Yakin Masih Mau Berikan Gadget pada Anak Sejak Dini? Baca Ini Dulu Yuk!

 

Gadget seperti pisau bermata dua bagi tumbuh kembang anak. 

***

 

Halo temans apa kabarnya? Semoga makin sehat dan ceria ya. Dan buat yang sudah punya momongan semoga makin bahagia dan happy main setiap hari.

Kali ini saya mau bahas hal yang cukup hits dan hangat dalam dunia pengasuhan anak. Terlebih lagi, materi satu ini punya dua sisi. Di satu sisi ia dianggap memberikan pengetahuan dan wawasan baru pada anak dan di sisi lain ia berpotensi menghambat tumbuh kembang si kecil.

Yess. Itulah dia benda bernama gadget. Benda yang boleh dibilang the most wanted things for everyone. Gadget di sini bukan hanya hp ya, tetapi juga televisi, tablet, dan sejenisnya. Dan yang paling jadi momok tentu saja hape dan tablet. Saking pentingnya benda satu ini, kalau ketinggalan aja di rumah, alamak, rasanya lebih ngenes daripada diputus pacar. Eh… 🙂

Nah, bagi anak-anak pun gadget kini menjadi mainan paling favorit. Saking favoritnya bahkan bagi mayoritas anak, akan nangis uring-uringan sampai tantrum bila dijauhkan dari gadget. Gadget juga menjadi senjata andalan sebagian orang tua menenangkan buah hati.

Ada banyak alasan kenapa gadget menjadi pilihan mainan yang punya banyak fans. Pertama, ada banyak hiburan, permainan, dan tayangan yang dapat diakses baik online maupun offline. Kedua, anak yang sudah asyik dengan gadget biasanya lebih anteng sehingga para orang tua bisa melakukan aktivitas lain sembari anak-anak terhanyut dalam gadget.

Alasan ketiga, anak yang terpapar gadget biasanya akan memiliki pengetahuan lebih mengenai dunia luar dari berbagai informasi yang didapat dari gadget. Informasinya bisa macam-macam. Bisa informasi mengenai keindahan daerah di belahan dunia lain, info tentang sains, pendidikan, dan info tentang gaya.

Di balik berbagai alasan itu, tak bisa dipungkiri gadget juga memilki dampak negative yang tak terhindarkan. Tak semua informasi yang didapat dari gadget bagus dan layak untuk konsumsi anak.

 

Pisau Bermata Dua

Yup. Kalau boleh saya menganalogikan, gadget cocok banget disebut pisau bermata dua. Kedua sisinya sama-sama tajam. Dampak positifnya banyak, dampak negatifnya juga banyak. Dua sisinya memiliki bagian yang besar pengaruhnya.

Dua mata pisau ini pula yang belakangan membuat sebagian masyarakat tertarik ke dalam dua kutub. Kutub yang mengizinkan anak terpapar gadget dan kutub yang tidak mengizinkan anak terpapar gadget. Kedua kutub memiliki pertimbangan masing-masing dalam membuat keputusan.

Di luar kutub ini ada juga kelompok yang berada di tengah, tidak menolak tapi juga tidak memberi kebebasan penuh. Inilah yang tergolong dalam kelompok yang memberi batasan dan aturan terkait penggunaan gadget pada anak.

Bagaimana dengan temans? Berada pada kutub yang mana? Jawabnya tak perlu kencang ya, cukup di hati saja, karena tulisan ini dibuat bukan untuk memancing pro dan kontra. Cukup untuk bahan renungan saja. J

 

 

Saya sendiri dulu termasuk kelompok yang pro gadget. Saat itu saya berpendapat bahwa gadget lebih banyak memberikan manfaat pada tumbuh kembang anak. Saat belum berusia 2 tahun, si sulung Bintang sudah kami biarkan terpapar gadget. Tentu saja dengan pengawasan penuh orang tua ya. Kesimpulan ini saya ambil melihat grafik pengetahuan dan kecakapan yang didapat si sulung Bintang dari gadget.

Misalnya Bintang jadi lebih cepat tahu mengenai cara operasional suatu mesin dengan melihat beberapa video dari you tube. Logika si sulung akan sebab akibat, menurut saya juga banyak terstimulasi dari kebiasaannya menonton berbagai video sains. Grafik positif tersebut membuat saya mengesampingkan fakta perkembangan kemampuan bicara Bintang yang tak secepat kemampuan berpikirnya.

Pandangan terhadap manfaat pemberian gadget sejak dini ini berubah drastis setelah si tengah, merayakan ulang tahun kedua. Dalam hitungan kami, ia mungkin belum menguasai 200 kata seperti jumlah  yang seharusnya sudah dikuasai anak 2 tahun seperti disarankan ahli tumbuh kembang.

