My Lovely Netbook ASUS dan Kenangan yang Hilang

“You are never too old to set another goal or to dream another dream.”

C.S Lewis

***

Punya laptop sendiri, kece, dan bisa dibawa ke mana-mana. Hmmmpe, sertinya ini akan jadi keinginan hampir semua orang ya. Apalagi buat yang punya pekerjaaan atau urusan dengan mobilitas tinggi. Hal inilah yang saya rasakan delapan tahun lalu, saat akhirnya hijrah ke Jakarta.

Sebagai orang baru di Jakarta, dan kuli di sebuah perusahaan swasta, saat itu desk pekerjaan saya mengharuskan untuk mobile ke mana-mana. Ke mana saja tergantung perintah bos. Juga tergantung situasi yang berkembang. Tak ada masalah dengan mobilitas, karena saya memang suka berpindah-pindah, jadi punya banyak pengalaman baru selama perjalanan.

Dalam waktu satu bulan, sudah hapal Jakarta. Sudah tak bertanya lagi kalau ke mana naik angkot, metromini apa. Maklum, saat itu belum ojek online yang memudahkan mobilitas. Boro-boro, ojek online, transjakarta saja yang kini bisa menjadi moda transportasi aman di Jakarta juga belum ada. Walhasil, kalau ke mana-mana harus berjuang naik bus dan metromini dengan segala ceritanya. Aqua mizone, aqua mizone.., aqua….. 🙂

Di antara kesenangan menikmati proses dan pengalaman baru, ada satu yang menjadi beban. Beban lahir batin. Hihi, bukan bermaksud membesar-besarkan tapi kenyataannya memang begitu. Saat itu setiap kali bepergian, saya harus membawa laptop yang beratnya minta ampun, sekitar 2 kiloan. Laptop itu keluaran tahun 2006 yang sudah menemani hari-hari selama menyelesaikan skripsi dan beberapa project penelitian.

Tapi zaman berubah, kebutuhan akan laptop yang lebih ringan dan enteng dibawa ke mana-mana membuat saya berpikir untuk segera mencari yang baru. Tak mungkin beban berat itu harus digotong-gotong setiap hari. Berat di badan dan capek di otak. J

Searching dan bertanya sana-sini, saya jatuh cinta dengan si Merah Asus. Apalagi waktu itu ASUS memperkenalkan produk baru, netbook Asus Eee PC 1015PEM. Saat itu produk ini merupakan produk unggulan asus untuk kelas Netbook. Asus yang pertama menggunakan teknologi prosesor dual core pertama, hasil kerjasa dengan intel menggunakan Atom N550. Prosesor itu merupakan prosesor dual core Atom pertama yang ditujukan untuk netbook.

 

Hari-hari Bersama Netbook ASUS

Sejak pertama Netboook Eee PC 1015PEM ini diperkenalkan saya langsung suka. Tampilannya elegan pada zamannya, dengan casing berbahan plastik matte dan keyboard berdesain chicklet.  Ada tiga pilihan warna yang dikeluarkan saat itu, merah, biru, dan hitam. Dan pilihan saya jatuh pada si merah.

Dari segi fitur, Eee PC 1015PEM memiliki Port VGA dan sebuah port USB. Hal ini membuat saya tetap bisa menghubungkan USB modem atau harddisk eksternal sambil tetap mengisi ulang baterai ponsel. Untuk saat itu saya merasa sangat terbantu. Ga perlu repot mencari dua colokan kalu mau mencharge hape dan laptop secara bersamaan.

Untuk kebutuhan internet dan stalking, meski saat itu penggunaan dunia digital belum sepesat sekarang, saya sudah dibantu sama si merah ASUS. Ada beberapa fitur yang membantu seperti aplikasi ‘instant-on’ berbasis sistem operasi Linux untuk memudahkan menjelajah internet, chatting, berkomunikasi lewat Skype.

Singkat kata, saya tergoda untuk memboyong si merah ASUS. Bermodal tabungan yang sudah terkumpul selama beberapa bulan kerja, saya pun membeli ASUS yang waktu itu berada di kisaran harga Rp3,8 juta. Puas rasanya, bisa punya perangkat baru dengan hasil tabungan dan sesuai selera.

Warnanya yang merah membuat semangat menulis makin menyala. Ditambah lagi, baterainya termasuk awet. Bisa dipakai hingga 5 jam tanpa perlu discharge. Ukurannya yang umut dengan layar 10 inci membuat saya tak lagi terbebani selama perjalanan. Mobilitas menjadi lebih mudah. Walhasil selama beberapa tahun berikutnya, aktivitas saya banyak bertumpu pada kehandalan ASUS Eee PC 1015PEM ini.

Prosesor Intel Atom N550 dengan kapasitas 1,5GHz. 1MB cache telah membuat performa notebook selama saya gunakan bisa dibilang cemerlang. Taka da kendala berarti yang terjadi selama pemaikaian. Asus benar-benar telah menjadi sahabat setia.

Selama si merah ada di tangan, selain menyelesaikan urusan kerjaan, saya pun menyiapkan draft novel. Yap, sebuah novel yang sudah hampir jadi, sudah di melewati bab !0. Sebuah pencapaian yang jauh lebih maju dari bayangan semula.

 

Netbook Asus dan Kenangan yang Hilang

Malang tak dapat ditolak. Cerita bahagia itu harus berhenti akibat sebuah peristiwa. Lewat tangan seseorang yang diutus entah iblis entah setan, entah mungkin juga malaikat yang sedang menguji iman dan kesabaran, si notebook merah yang sudah berisi banyak file berharga raib dari tangan. Laptop itu berpindah ke tangan orang yang tidak sah.

Kejadian itu sekitar pertengahan 2015. Orang tak diharapkan itu mendobrak kontrakan, mengambil benda berharga apapun  yang bisa ia temukan, termasuk notebook ASUS merah kesayangan. Saya dan suami saat itu sedang keluar rumah untuk mencari makan dan kemudian terkurung hujan besar, tak bisa berbuat apa-apa. Ketika sampai di rumah semua barang berharga sudah tiada.

Sedih bukan kepalang. Semua kenangan dan pekerjaan termasuk draft novel hilang bersama si merah ASUS yang melayang. Meninggalkan cerita dan kenangan. Untuk beberapa waktu setelah itu saya akhirnya harus ikhlas menggunakan laptop pinjaman dari kantor. Sampai beberapa waktu kemudian, Tuhan bekerja dengan cara lain. Suami memenangkan sebuah kompetisi dan mendapat hadiah sebuah laptop yang sampai kini masih saya gunakan. Namanya laptop suami, jadi sampai sekarang, status saya tetap saja hanya meminjam.

Sekarang, seiring dengan meningkatnya aktivitas, dan kesibukan kembali dengan dunia kampus, membuat saya benar-benar sudah sangat tergantung dengan laptop. Saat inilah keinginan untuk segera memiliki laptop sendiri lagi menjadi begitu besar. Apalagi  dengan berbagai kebutuhan termasuk desain dan olah video dan foto, kebutuhan untuk memiliki laptop dengan spesifikasi mumpuni menjadi bertambah besar pula.

Seiring pergantian tahun, semangat untuk melangkah lebih jauh pun bertambah. Maka sebuah tekad dibuat, 2019 akan jadi tahun yang lebih difokuskan untuk dua urusan. Menyelesaikan studi, seraya membangun dan menyiapkan Dunia Biza Network menjadi lebih profesional. Di antara harapan itu, tentu saja harapan dan tekad untuk upgrade peralatan tempur menjadi tak terelakkan. 2019, laptop baru harus diwujudkan.

Dan ASUS, dengan produknya yang makin canggih menjadi perangkat yang cocok dengan impian dan harapan. Ketangguhan ASUS sudah tak perlu saya ragukan. Lima tahun bersama, bukanlah waktu yang singkat untuk merasakan segala kemudahan.

Di kampus, juga banyak teman yang menggunakan laptop ASUS. Dan itu membuat keinginan untuk segera memiliki satu menjadi menguat lagi. Apalagi, sudah tersiar, 2019 ASUS akan mengeluatkan laptop dengan spesifikasi aduhai…. Saatnya berikhtiar. #2019pakaiASUSLagi 🙂

 

 

 

 

 

 

 

5 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *