Menikmati Gurihnya Keripik Sehat Hingga Terpesona Tenun Memikat di Telkom Craft Indonesia

 

Di tangan Bu Esty, Pare yang pahit bisa disulap jadi keripik empuk. Pegagan sawah yang biasa terbuang jadi punya nilai ekonomi. Dan memang, industri kecil menengah Indonesia penuh inovasi dan kejutan. Siap meletup menjadi sebuah kekuatan.

From Local Hero to Global Champion. 

***

 

Wajah Bu Esty Widayati siang itu tampak cerah. Senyumnya tak henti-henti merekah. Saat saya menemuinya Sabtu, 24 Maret lalu, dengan sumringah ia melayani setiap pengunjung yang mendatangi booth Rumah Keripik.

Rumah Keripik merupakan satu dari sekian banyak Usaha Kecil Mikro dan Menengah yang berpartisipasi dalam pameran Telkom Craft Indonesia 2018. Pameran berlangsung selama empat hari, 22-25 Maret 2018 di Jakarta Convention Center.

“Ayo Mba, yang ini dicoba juga. Ini keripik pare, rasanya tidak pahit lho,” ujar perempuan 50 tahun itu menyapa ramah.

 

Ajakan santun yang disampaikan Bu Esty mengundang rasa ingin tahu pengunjung yang lewat. Banyak yang mampir. Mulanya coba-coba, akhirnya memborong beberapa bungkus camilan sehat untuk dibawa pulang.

 

“Saya penasaran rasa keripik pare dan daun singkong. Ternyata setelah dicoba enak banget. Ga ada pahitnya sama sekali. Crispynya juga pas,” ujar Hana, salah seorang pengunjung.

 

Setelah mencoba beberapa rasa, Hana lalu membeli satu bungkus keripik daun singkong, dua bungkus keripik pegagan, dan satu bungkus keripik terong. Di samping Hana, sudah ada beberapa calon pembeli lain yang ikut antri.

Keripik pare memang merupakan salah satu andalan Bu Esty selama berlangsungnya event Telkom Craft Indonesia 2018. Selain keripik pare, ia juga memproduksi keripik pegagan, keripik terong, keripik daun singkong, keripik seledri, keripik pete, keripik timun dan keripik kemangi. Semua keripik yang ia jual berbahan dasar sayur. Inilah yang menjadi ciri khas usaha Rumah Keripik yang dikembangkan Bu Esty.

Menurut perempuan asal Megalang ini, ia sengaja memilih bahan dasar sayur untuk mengembangkan pasar baru. Selama ini orang menganggap keripik sebagai camilan biasa. Namun di tangan Bu Esty, keripik bisa juga menjadi camilan sehat karena terbuat dari sayuran. Apalagi, sayuran yang digunakan adalah sayuran asli Indonesia yang banyak dijumpai di berbagai daerah.

 

pengunjung Telkom Craft Indonesia 2018 tertarik mencoba keripik buatan Bu Esty

 

 

Sebelum membuka usaha rumah keripik, Bu Esty sempat mencoba usaha souvenir dan catering. Namun kedua usaha ini tidak terlalu tertangani karena masih disambi mengurus dua anaknya. Pada 2009 ia mulai mengembangkan usaha keripik.

Usaha keripik mulanya ia kembangkan karena didorong keinginan untuk bisa membuat anaknya menyukai sayuran. Kedua anak Bu Esty dulu sangat tidak suka sayur. Ia lalu mencoba mengolah beberapa jenis sayuran menjadi keripik yang gurih dan crispy. Termasuk mengolah pare dan terong. Ternyata kedua buah hatinya suka.

Dari hasil coba-coba itu ia kemudian memproduksi dalam jumlah lebih besar dan dipasarkan untuk warga sekitar. Ternyata sambutan warga saat itu lumayan bagus. Naluri bisnis Bu Esty pun muncul lagi sampai akhirnya ia memproduksi keripik skala industri rumahan. Karena pasarnya makin luas, Bu Esty mulai membuat kemasan dan memberi nama usahanya Rumah Keripik Jaya Makmur.

 

“Jaya Makmur itu doa supaya usaha keripiknya selalu lancar dan jaya, bisa membawa kemakmuran pada masyarakat sekitar.”

 

 

Bintang semangat berada di booth rumah keripik

Empat tahun setelah berdiri, usaha rumahan yang dikembangkan Bu Esty dilirik oleh dinas koperasi dan UMKM Magelang. Ia diajak bergabung menjadi salah satu mitra binaan. Selain mendapat pelatihan dan pengembangan usaha, Bu Esty mulai diajak mengikuti pameran baik di kota Magelang ataupun kota-kota besar lain di Indonesia.

Usaha rumahan yang semula didirikan untuk mengisi waktu luang, kini berkembang pesat. Bu Esty pun mulai mengajak beberapa saudara dan tetangga untuk ikut membantu. Saat hari-hari sibuk seperti lebaran dan libur akhir tahun ia bisa mempekerjakan lebih dari 10 orang. Pada hari normal ia bisa memproduksi sekitar 50-70 kilogram keripik.

Aneka keripik sayur yang diproduksi tak hanya dipasarkan sendiri. Bu Esty juga memberi kesempatan pada siapa saja untuk menjadi reseller. Bahkan ia memberi kebebasan pada reseller untuk membuat kemasan sendiri dan memberi merek keripik sesuai selera.

“Bagi saya yang penting nanti mencantumkan diproduksi oleh IM Jaya Makmur. Kalau kemasan bebas sesuai selera para reseller,” jelas Bu Esty.

Untuk harga, keripik sayur yang dijual menurut saya cukup terjangkau mulai dari Rp 15 ribu tergantung ukuran kemasan. Selain dijual dalam bentuk kemasan, keripik sayur juga dijual dalam keranjang. Biasanya, kemasan keranjang ini dibeli oleh reseller. Tak hanya dari kota Magelang, menurut Bu Esty sekarang sudah banyak reseller yang berasal dari berbagai kota termasuk dari Jabodetabek.

 

Aneka keripik buatan Rumah Keripik

Rasa khas dan bahan baku keripik sayur yang dijual Bu Esty rupanya menjadi daya tarik sendiri bagi pengunjung yang mendatangi Telkom Craft Indonesia 2018. Selama saya berada di sana, booth Rumah Keripik Jaya Makmur tak pernah sepi. Mayoritas pengunjung yang lewat tertarik mencoba keripik sayur yang memang disediakan untuk diicip-icip.

Tak sedikit dari mereka yang sudah mencicip, tertarik untuk membeli. Dengan sigap, petugas jaga stand Rumah Keripik akan melayani pengunjung yang mampir. Bu Esty yang juga ada di lokasi pun ikut turun tangan melayani pembeli.

Antusias pengunjung memborong keripik sayur rupanya sudah dirasakan Bu Esty sejak pertama kali mengikuti Telkom Craft Indonesia 2017 lalu. Saking banyaknya pengunjung yang membeli, ia sampai kewalahan. Pada hari pertama penjualan, beberapa jenis keripik sudah terjual habis.

 

“Saya sampai telepon ke Magelang untuk kirim produk lagi. Alhamdulillah sampai hari terakhir semua produk yang dibawa habis.”

 

Laris manis penjualan mengantarkan Rumah Keripik Jaya Makmur meraih The Most Favorit Exhibitor pada event Telkom Craft Indonesia 2017. Penghargaan ini diperoleh berdasarkan antusias dan minat pengunjung serta nilai transaksi penjualan pada hari pertama.

Pada event tahun ini, jumlah penjualan tak kalah dibanding sebelumnya. Bahkan ia merasa senang karena lewat Telkom Craft Indonesia 2018 ia bisa menemukan beberapa pengunjung yang tertarik menjadi reseller baru.

“Saya merasa bersyukur bisa berpartisipasi dalam Telkom Craft Indonesia. Banyak manfaat yang saya rasakan, terutama menambah jaringan pemasaran dan produk Rumah Keripik menjadi makin dikenal luas masyarakat.”

 

Bu Esty dan penghargaan The Most Exhibitor Telkom Craft Indonesia 2017

 

Event Telkom Craft Indonesia 2018 yang diselenggarakan oleh Telkom Indonesia memang memberi kesempatan luas pada pelaku usaha kecil mikro dan menengah dalam mengembangkan pasar. Sebanyak 400 pengusaha tergabung dalam kegiatan ini meliputi 200 UKM binaan Telkom, 150 UKM binaan BUMN dan 50 UKM dari berbagai komunitas dan asosiasi.

Puas menikmati gurihnya keripik sayur dan membeli beberapa bungkus untuk dibawa pulang, saya menjadi makin antusias mengitari Hall A dan B Gedung JCC. Ada banyak produk UKM asli Indonesia yang bisa ditemukan di sini. Beragam olahan makanan, pernak-pernik, souvenir, barang antik, dan aneka jenis kain tradisional.

Selama berada di area pameran, saya senang Bintang juga antusias. Kami dan para pengunjung lain jadi dapat tambahan banyak pengetahuan tentang kerajinan asli Indonesia. Benar-benar Indonesia yang kaya. Ditambah lagi, penyelenggara memberi informasi yang cukup mengenai perkembangan craft tanah air.

 

banyak informasi dan hal baru yang bisa ditemukan di Telkom Craft, Bintang pun antusias

 

Salah satu yang menyedot perhatian saya adalah kerajinan Tenun. Sejak pertama masuk area pameran, aneka Tenun nusantara sudah terpampang di depan mata. Motifnya cantik dan menarik. Dengan sentuhan benang emas khas masing-masing daerah. Ada kesan mewah dan elegan di setiap helai kain Tenun.

Selama berkeliling area Telkom Craft Indonesia, saya semakin sadar betapa Indonesia teramat kaya dengan kain tenun. Hampir setiap daerah punya kain tenun khas dengan corak dan bahan yang khas pula.

Selama ini saya hanya kenal dengan beberapa kain tenun seperti Ulos khas Toraja, Songket khas Minangkabau, Tapis khas Lampung, Tenun Ikat Sumba khas Nusa Tenggara Timur, dan Ulap Doyo dari Kalimantan. Beberapa kain tenun seperti Sasirangan dari Kalimantan Selatan, Karawo dari Gorontalo, kain Endek dari Bali baru saya lihat di Telkom Craft Indonesia ini.

Deretan kain tenun ASli Indonesia, kain songket dari Minangkabau dan Tenun Ikat dam Sumbawa.

 

Salah satu jenis kain Tenun yang baru saya ketahui adalah Kain Tenun Baduy. Tak hanya melihat kainnya, di Telkom Craft Indonesia saya bisa menyaksikan langsung bagaimana proses pembuatan kain cantik ini. Bahkan saya juga berkesempatan ngobrol dengan Mbak Elas, salah seorang perempuan asli Baduy yang terampil menenun.

Dengan cekatan, tangan Mbak Elas menggerakkan alat tenun. Ia memasukkan satu persatu benang tenun, lalu merangkainya menjadi kain dengan corak yang menarik. Tangannya bergerak lincah, tanpa contekan motif di depannya.

Banyak pengunjung yang antusias melihat Mbak Elas menenun. Si sulung Bintang yang siang itu juga ikut dengan saya tak kalah antusias. Ia bahkan bertanya ini dan itu mengenai aktivitas menenun. Termasuk bertanya beberapa jenis kain.

Tak hanya bagi pengunjung, Mbak Elas juga merasa sangat bersyukur bisa menjadi peserta. Bisa hadir dan berpartisipasi dalam Telkom Craft Indonesia seperti mimpi yang menjadi nyata. Beberapa tahun terakhir menekuni kerajinan tenun, ia berharap kain Tenun Baduy makin dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.

“Sekarang jadi makin banyak yang tahu Tenun Baduy, mudah-mudahan banyak yang suka dan membeli kerajinan kami,” ujar Mbak Elas ramah.

 

Mba Elas menenun di Telkom Craft Indonesia

 

From Local Heroes to Global Champions

“Local Heroes to Global Champions”, begitulah tema utama yang diusung selama event Telkom Craft Indonesia 2018. Tema ini bahkan sudah digaungkan sejak event yang sama tahun sebelumnya.

Tema ini dipilih bukan tanpa alasan. Telkom sebagai penyelanggara utama ingin agar usaha kecil, mikro, dan menengah memaksimalkan pemanfaatan teknologi digital agar semakin kreatif, inovatif dan berdaya saing global dalam menggerakkan perekonomian digital Indonesia.

Salah satu cara memanfaatkan teknologi digital bagi pelaku UMKM adalah melalui pemasaran. Inilah yang spesial dari ajang Telkom Craft Indonesia 2018. Pada event ini peserta dan pengunjung bisa merasakan digital experience dan digital lifestyle melalui pemanfaatan transaksi digital melalui platform e-commerce.

 

transaksi lebih mudah dengan online. Foto: IG @BLANJA.com

 

Fasilitas yang diberikan untuk membuka toko online  bagi para pelaku IKM peserta pameran rupanya memberi motivasi baru bagi Mbak Elas dan perajin lain. Ia jadi bersemangat untuk semakin meningkatkan produksi.

Selama ini, ia memasarkan kerajinan Tenun Baduy buatan tangannya melalui pameran dan informasi dari mulut ke mulut. Sedangkan di dunia digital, ia baru memanfaatkan facebook dan instagram. Namun menurut Mbak Elas, permintaan pembelian melalui akun sosmed belum terlalu besar karena jangkauannya masih terbatas.

 

“Kalau sudah masuk toko online semoga bisa menjadi lebih berkembang dan permintaan untuk Tenun Baduy jadi makin banyak.”

 

Bu Esty, pengusaha Rumah Keripik dari Magelang, juga merasa sangat terbantu dengan kesempatan yang diberikan untuk punya toko online. Ia kini lebih optimis mengembangkan usaha. Menurut Bu Esty selama ini ia baru bermodal pemasaran dari mulut ke mulut.

“Kalau sudah online mudah-mudahan makin banyak pelanggan Rumah keripik. Mbak Ira kalau mau juga bisa pesan di sini lho, nanti kita kirim,” ujar Bu Esty sambil tertawa.

 

Produk Rumah keripik Jaya Makmur bisa dicari di BLANJA.com

Berkembangnya teknologi informasi memang telah memberi warna baru dalam kehidupan masyarakat masa kini. Bahkan sekarang banyak yang memilih berbelanja secara online. Bisa alasan hemat waktu dan juga kepraktisan.

Tingginya tingkat literasi digital ini juga terlihat selama event Telkom Craft Indonesia 2018 digelar. Menurut data penyelenggara, hingga berakhirnya event tercatat sebanyak 25 ribu lebih transaksi yang terjadi dari 78 persen merupakan transaksi non tunai atau digital payment.

CEO BLANJA.com, Aulia E. Marinto

Dalam talkshow bertajuk ”UKM ASLI INDONESIA, Tantangan dan Peluang,” CEO BLANJA.com, Aulia E. Marinto mengatakan komitmen BLANJA.com dalam mendukung UKM Asli Indonesia pun tak berakhir sebatas pelaksanaan event. Selain menjadi Official e-commerce selama berlangsungnya Telkom Craft Indonesia, e-commerce ini juga memberi prioritas pada UKM anak negeri untuk membuka toko online di situs BLANJA.com. Dengan begitu, meski pameran Telkom Craft sudah berakhir, masyarakat tetap bisa membeli produk kerajinan asli Indonesia secara onlin

Wuaa.. Ini tentu saja kabar yang menarik. Menurut saya ya inilah bentuk kongkrit dukungan terhadap UKM Asli Indonesia. 🙂

 

“Kami menyediakan Laman ASLI INDONESIA untuk mendukung UKM Binaan Rumah Kreatif BUMN dan nantinya laman ini akan terus menghadirkan produk produk lokal, UKM Asli Indonesia yang masuk ke BLANJA.com”

CEO BLANJA.com, Aulia E. Marinto

Saya bersyukur sekali sekarang tak sulit lagi menemukan barang kerajinan dalam negeri buatan UKM ASLI Indonesia. Apalagi, sewaktu datang ke Telkom Craft kemarin saya naksir dan mengincar beberapa barang. Sayangnya waktu itu belum tanggal gajian jadi belanjanya harus menyesuaikan. 🙂

Dukungan digital yang diberikan untuk para pelaku UKM Asli Indonesia tentu saja bisa menjadi modal besar. Letupan untuk bisa bersaing dalam pasar yang lebih luas. Pasar internasional.

Bukan tidak mungkin, keripik Bu Esty yang kini baru dipasarkan di beberapa kota setahun dua tahun lagi menjadi camilan impor unggulan yang merajai pasar Asia. Dan kain tenun yang dibuat Mbak Elas dan perempuan Baduy lainnya bisa tampil di peragaan mancanegara dan mendapat kontrak ekslusif dengan produsen tas dan pakain branded.

Tak ada yang tak mungkin. Dengan dukungan  bersama, saatnya IKM Asli Indonesia merajai pasar lokal, dan menjelajah pasar internasional. From Local Heroes, to Global Champion. 🙂

Amin…

 

 

 

6 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.