Ya memang, setelah berulang tahun kedua, ia sudah bisa mengambil minum sendiri, makan sendiri, mandi sendiri, mengambil apapun yang dia mau sendiri. Bila barang yang ia mau berada di ketinggian, ia akan mencari solusi seperti menyeret kursi, mengambil sapu, untuk menggapai benda yang tinggi. Perkembangan kemandiriannya sangat mengejutkan.

Namun, di sisi lain kemampuan bicaranya tidak pesat.  Meski sudah mulai berkata-kata tapi kami merasa ada yang tidak tepat. Sampai akhirnya saya dan suami membawa si kecil kontrol ke dokter tumbuh kembang anak.

Dan well. You know what.

“Ibu ini anaknya sering diberi gadget ya di rumah?” ujar sang dokter.

Ya saya tak akan bohong. Memang selama ini si tengah termasuk anak yang gadget addict. Bahkan, kalau dilarang dia bisa nangis besar. Kalau tidak lewat hape ya lewat televisi. Ujung-ujungnya saya ngalah dan memberikan gadget buat dia.

“Jadi Bu, kalau saya lihat perkembangan putrinya masih baik. Ibu hanya perlu lebih banyak memberikan stimulus dan memaksimalkan perkembangan otaknya sebelum dia berusia 3 tahun.”

Huff. Sedikit lega mendengar penjelasan sang dokter. Lalu saya lanjut bertanya, bagaimana caranya.

“Caranya sederhana. Puasa gadget 6 bulan ke depan.”

 

What? Puasa gadget?

Demi tumbuh kembang si kecil, saya dan suami pun bersepakat untuk puasa gadget. Dan begitulah. Sejak November sampai sekarang, kami menerapkan puasa gadget untuk anak-anak di rumah.

Sejak kami menjalankan puasa gadget, alhamdulillah saya merasakan dan melihat lompatan yang luar biasa dari tumbuh kembang si kecil. Kemampuan bicaranya jauh lebih maju dibanding 4 bulan lalu. Ia kini juga sudah pintar bersosialisasi. Bermain dengan teman sebaya. Zizi makin semangat mempraktekkan berbagai kosakata baru setiap hari.

Bagaimana cara saya menerapkan puasa gadget. Apakah anak-anak tidak protes. Cerita lengkapnya bisa dibaca pada postingan “Pengalaman Menerapkan Puasa Gadget pada Anak” ya. 🙂

 

FunPlay Without Gadget

Bermain tanpa gadget

Lompatan tumbuh kembang dan kemampuan berbicara serta sosial yang ditunjukkan Zizi membuat saya kini makin yakin untuk tidak mengulang kesalahan yang sama terhadap si bungsu Arsyad. Saya berjanji tidak akan memberikan gadget terlalu dini pada si Baby Boy.

Keputusan  untuk melakukan pembatasan penggunaan gadget pada anak-anak makin bulat setelah mengikuti event Funplay Without Gagdet yang digelar bersamaan dengan peluncuran situs belanja online kebutuhan bayi terpercaya, JuniorDept.com pada Sabtu sore, 24 Maret 2018 lalu di restoran Spumante di kawasan Menteng.

Saya amat bersemangat untuk bisa menghadiri event karena berharap bisa mendapat tambahan ilmu mengenai penggunaan gadget pada anak. Dan yes. Tak menyesal bisa hadir ke lokasi. Selain mendengar materi saat talksow saya juga berkesempatan konsultasi langsung dan gratis pula dari ahlinya.

Ada dua pembicara dalam talkshow sore itu. Pertama Ibu Pradita Sibagariang, konsultan pendidikan dan tumbuh kembang anak. Kedua Ibu Dian Rose, terapis wicara dan praktisi montesorry. Dari mereka saya jadi makin tahu dampak negative gadget pada grafik tumbuh kembang anak.

Ibu Pradita dan Ibu Dian Rose dalam talkshow Playing without Gadget

 

Secara garis besar, baik Bu  Dian maupun Bu Pradita menyatakan anak sebaiknya tidak dipaparkan dengan gadget sejak dini. Secara tegas Bu Pradita mengatakan bahwa gadget tidak diperkenankan untuk anak di bawah 2 tahun.

 

“Gadget tidak diperkenankan untuk anak di bawah 2 tahun.”

Kenapa begitu?

 

Kenapa anak di bawah 2 tahun tak diperkenankan menggunakan gadget? Berikut beberapa alasan yang perlu diketahui

  1. Menyebabkan gangguan tumbuh kembang

Penggunaan gadget pada anak di bawah 2 tahun menurut Bu Pradita bisa menyebabkan ganguan pada perkembangan fungsi otak. Anak menjadi tidak aktif secara fisik sehingga perkembangan motoriknya terganggu. Gadget akan mengganggu perkembangan anak saat 1000 hari pertama kehidupan yang merupakan periode emas dalam hidup manusia.

Selama menggunakan gadget, kemampuan sensory anak juga bisa tidak berkembang maksimal karena hanya terbiasa menyentuh layar gadget dan menggunakan beberapa organ saja. Padahal selama periode emas ini, anak harus diberi banyak stimulus untuk merangsang pertumbuhan dan kerja otak.

Anak yang terlalu sering menggunakan gadget lebih rentan mengalami gangguan dalam berbicara karena gadget tidak memberi ruang interaksi dua arah. Akibatnya anak lebih banyak mendengar dan melihat daripada berbicara.

 

  1. Mengganggu kerja otak

Penggunaan gadget bagi anak di bawah 2 tahun bisa menyebabkan terjadinya gangguan pada sistem saraf dan kerja otak. Rangsangan yang ditimbulkan dari penggunaan gadget bisa menyebab gangguan keseimbangan sistem kerja otak sehingga ada bagian yang menjadi hyper dan ada yang menjadi tak berkembang.

Keseimbangan fungsi otak kiri dan kanan juga menjadi terganggu. Padahal anak seharusnya dilatih untuk menggunakan otak kiri dan kanan secara seimbang.

 

  1. Anak menjadi tidak peka terhadap lingkungan

Anak yang terbiasa menggunakan gadget bisa saja menjadi tidak peka terhadap lingkungan karena kegiatan melihat gadget lebih menyedot perhatian mereka. Anak menjadi tidak peduli terhadap hal yang terjadi di sekitar. Pada kasus serius, anak bahkan menjadi tidak reaktif terhadap panggilan dan suara-suara serta kejadian yang terjadi di sekitar mereka selama menggunakan gadget.

 

  1. Keterlambatan Bicara

Secara lebih spesifik, Bu Dian Rose mengatakan, anak yang terpapar gadget sejak dini lebih berpotensi mengalami keterlambatan dalam berbicara karena terbiasa mendengar dan minim bicara. Apalagi bila selama menggunakan gadget anak dibiarkan begitu saja tanpa didampingi orang tua.

Pada kasus yang lebih serius bahkan gadget bisa menyebabkan anak berperilaku dan menunjukkan gejala autism. Meski baru sebatas gejala, hal ini harus ditangani secara serius agar tidak berlanjut pada tahap yang tidak baik.

 

  1. Obesitas, dan penyakit lain tersebab gadget

Anak yang sibuk dengan gadget akan menjadi kurang gerak. Akibatnya ia akan lebih rentan terkena obesitas. Tak hanya itu, paparan gadget juga bisa menyebabkan radiasi emisi.  Bahkan pada Mei 2011, WHO memasukkan ponsel dan gadget dalam kategori penyebab kemungkinan kanker), karena radiasi emisi yang dikeluarkan oleh alat tersebut.

 

  1. Anak Menjadi tidak fokus

Kecandung gadget bisa menyebabkan daya konsentrasi anak menurun. Hal ini disebabkan banyaknya informasi yang mereka serap dari konten yang tersaji. Kecepatan konten yang ditampilkan gadget bisa membuat anak menjadi tidak fokus pada satu hal. Hal ini menurunkan kemampuan konsentrasi dan memori yang membuat  anak susah memusatkan perhatian.

 

 

Kapan anak mulai diperkenankan menggunakan gadget?

Meski memberikan dampak buruk, tak bisa dipungkiri kehadiran gadget juga memberikan manfaat untuk tumbuh kembang anak. Zaman now, banyak ilmu dan pengetahuan baru yang bisa diakses anak melalui gadget. Nah, untuk meminimalisir dampak dan tetap mendapat manfaat positif maka penggunaan gadget pada anak perlu dibatasi dengan bijak.

Menurut Bu Pradita, bila memang merasa perlu, anak baru boleh dipaparkan dengan gadget setelah mereka berusia dua tahun. Pada masa ini, sistem saraf dan semua kemampuan anak mulai berkembang dengan baik. Meski sudah diperkenankan menggunakan gadget tetap perlu ada batasan.

  • Anak di bawah 2 tahun = No gadget
  • Anak 3 tahun-5 tahun = maksimal 1 jam dengan pendampingan. Pada usia ini anak dalam masa imitasi sehingga akan sangat mudah meniru hal yang ia saksikan dari gadget. Termasuk dalam penggunaan bahasa. Makanya jangan heran bila sekarang kita sering mendengar anak yang berbicara dengan aksen seperti yang biasa ia tonton dan dengar dari televisi dan youtube.
  • Anak 6 tahun ke atas = Boleh lebih dari 1 jam tetap dengan pendampingan dan pengawasan penuh. Penggunaannya juga harus diselang seling dengan aktivitas lain.

 

Bagaimana sekarang? Apakah temans masih mau membiarkan si kecil sibuk dengan gadget? Pilihan tentu ada di tangan masing-masing. 🙂

Bagaimana dengan yang ingin lepas gadget tapi anak sudah terlanjur terpapar? Bagaimana cara menghentikannya. Apalagi biasanya anak akan mengamuk bila tak diberi gadget.

Nah, inilah yang menjadi tugas bersama para orang tua. Tak bisa dipungkiri biasanya para orang tua spontan memberikan gadget pada anak untuk menghilangkan rasa bosan. Atau biar anak tenang dan duduk manis saat orang tua sibuk dengan suatu hal.

 

Menurut Bu Pradita dan Bu Dian Rose, berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kecanduan gadget pada anak.

  1. Lakukan secara bertahap
  2. Ajarkan anak komitmen dan aturan. Misalnya, gadget hanya digunakan untuk waktu tertentu saja. Bahkan papa dan mama menggunakan gadget hanya untuk bekerja.
  3. Luangkan lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan anak dan kurangi penggunaan gadget di sekitar mereka. Hal ini penting sekali. Karena tidak mungkin anak dilarang menggunakan gadget sedangkan orang tua mereka dengan bebas menggunakan di sekitar mereka. Anak akan sulit lupa dan akan penasaran dan ikut nimbrung bersama orang tua.
  4. Berikan Lebih Banyak Stimulus Salah cara memberikan lebih banyak stimulasi pada anak adalah dengan mengajak si kecil bermain bersama. Agar tidak bosan kita bisa memberikan mainan edukatif pada mereka. Mainan edukatif adalah segala bentuk mainan yang bisa merangsang kemampuan motoric dan sensorik anak sehingga bisa berfungsi optimal.

Yap… Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghentikan ketergantungan anak pada gadget. Peer besarnya tergantung pada seberapa yakin dank omit orang tua untuk membatasi penggunaan gadget pada anak. Tanpa peran dan pro aktif orang tua, kita tak bisa berharap banyak anak-anak berhenti bermain gadget.

Peran orang tua juga diperlukan untuk mendampingi dan memberi stimulasi. Misalnya, orang tua perlu memberi tahu anak tentang cara memainkan suatu permainan.

Menurut Bu Dian, sebanyak dan sebagus apapun mainan yang diberikan pada anak kalau hanya untuk dibanting-banting tidak akan berguna.

“Jadikan orang tua starter. Pemantik pada korek api yang memberi nyala. Beri anak mainan lalu tunjukkan mereka cara bermainnya. Setelah itu biarkan anak terpancing untuk berimajinasi dengan mainan yang diberikan.“

Nah, ngomongin soal mainan edukatif. Saat ini ada banyak jenis mainan edukatif yang bisa diberikan pada anak. Biasanya mainan edukatif lebih mengutamakan bekerja indera anak. Meski begitu sangat penting bagi orang tua untuk selektif dalam memilih mainan anak. Bisa jadi mainan yang dibelikan tidak aman dan mengandung bahan berbahaya.

Peluncuran situs online perlengkapan bayi terpercaya juniordept.com

Salah satu cara terhindar dari membeli mainan yang tidak aman adalah membeli di tempat terpecaya dan terjamin. Menjawab tantangan inilah kini hadir Juniordept.com, situs online belanja perlengkapan bayi terpercaya. Di situs ini tersedia aneka kebutuhan bayi dan anak yang terpilih dan dengan kualitas baik.

Ketika hadir dalam peluncuran situs belanja ini, saya melihat beberapa contoh barang yang dijual di sana. Memang, lebih terjamin keaslian dan kemanannya. Selain itu harga yang ditawarkan juga bersaing. Di situs tersebut, konsumen juga dimudahkan dengan pengelompokan jenis kebutuhan dan barang yang sesuai.

Well. Akhirnya, pilihan ada di tangan kita. Yuks mari bersemangat memberikan yang terbaik untuk tumbuh kembang si kecil.

🙂

Keep writing

Keep inspiring

 

 

23 Comments

Leave a Reply to Munasya Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *