuka. Apalagi, selama beberapa hari berada di Kota Pahlawan,  hujan tak sekalipun jatuh ke bumi. Makanya ketika seorang sahabat merekomendasikan agar menyempatkan diri datang ke Keputih, saya langsung antusias.

“Kalau mau mencari inspirasi, menemukan sisi lain Surabaya, datanglah ke Keputih. Kamu akan menemukan mutiara di sana.”

 

Hijau dan asri; Lahan pekarangan yang sempit tidak menjadi halangan bagi warga untuk melakukan penghijauan di halaman rumah

Yap.. Keputih memang mutiara. Ia telah menyihir sejak pertama tiba. Kehangatan warga saat menyapa menjadi nilai tambah buat saya. Beberapa warga yang duduk di beranda, langsung melayangkan senyum ketika disapa. Mereka dengan ramah mempersilakan saya ikut bergabung di tengah-tengah warga yang berkumpul. Tak ada kesan curiga dari wajah mereka.

Ajakan itu tak mau saya sia-siakan. Segera bergabung dengan mereka yang tengah bercengkerama. Tak perlu menunggu lama, ketika dipancing dengan pertanyaan pembuka, cerita-cerita mengenai kehidupan masyarakat Keputih dulu dan sekarang mengalir dengan cepat.

“Kalau Mba ke sini sepuluh tahun lalu, pasti ketemunya sampah dan rumah yang kumuh,” ujar Sumi, salah seorang Ibu.

Haru Biru Masa Lalu

Keputih hari ini sangat jauh berbeda dengan masa lalu. Kala itu, semua serba kumuh dan tak terawat. Bu Titik, salah seorang warga bercerita, dulu ia hidup dalam keterbatasan. Belum ada gang licin seperti sekarang. Jalanan antar gang hanyalah jalan tanah.

Penerangan pun masih seadanya. Jangankan untuk lampu jalan, untuk penerangan rumah saja beberapa warga harus menumpang ke tetangga. Waktu itu masyarakat sama sekali belum berpikir untuk membuat taman di depan rumah. Setiap hari mereka harus berhadapan dengan lalat dan bau menyengat dari tempat pembuangan sampah yang mengepung Kampung Keputih. Setiap hari, lebih dari 5.000 ton sampah Surabaya diboyong ke sini.

“Bila musim hujan datang, jalanan becek dan berlumpur.  Bau menyengat dari TPA makin menyerbu rumah warga,” ujar Bu Titik mengenang.

 

Kontras. Kiri atas: Gunungan sampah TPA,  Kiri bawah : Bekas gunungann sampah di sekeliling Kampung Keputih. Kanan: Pagar penanda memasuki kawasan kampung keputih

 

Di tengah kepungan sampah itu, masyarakat mengalami kelangkaan air bersih. Pak Gatot, penduduk kampung yang sudah tinggal lebih dari tiga dekade di Keputih, bercerita, untuk mendapatkan air bersih ia bersama warga harus berjuang. Berjalan hingga dua kilometer sambil mendorong geledek berisi 4-8 jerigen air.

Bila kebutuhan air sedang banyak, bisa dua kali sehari ia menjemput air. Ada pula warga yang memanfaatkan kesempatan untuk menyediakan jasa penjemputan air. Saat itu tak banyak yang memiliki sumur sendiri. Kalaupun  ada, kualitas airnya tidaklah bagus.

 

“Air bersih sangat sulit. Mengharapkan air sumur tidaklah mungkin karena tanah di sini sudah tercemar limbah sampah,” ujar Pak Gatot.

 

Tak hanya Pak Gatot, hampir seluruh warga Keputih kala itu setiap hari bolak balik ke kampung seberang untuk mendapatkan air bersih. Tua, muda, laki-laki dan perempuan. Saat itu, di Keputih belum ada akses air bersih.

 

Berjuang mendapatkan air; Pak Gatot dan gledek air yang biasa dipakai

Masa kelam itu terus bergulir sampai pada 2001, pemerintah Kota Surabaya  memutuskan penutupan Tempat Pembuangan Sampah Keputih Sukolilo. Di satu sisi penutupan ini mematikan kehidupan masyarakat yang mayoritas adalah pemulung. Namun di sisi lain, mulai ada harapan untuk memiliki kampung yang lebih manusiawi.

Ketika TPA akhirnya benar-benar dinonaktifkan, pikiran-pikiran untuk pembenahan kampung mulai bergulir. Gagasan itu menguat ketika salah seorang putra terbaik dari kampung itu, Pak Tri Prayitno pulang kampung. Ia menyebutkan merasa terpanggil untuk turut bersama warga membenahi tanah kelahirannya.

“Saya terenyuh melihat kondisi kampung. Saya berpikir pasti ada hal yang bisa dilakukan, paling tidak untuk membuat orang tua dan kerabat senang,” ujar Pak Tri siang itu.

Pak Tri Prayitno, salah satu penggerak di Kampung keputih Sukolilo

Bersama beberapa warga, pembicarakan untuk mengubah wajah kampung beserta langkah-langkah yang harus dilakukan terus dimatangkan. Mereka ingin menghapus stereotip yang melekat ketika itu bahwa Kampung Keputih adalah kampung kumuh dan miskin.

Melalui rembug bersama, warga akhirnya sepakat, sudah saatnya bangkit. Mereka mulai aktif mengikuti beberapa kegiatan yang dilakukan oleh kelurahan dan kecamatan. Salah satu kegiatan yang menarik minat adalah lomba kebersihan dan kampung hijau.

Untuk bisa mencuri hati, tak ada jalan lain, Keputih harus segera dihijaukan, Meski begitu menurut Pak Tri pada awalnya tak mudah menyatukan semangat warga. Apalagi saat itu masyarakat belum terbiasa dengan program penghijauan dan kebersihan.

“Jangankan untuk penghijauan, saat itu warga masih memikirkan kebutuhan hidup harian,” ujar Pak Tri.

Mencermati keadaan, pada masa-masa awal ia bersama tim lebih banyak memberikan contoh. Memulai dari lingkungan sendiri untuk kemudian mendorong agar diikuti oleh masyarakat lain.

Gerakan menanam dan membersihkan lingkungan itu di kemudian hari mendapat perhatian warga lebih luas. Apalagi gerakan dari masyarakat Kampung Keputih mulai menuai hasil. Mereka mulai berhasil mencuri perhatian dan memenangi lomba kebersihan di tingkat kelurahan.

Namun, di tengah semangat menghijaukan kampung dan menghadirkan lingkungan yang sehat, masyarakat tersadar bahwa mereka memiliki satu kendala besar.  Yap. Warga tak punya sumber air bersih!

 

Air Bersih untuk Keputih

Warga bersemangat membawa air untuk kebutuhan mencuci dan menyiram tanaman

Dritttt, driitttt, drittt, gerobak kayu bermuatan delapan jerigen air berderit-derit tak jauh dari tempat saya duduk bersama beberapa warga. Seorang perempuan terlihat bersemangat mendorongnya. Tak jauh dari gerobak, gadis kecil mengiringi dengan riang gembira.

“Ini bawa airnya dari mushola,” ujar perempuan itu sambil tersenyum saat berhenti.

Rupanya rumah ibu muda itu berada tak jauh dari tempat saya dan beberapa ibu lain berkumpul. Hampir setiap sore ia ke mushola untuk menjemput air. Air itu akan digunakan untuk keperluan cuci dan kakus di rumah.

Berbeda dengan sepuluh tahun lalu, kini air bersih telah mengalir di Keputih. Ada air dari aliran Perusahaan Daerah Air Minum, dan adapula air yang berasal dari mesin penjernih air milik warga. Namun kini, menurut Pak Gatot, air dari PDAM tidak terlalu lancar sehingga umtuk kebutuhan harian warga lebih banyak menggunakan air yang telah diolah di mesin penjernih air.

Dahulu ketika air masih sulit, masyarakat memanfaatkan air hujan yang ditampung di tandon. Namun, bila musim kemarau maka tak banyak air bisa ditampung. Saat itu warga membeli air bersih yang biasa dijual. Untuk mendapatkan 1 tangki air bersih warga harus merogoh kocek hingga Rp50.000.  Bagi masyarakat yang saat itu mayoritas bekerja sebagai pemulung, uang Rp50.000 adalah jumlah yang besar.

Bila tak ingin merogoh kocek, maka harus berjalan sejauh hampir dua kilometer seperti yang biasa dilakukan Pak Gatot. Untuk kebutuhan harian seperti mencuci, dan mandi, warga memanfaatkan air sumur. Tapi kondisi air sumur di Keputih sangat jauh dari layak. Sebagai daerah bekas pembuangan sampah, air di Keputih sudah tercemar limbah B3 dan limbah berbahaya lainnya.

Pada 2008, warga kembali mengadakan rapat besar. Mereka membicarakan solusi mengatasi krisis air. Akhirnya disepakati untuk mengajukan proposal kepada pemerintah setempat dan PDAM agar dibangun jaringan air bersih ke Keputih. Namun, saat itu proposal warga tak bisa diterima karena terkendala legalitas status tanah. Pada tahun berikutnya, usulan warga mulai mendapatkan titik terang.

“Pihak PDAM mau menyiapkan pengairan ke Keputih dan mau menyiapkan jalurnya sepanjang mendapat izin dari pemiliknya. Selain itu pihak PDAM meminta agar master of meter tetap dipasang di atas tanah legal.”

Warga berunding kembali. Mereka lalu menemukan tempat dan mendapat izin untuk pemasangan master meter. Dan mulailah air bersih mengalir ke Keputih. Namun pada saat itu warga masih sering mengeluh lantaran air PDAM yang sampai ke Keputih tidak lancar.

Air sumber kehidupan warga

 

Memasuki tahun 2010, pola kehidupan masyarakat mulai berubah. Keinginan untuk berbuat lebih untuk kemajuan kampung mulai tertanam. Menurut Pak Tri, saat itu beberapa warga mulai berinisiatif untuk menggerakkan warga mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan pemerintah.

Di antara banyak perlombaan yang digelar, masyarakat fokus untuk mengikuti lomba kebersihan kampung. Pengalaman hidup dalam gundukan sampah memotivasi mereka untuk membuktikan bahwa masyarakat Keputih juga bisa hidup bersih. Maka, rumah-rumah mulai ditata. Kebersihan benar-benar dijaga. Tanah tidak dibiarkan berumput. Dan sampah tak dibiarkan berserak.

Hasil tak menghianati proses. Kegigihan warga untuk bersama-sama membangun kampung membuahkan hasil. Pada beberapa perlombaan terutama yang berkaitan dengan kampung bersih, warga keputih selalu bisa meraih juara. Kalau tidak juara pertama yakedua atau juara ketiga. Hampir setiap tahun mereka langganan juara.

Kebersamaan dan kuatnya tekad warga untuk berubah ini kabarnya kemudian sampai pada pihak ketiga. Pada awal 2013, Grup Astra yang sedang gencar mengembangkan program kemitraan melalui program corporate social responsibility (CSR) melirik Keputih sebagai kampung yang potensial untuk dibina. Apalagi mereka melihat, di sini warga sangat bersemangat untuk bergerak.

“Kami menyambut kedatangan Astra, tapi saat itu saya dan beberapa warga bersepakat, bila ingin membantu, Astra tak boleh mengajarkan warga dengan bantuan berupa uang.” kenang Pak tri.

Keinginan Pak Tri dan mayoritas warga Keputih ternyata sejalan dengan program Astra. Mengembangkan program kemitraan dengan desa, Astra ingin membangun semangat untuk berdaya. Maka perusahaan yang tersebar dalam beragam sektor itu kemudian melempar pertanyaan. Apa yang bisa dibantu?

Pertanyaan dari Astra dijawab tegas oleh warga. Mereka tak  butuh uang. Warga meminta Astra turut membantu dan memfasilitasi pengembangan kampung hijau. Maka akhirnya, kerjasama kemitraan itu terbangun. Perusahaan  mendukung warga dengan menyediakan 6 ribu lebih bibit tanaman untuk perkebunan seperti terong, tomat, cabe.

Bantuan itu disambut warga. Mereka bersuka cita membagi bibit dan menanamnya di depan rumah masing-masing. Tapi masalah lama datang. Lagi-lagi persoalan air. Saat itu musim kemarau. Warga kesulitan mendapatkan air untuk menyiram tanaman yang sedang ditata. Hambatan itu disampaikan pada perusahaan hingga akhirnya Astra mengganti bibit yang mati.

“Saat itu saya sampaikan pada warga, mampu ga? Dan semua mengatakan mampu,” ujar Pak Tri.

Penambahan bibit baru itu disambut antusias warga. Mereka bersepakat bergiliran setiap hari membawakan air dengan timba. Pada mulanya tanaman yang ditanam bertumbuh dengan subur. Namun, lama-kelamaan beberapa tanaman mulai mati. Akhirnya, warga kembali berembuk.

Pada akhir 2013 atas hasil musyawarah warga, Astra menawarkan solusi, menyediakan dua hal yaitu water treatment plant (WTP) dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

ATAS : Instalasi dan bak penampungan air di area WTP bantuan Astra, Kanan bawah, WC Komunal warga.

 

Kerjasama kolaborasi dengan Astra ini disambut hangat warga.  Pada mulanya air dari WTP diharapkan bisa masuk ke rumah-rumah warga melalui pipanisasi. Namun, karena keterbatasan akhirnya disepakati terdapat dua master meter yang diletakkan di dua lokasi berbeda, di lapangan desa, dan di mushola. Sebagai tambahan untuk kebutuhan menyiram tanaman di mushola juga dibangun IPAL.

Penjernihan di WTP memanfaatkan air Sungai Jagir yang biasa dikenal warga sebagai Sungai Londo. Sungai ini melintas di Keputih. Air sungai di pompa masuk ke area penjernihan. Air yang masuk kemudian disaring untuk memisahkan dari sampah lalu diolah di mesin  penjernih.

Di bak penampungan utama inilah air dijernihkan dengan tawas dan zat lain yang dibutuhkan untuk membersihkan. Setidaknya ada 4 proses yang dilalui sampai akhirnya air bisa dimanfaatkan oleh warga.

Air yang sudah jernih ini bisa dimanfaatkan warga melalui dua kran utama yang terdapat di dekat WTP dan di mushola. Untuk di mushola, selain kran air dari hasil WTP juga ada kran air hasil IPAL. Air IPAL merupakan air bekas wudhu yang diolah lagi, disaring dan dijernihkan kemudian ditampung di tandon yang berada di atas mushola. Secara kualitas air ini tidaklah layak konsumsi, namun bisa digunakan untuk membasuh kaki, tangan, dan dimanfaatkan untuk kebutuhan menyiram tanaman.

 

Air dari IPAL di mushola bisa dimanfaatkan untuk menyiram tanaman warga

Tersedianya pasokan air, ditambah semangat warga untuk membuat tanaman yang ditanam tumbuh makin subur. Kampung Keputih pun berubah menjadi kampung yang asri dan sejuk. Berdiri di tengah bekas gunungan sampah, kampung ini jauh dari kata gerah. Hijau di mana-mana. Upaya masyarakat mewujudkan kampung hijau ini mendapat perhatian dan penghargaan dari pemerintah. Bahkan semenjak 2013, Kampung Keputih, Sukolilo selalu menyabet juara untuk lomba kampung Green dan Clean tingkat Kota Surabaya.

Mengolah Sampah Menjadi Berkah

Tak berhenti sampai pada urusan air, warga kemudian berpikir bagaimana caranya mengolah sampah yang ada bisa bernilai ekonomi tinggi.  Upaya mengolah sampah rumah tangga menjadi kompos mulai disiapkan. Harapannya pupuk kompos hasil pengolahan bisa dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman yang mereka tanam.

“Tanah di sini unsur haranya sangat kurang sehingga waktu itu kami merasa perlu ada intervensi untuk menyuburkan tanah misalnya dengan kompos,” ujar Pak Tri.

Gayung bersambut, semangat itu diaminkan Astra. Pada 2015, saat perusahaan meningkatkan status kerjasama dengan masyarakat Keputih dari kampung hijau menjadi  Kampung Berseri,  Astra membantu warga dengan menyediakan komposter. Juga ada rumah kompos yang berdiri tak jauh dari instalasi WTP. Di rumah inilah proses pembuatan kompos berlangsung.

 

Rumah kompos dan medium tanam hidroponik

 

Pada mulanya warga kesulitan dalam membuat kompos. Mereka belum berpengalaman. Di sanalah Astra kembali hadir. Melalui program pembinaan, perusahaan mendatangkan tenaga ahli untuk memberi penyuluhan pada warga mengenai cara mengolah dan memanfaatkan kompos.

Untuk mendukung program Rumah Sampah, warga kemudian bersepakat mengumpulkan sampah rumah tangga. Baik organik dan non organik. Sampah organik yang berasal dari limbah rumah tangga dimanfaatkan untuk pembuatan kompos. Sedangkan sampah non organik seperti plastik dan botol dikumpulkan, ditimbang dan kemudian dihargai dengan nilai yang pantas.

Untuk memudahkan penghitungan mereka mendirikan Bank Sampah bernama Srikandi. Sama seperti lazimnya sebuah bank, di sini juga menerima setoran. Hanya saja bentuknya berupa sampah. Setoran sampah dilakukan sekali seminggu. Warga mengantarkan sampah yang telah dikumpul selama sepekan, kemudian ditimbang dan dihargai perkilonya mulai dari Rp1.200. Hasilnya dimasukkan dalam tabungan.

Untuk bisa menjadi nasabah Bank Sampah, siapa saja warga boleh ikut. Saat ini tercatat lebih dari 50 warga yang rutin menjadi nasabah Bank Sampah. Uang hasil setoran biasanya dibiarkan disimpan. Tidak diambil begitu saja. Bu tatiek, salah seorang warga menyebutkan uang sampah sengaja disimpan untuk keperluan yang besar. “Bisa saja nanti untuk anak sekolah, atau bisa juga untuk keperluan mendadak,” ujarnya.

Bank sampah Srikandi, Buku tabungan sampah dan proses penimbangan sampah

Sejak Bank Sampah berdiri, semangat warga untuk mengumpulkan sampah plastik dan botol makin besar. Selain bisa menghasilkan, semangat ini membuat mereka makin sadar untuk memelihara lingkungan. Karena alasan itu, biasanya warga secara spontan akan memungut melihat ada sampah yang terserak di gang kampung. Kampung Keputih menjadi benar-benar bersih.

Di tengah semangat menjaga lingkungan ini, ada satu keinginan warga yang masih terpendam. Mereka melihat peluang untuk menambah nilai keekonomian dari kompos yang sudah dibuat. Andai produksinya bisa ditambah, mereka bisa menghasilkan kompos tidak hanya untuk kebutuhan warga tetapi bisa untuk dijual. Pak Tri dan beberapa warga sudah menjajaki kemungkinan itu. Dan mereka melihat celah pasar.

“Makanya sekarang kami berencana meningkatkan produksi kompos supaya bisa bernilai ekonomi. Kami sudah cari penampung, sehingga ketika produksinya ditambah sudah ada pihak yang mau membeli,” ujar Pak Tri.

 

Dari Lingkungan Hingga Pendidikan

Lingkungan ramah anak di Keputih

Berhasil membangun citra menjadi kampung yang asri dan bersih, memacu warga untuk terus bertumbuh. Keinginan untuk mandiri di bidang ekonomi pun meningkat. Apalagi sejak hadirnya Astra di Keputih, warga mulai sering mendapat pelatihan kewirausahaan.

Pada 2017, beberapa warga mendapat pelatihan budidaya jamur. Pada tahap awal setelah pelatihan, hasilnya bahkan cukup memuaskan. Untuk keperluan budidaya, warga menyiapkan tempat khusus yang disebut Rumah Jamur. Di sini proses pembibitan, pemeliharaan hingga pemanenan dilangsungkan. Seiring bertambahnya pengalaman, tingkat produksi jamur terus meningkat. Pak Heru yang dipercaya menjadi pengelola Rumah Jamur memasarkan untuk kebutuhan warga sekitar. Saat ini baru cukup untuk kebutuhan pemeliharaan rumah jamur.

Rumah Jamur menjadi salah satu sentra UMKM di Keputih yang cukup menghasilkan

 

Seiring meningkatnya kemandirian warga, kesadaran akan pentingnya kesehatan dan pendidikan juga meningkat. Sejak 2015, warga rutin melakukan posyandu untuk mengontrol perkembangan balita, anak, dan ibu hamil. Selain itu posyandu untuk lansia juga digelar.

Demi mendorong tingkat kesehatan warga ini, Astra juga memberikan dukungan pemeriksaan mata gratis. Program ini sangat membantu terutama bagi anak sekolah yang mengalami masalah dengan penglihatan. Saat ini sudah banyak warga Keputih yang merasakan manfaat pemeriksaan mata gratis. Tak hanya lingkungan, ekonomi dan kesehatan, bidang pendidikan pun juga menjadi perhatian. Bagi masyarakat Keputih, perbaikan di bidang pendidikan merupakan impian hampir semua orang.

 

“Kami di sini banyak yang putus sekolah, makanya kami akan sangat antusias bila ada yang membantu di bidang pendidikan. Karena lewat pendidikan kami bisa mengubah kampung ini menjadi lebih baik,” ujar Pak Tri.

Kelompok ibu, lansia, balita dan anak merupakan kelompok yang menjadi prioritas dalam program kesehatan. Rumah Pintar menjadi sentra kegiatan warga

 

Untuk memudahkan proses transfer ilmu, balai warga pun disulap menjadi bangunan dua lantai permanen. Salah satu ruangan dijadikan rumah pintar, tempat anak-anak membaca buku cerita yang disumbangkan Astra. Di rumah pintar ini pula biasa diadakan rapat warga dan pelatihan untuk warga. Silih berganti, fasilitator dari berbagai bidang ilmu datang dan pergi untuk meningkatkan kapasitas masyarakat Keputih agar semakin berdaya dan mandiri.

 

Kampung Berseri 

Kampung berseri, menginspirasi hingga pelosok negeri

 

Perubahan tak datang dengan sendirinya. Kebersamaan dan tekad bulat warga keputih menjadi desa lebih mandiri, memberi harapan. Bukan sekadar harapan, tapi di sana juga ada masa depan.

Pengalaman bertahun-tahun hidup di tengah gunungan sampah, memotivasi warga untuk berubah. Di tingkat nasional masyarakat Kampung Keputih boleh berbangga.  Pada 2017 lalu Kementerian Sosial mengapresiasi semangat masyarakat Keputih dan menjadikan mereka sebagai kampung percontohan.

Ya. Abrakadabra! Kampung Keputih kini berubah. Bersama Astra masyarakat terus berbenah. Semangat kemandirian dan kerjasama warga membuat Keputih berbeda. Mewujudkan kampung berseri yang menjadi tempat nyaman untuk ditinggali. Menjadi satu di antara 77 Kampung Berseri Astra yang membawa semangat perubahan ke seluruh penjuru negeri.

“Cukup kami yang pernah hidup di antara sampah. Kampung Keputih harus terus berubah, menjadi kampung asri dan bisa dikenal banyak orang, Menjadi tempat nyaman untuk generasi nanti,” ujar Pak Gatot penuh harapan. ***

 

 

33 Comments

Leave a Reply to Elisa Koraag Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *