Mari Peduli, Cegah dan Akhiri TB Laten pada Anak dari Sekarang

 

Pernahkan temans melihat dan menemukan anak yang mengalami batuk tetapi tidak sembuh setelah dua minggu? Badan lemas dan lesu, dan suhu badan konstan di atas 38 derajat?

***

 

Alert! Bila teman mendapati gejala seperti itu saatnya waspada. Bisa jadi kita sedang berhadapan dengan anak yang tengah berjuang melawan tuberkulosis (TB).

Mendengar kata TB, ingatan saya jadi flashback pada kejadian sekitar 10 tahun lalu. Saat itu saya tengah berada di sebuah desa di perbatasan provinsi Riau-Sumatera Utara untuk suatu penelitian budaya. Saat berkunjung ke salah satu rumah warga, saya mendapati seorang anak berumur 7 tahunan sedang terbaring tak berdaya.

Badannya kecil, boleh dibilang kurus untuk anak seusianya. Matanya cekung, dan kakinya agak kecil. Saya terenyuh melihat pemandangan itu.

“Kata bidan desa dia kena TBC, disuruh bawa ke rumah sakit, tapi bagaimana tak cukup dana,” ujar Ibu anak itu pada saya dengan lirih.

Menurut sang Ibu, dua bulan sebelumnya anak itu masih sehat seperti anak lain. Suka bermain, namun tiba-tiba kondisi kesehatannya drop. Ia tak tahu pasti penyebabnya. Namun yang ia ingat, beberapa bulan sebelumnya memang ada warga di kampung itu yang meninggal juga karena TBC.

Sejak beberapa tahun terakhir, Tuberkolosis (TB) memang menjadi salah satu masalah kesehatan utama yang jadi momok dalam masyarakat. Tuberkolosis menjadi semakin penting lantaran belum banyak masyarakat yang peduli untuk melawan dan mencegahnya. Hal yang lebih membuat miris lagi TB tidak hanya menyerang orang dewasa tetapi juga anak.

 

 

Kasus tuberkolosis pada anak kini bahkan menjadi tantangan global. Berdasarkan data world Health Organization pada 2016 terdapat 10,4 juta kasus TB baru   dan 1 juta di antaranya adalah anak di bawah 14 tahun. Sedangkan 540,000 di antaranya adalah anak di bawah 5 tahun.

 

“Setiap hari, hampir 700 anak meninggal karena tuberkulosis, dan 80 persen di antaranya sebelum mencapai usia 5 tahun”

Data World Health Organization

Bagaimana dengan TB di Indonesia?

Sama halnya dengan masyarakat dunia, di Indonesia jumlah penderita tuberkolosis juga besar. Merujuk data 2016, Indonesia menempati peringkat kedua kasus TB. Sedangkan data Wordl Health Organization menyebutkan pada 2017 diperkirakan ada 1.020.000 kasus di Indonesia.

Meski jumlah penderitanya besar, TB anak masih tergolong diabaikan. Masyarakat masih banyak yang tidak tahu bahaya dan melakukan pencegahan menyeluruh bila terjadi kasus TB di lingkungan masyarakat. Besarnya kasus penderita tuberkolosis di Indonesia ini tentu saja mendapat perhatian dari pemeritah.

Saat peringatan Hari Tuberkolosis sedunia, 24 Maret lalu, Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek  mengatakan belum separuh dari kasus TB yang terjadi di Indonesia terlaporkan ke Kementerian Kesehatan. Karena itu, pada puncak peringatan Hari TBC Sedunia di Monas, Bu Menkes meminta masyarakat lebih aktif dan terlibat aktif dalam gerakan Temukan Obati Sampai Sembuh (TOSS) TBC.

 

“Fokus pencegahan dan pengendalian TBC adalah penemuan kasus dan pengobatan. Tolong temukan penderita TBC, diobati sebaik-baiknya. Sampai sembuh, betul-betul harus sampai sembuh agar terhindar dari resistensi”

Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek

Ibu Menkes, Nila F Moeloek saat peringatan TB Sedunia. Foto situs resmi kemenkes

 

Bila dipikir-pikir, besarnya kasus TB yang ada di Indonesia disebabkan kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan bahaya TB itu sendiri. Saya jadi ingat, waktu kecil di kampung pernah ada tetangga yang sering batuk. Batuknya bahkan berdarah. Namun, dia ke mana-mana tidak membawa masker dan bebas bicara tanpa menutup mulut.

Berbagai pengalaman dan cerita buruk mengenai bahaya TB  membuat saya menjadi ingin ingin mencari tahu lebih banyak mengenai penyakit yang mematikan ini. Apalagi sekarang sudah ada tiga krucils di rumah. Sebagai ibu, tentu saja saya mau anak-anak terbebas dari TB.

 

Sebenarnya, apa itu tuborkolisis? Bagaimana anak bisa tertular dan bagaimana cara mengatasi TB?

Saya beruntung, Sabtu, 7 April lalu bisa berkesempatan hadir dalam event yang kaya ilmu. Bertempat di salah satu restoran di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, hari itu saya hadir menjadi salah satu peserta Blogger Gathering, “Treat Latent TB for TB Free World” yang diselenggarakan Sanofi Indonesia bekerjasama dengan Kumpulan Emak Blogger.

Dengan menghadiri acara ini saya mendapat banyak informasi dari dr. Arya Wibitomo, Medical Director Sanofi Indonesia dan Bu dr.Wahyuni Indawati, SpA(K), ahli resipologi dan juga anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia tentang seluk beluk TB terutama TB laten pada anak.

 

dr Arya dan dr Wahyuni, dua pembicara dalam blogger gathering

Mengenal Lebih Dekat TB pada Anak

Tuberkulosis sebenarnya merupakan penyakit yang jamak terjadi di masyarakat. Namun sayangnya, banyak yang tak peduli akan bahaya besar yang bisa ditimbulkan. Bahkan banyak yang tidak tahu bahwa anak-anak merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap penyebaran TB.

Secara umum tuberkolosis disebabkan ole bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyebar melalui udara. Cara penularan TB pada anak paling sering terjadi melalui saluran pernafasan. Ketika pasien dewasa batuk, bersin, atau bicara akan menghembuskan bakteri TB ke udara di sekitarnya.

Bila bakteri ini terhirup oleh anak maka anak akan dapat terinfeksi. Namun tidak setiap anak yang menghidurp bakteri pasti akan tertular. Tergantung dari daya tahan tubuh masing-masing anak.

 

 

Anak dapat tertular TB dari kontak dengan pasien dewasa. TB terutama menyerang paru, namun 20 persen – 30 persen TB pada anak menyerang organ lain seperti kelenjer getah bening, usus dan tulang.

Anak yang terinfeksi bakteri TB dapat menyebabkan dua kondisi yaitu TB Laten dan Penyakit TB. Meski berbeda kondisi, kedua jenis TB ini perlu diwaspadai dan mendapat penanganan tepat.

 

  1. TB Laten

Anak dengan TB laten terinfeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis tetapi tidak terkena penyakit TB. Pada kondisi ini bakteri berada dalam tubuh anak tetapi tidak aktif menyerang sistem kekebalan tubuh dan tidak berkembang biak. Anak dengan TB laten tidak merasakan sakit dan tidak menunjukkan gejala serius.

Meski begitu, TB laten pada anak tetap harus diwaspadai. Sebanyak 5 hingga 10 persen anak dengan TB Laten memiliki risiko untuk mengidap peyakit TB jika tidak diketahui sejak dini dan tanpa penanganan yang tepat.

Anak dengan TB Laten juga tidak menularkan TB kepada orang dewasa atau anak lain. Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah anak terkena TB Laten atau tidak adalah dengan melakukan pemeriksaan darah atau tes kulit (skin test) TB.

 

2. Penyakit TB

Anak dengan penyakit TB terinfeksi bakterui Mycobacterium tuberculosis dan bakteri tersebut aktif menyerang sistem kekebalan tubuh anak serta berkembang biak. Anak dengan penyakit TB menunjukkan gejala tertentu yang meskipun tidak bersifat khas namun tetap perlu diperhatikan.

Anak dengan penyakit TB tidak selalu menularkan pada orang di sekitarnya kecuali anak tersebut menderita TB bakteri Tahan Asam positif atau TB tipe dewasa yaitu TB pada anak dengan gambaran menyerupai TB pada dewasa dan ditemukan BTA pada pemeriksaan dahak.

 

 

Secara garis besar gejala TB pada anak bersifat umum (tidak khas) sehingga menyulitkan diagnosa. Namun sayangnya, alat diagnose yang ramah anak di Indonesia masih terbatas. Selain itu sistem pencatatan dan pelaporan kasus TB anak yang tidak memadai.

Terbatasnya peralatan diagnosa TB membuat penangan kasus TB di Indonesia masih terbatas. Karena itu diperkirakan banyak anak menderita TB tidak mendapatkan penangan yang tepat dan benar sehingga menyebabkan peningkatan dampak negatif pada morbiditas dan mortalitas anak.

Meski sulit untuk didiagnosa, gejala TB pada anak tetap bisa dilihat dan diwaspadai.

Gejala TB pada anak

  • Berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau berat badan tidak naik secara signifikan setelah 1 bulan diberikan upaya perbaikan gizi yang baik
  • Demam lama (lebih dari 2 minggu) atau demam berulang tanpa sebab yang jelas. Suhu tubuh demam umumnya tidak tinggi.
  • Batuk lama (lebih dari 3 minggu), batuk tidak pernah reda atau intensitas semakin lama semakin parah.
  • Nafsu makan tidak ada atau berkurang
  • Anak kurang aktif bermain
  • Diare terus menerus (lebih dari 2 minggu) yang tidak sembuh dengan pengobatan dasar diare.

 

Bila menemukan gejala atau tanda-tanda pada anak yang mengarah pada indikasi TB, maka orang tua harus segera waspada. Bawa buah hati ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lengkap. Setelah itu dokter ataupun bidan akan memberikan arahan langkah yang harus diambil berdasarkan hasil diagnosa.

Bila anak tidak terdiagnosa mengalami TB, orang tua tetap harus waspada dan melakukan berbagai tindakan pencegahan agar TB tidak mampir.

 

 

Ada banyak cara yang bisa dilakukan agar anak terhindar dari TB. Pemberian vaksinasi BCG (Bacille Calmette-Guerin) adalah salah satu cara efektis. Meski begitu daya tahan tubuh anak tetap perlu dijaga. Berikan makanan yang bergizi dan seimbang pada anak

Menjaga lingkungan rumah bersih juga sangat penting. Begitu pula menjaga agar barang keperluan sehari-hari seperti alas tidur, karpet dan pakaian di rumah tidak lembab. Pastikan juga rumah cukup mendapat sinar matahari dan udara segar.

TB dapat dengan mudah menular melalui udara, karena itu orang tua perlu menjauhkan anak dari kontak dengan pasien dewasa. Tidak membawa anak di bawah usia 12 tahun saat berkunjung ke rumah sakit merupakan salah satu cara menjauhkan anak dari pasien agar tak terpapar TB.

 

 Lawan TB dengan TOSS, Temukan Obati Sampai Sembuh 

Memberikan obat dan penanganan yang tepat pada penderita TB memang merupakan langkah tepat melawan TB. Namun, seperti data yang dirilis oleh World Health Organization,  hanya segelintir penderita TB anak yang mendapat penanganan tepat.  Karena itu, salah satu cara untuk melawan perkembangan TB adalah dengan peningkatan peran serta masyarakat.

Untuk melawan penyebaran TB, Kementerian Kesehatan telah menggerakkan gerakan TOSS, Temukan Obati Sampai Sembuh. Kegiatan deteksi dini ini merupakan bagian dari semangat gerakan masyarakat hidup sehat (GERMAS) untuk memperkuat program Indonesia sehat melalui pendekatan keluarga (PIS-PK).

 

“Perlu peran aktif dari masyarakat dan kesadaran komunal untuk melawan dan memerangi TB hingga tuntas.”

dr. Wahyuni Indawati SpA(K)

 

Terkait tindakan pencegahan dini memerangi TB ini, Bu dr. Wahyuni Indawati, SpA(K) mengatakan cara paling efektif yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan pelacakan atau biasa dikenal dengan pelacakan atau investigasi kontak.

 

Mengapa anak menjadi prioritas pada investigasi kontak?

Angka kejadian infeksi TB Laten pada anak akibat kontak erat  mencapai 30-60 persen. Anak berisiko tinggi menderita TB setelah terinfeksi dengan kasus 10-50 persen menderita TB berat seperti meningitis TB atau TB milier. Selain itu anak dengan infeksi laten TB bisa menjadi kasus TB pada masa dewasanya.

Pemberian profilaksis atau pengobatan pencegahan akan menurunkan risiko sakit TB. Jumlahnya juga signifikan mencapai 60 persen.

Investigasi kontak perlu dilakukan untuk mengidentifikasi anak yang kontak erat dengan penderita TB paru. Juga untuk memastikan ada tidaknya sakit atau nfeksi TB pada orang yang kontak tersebut. Selanjutnya untuk memberikan terapi yang sesuai

Dalam pelaksanaanya, investigasi kontak ditujukan langsung pada kelompok berisiko. Investigasi ini diharapkan bisa menemukan kontak yang memiliki ILTB sehingga mereka dapat diberikan pencegahan dan prioritas untuk mendapat edukasi.

Menurut Bu Wahyuni, ada empat aspek yang terkait erat dalam pelacakan kontak

  1. Kasus Indeks = semua pasien TB yang merupakan kasus pertama yang ditemukan di suatu rumah atau tempat-tempat lain (kantor, sekolah, tempat penitipan anak, lapas/rutan, panti, dsb).
  2. Kontak = orang yang terpajan/berkontak dengan kasus indeks, misalnya orang serumah, sekamar, satu asrama, satu tempat kerja, satu kelas, atau satu penitipan/pengasuhan
  3. Kontak serumah = orang yang tinggal serumah minimal satu malam, atau sering tinggal serumah pada siang hari dengan kasus indeks dalam 3 bulan terakhir sebelum kasus indeks mulai mendapat obat anti tuberkulosis (OAT).
  4. Kontak erat = orang yang tidak tinggal serumah, tetapi sering bertemu dengan kasus indeks dalam waktu yang cukup lama, yang intensitas pajanan/berkontaknya hampir sama dengan kontak serumah.

 

 

Bagaimana bila setelah dilakukan investigasi ternyata ditemukan kontak yang menderita TB? Bagaimana cara melawan agar anak yang terpapar kontak tidak terkena TB?

Hal yang paling penting adalah meningkatkan kekebalan pada anak agar tidak mudah tertular. Dan untuk kasus tertentu maka perlu diberikan pengobatan pencegahan

Pengobatan pencegahan diberikan kepada kontak yang tidak terbukti sakit TB. Prioritas pemberian pengobatan pencegahan adalah anak balita dan anak dengan infeksi HIV positif semua usia. Tujuan Menurunkan beban TB pada anak. Efek perlindungan pengobatan pencegahan dengan pemberian selama 6 bulan dapat menurunkan risiko TB pada anak tersebut di masa datang.

Pengobatan TB pada anak terdiri dari terapi (pengobatan) dan profilaksis (pengobatan pencegahan). Terapi TB diberikan kepada anak yang sakit TB sedangkan profilaksis TB diberikan pada anak yang kontak erat dengan pasien TB menular profilaksi primer atau anak yang terinfeksiTB tanpa sakit TB

Berikut 3 hal penting dalam tata laksana pengobatan TB pada anak

  • Pengobatan dengan kombinasi 3-4 jenis obat pada anak
  • Pengobatan TB membutuhkan waktu 6-12 bulan, tergantung dari tingkat infeksi bakteri TB
  • Kunci keberhasilan pengobatan TB adalah kepatuhan dan keteraturan dalam meminum obat

 

Lawan TB Sekarang Juga

Besarnya efek jangka panjang yang mungkin akan dialami anak dengan risiko TB pada masa mendatang membuat semua pihak harus bergandeng tangan melakukan tindakan pencegahan. Peringatan hari Tuberkolosis Sedunia harus dijadikan momentum untuk satu tujuan bersama. End TB!

Menurut dr. Arya, selain melakukan gerakan bersama melawan TB, cara lain yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya TB dan pentingnya berperilaku sehat untuk mencegah penularan TB pada anak. Tidak hanya pada anak, penularan TB pada orang dewasa juga perlu dikuatkan.

“Masyarakat harus terus diedukasi agar menerapkan pola hidup sehat dan lebih peduli untuk memutus rantai penularan TB.”

dr Arya Wibitomo

 Bila masyarakat sudah peduli, maka tak ada lagi yang sembrono dalam bersikap di lingkungan sehari-hari. Misalnya saja, bila ada yang batuk makan akan batuk dengan sopan dan menjaga agar udara dan air yang keluar saat batuk tidak terbang ke mana-mana.

Bagaimana sih cara yang sopan untuk batuk? Tidak hanya sopan, cara batuk menurut video yang disebarluaskan TBIndonesia ini juga bisa efektif mengurangi penyebaran TB baik pada anak maupun dewasa.

 

Video Flashmob Etika Batuk 2018

 

So, bagaimana temans? Masih mau tidak peduli? Masih mau sembarangan saat batuk di tempat umum. Ingat, di sekitar kita selalu ada orang yang rentan dan berisiko. Saatnya lebih peduli.

Mqsyarakat harus peduli bila melihat ada orang dekat yang mengalami gejala TB. Minta mereka melakukan pengobatan hingga sembuh total. Penderita yang sudah postif mengalami TB juga harus peduli untuk mau memeriksakan diri.

Mari peduli! Mari bersama akhiri.
Tuberkolosis bisa disembuhkan.
World TB Day 2018, End TB.

 

 

 

 

 

17 Comments

Leave a Reply to Ika Maya Susanti Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *