Mengintip Museum Bali yang Mirip Pura dan Puri

 

Bali. Siapa yang tak kenal dengan pulau satu ini. Bahkan, bagi masyarakat internasional, Bali lebih dikenal dibanding Indonesia.

***

Kalau bicara tentang Bali, duh… selalu terkenang  hal-hal yang indah saja ya. Barangkali itulah juga  sebab ia mendapat julukan sebagai pulau dewata, pulau di mana para dewa tinggal dan memberikan berkah pada lingkungan sekitar.

Salah satu hal menarik dari Bali adalah keindahan alamnya. Asri, hijau di mana-mana. Bila berkeliling pulau dewata, wisatawan akan dengan mudah menemukan perkampungan, sawah dan pepohonan. Bangunannya pun juga khas. Bangunan bersejarah, tempat ibadah terpelihara dengan baik dan dilestarikan oleh pemerintah setempat.

Ngomong-ngomong bangunan, bila berkunjung ke Bali jangan kaget bila menemukan bangunan dengan arsitektur mirip tempat ibadah. Misalnya bangunan museum Bali yang dikelola oleh pemerintah propinsi. Bila dilihat sekilas bangunan museum bali mirip dengan pura.

Museum Bali terletak di Jalan Letkol Wisnu No.1, Denpasar. Untuk menemukan lokasinya tidaklah sulit karena terletak di pusat kota. Ukuran dan luas arealnya yang mencolok dibanding bangunan lain di sana. Di sebelah utara museum Bali terdapat Pura Jagatnatha.

Untuk bisa menikmati koleksi yang ada di museum Bali, setiap pengunjung akan dikenai tiket masuk. Masyarakat umum yang ingin melihat koleksi akan dikenai biaya masuk Rp5 ribu per orang. Sedangkan untuk keperluan khusus seperti pre wedding atau vedio shotting akan dikenakan tiket Rp150 ribu.

 

Sejarah pembangunan Museum Bali

Ide pembangunan museum ini tidak datang seketika. Sejak zaman penjajahan Bali sudah dikenal sebagai pulau untuk beristirahat. Banyak pedagang, pegawai pemerintahan, bahkan wisatawan yang datang berkunjung.

Saat itu hampir semua wisatawan kembali ke negaranya sambil membawa berbagai cendera mata untuk dijual lagi ataupun sebagai koleksi pribadi. Tak adanya control terhadap benda budaya yang dibawa ke luar pulau membuat Bali jadi kekurangan warisan benda budaya.

Pada 1910,W.F.J. Kroon, seorang Asisten Residen untuk Bali Selatan, memberikan gagasan yang didukung oleh para budayawan, seniman bahkan raja-raja Bali. Kroon mengajukan gagasan perlu pelestarian budaya Bali. Kroon memerintah seorang arsitek, Kurt Grundler untuk merencanakan pembangunan museum bersama para undagi, salah satunya I Gusti Ketut Rai dan I Gusti Ketut Gede Kandel.

 

Mengapa bentuknya mirip Pura dan Puri?

Saat merancang museum, Grundler menekankan bahwa bangunan ini adalah museum. Namun kedua undagi tak bisa melepaskan lontar asta kosala-klainnya sebagai tata adat dalam membangun sebuah bangunan. Ini adalah kepercayaan lokal tentang etika pembangunan gedung seperti halnya   feng shui bagi masyarakat Tiong Hoa.

Setelah mufakat antar semua pihak, akhirnya bangunan museum  yang terbangun pun membentuk menyerupai Pura (rumah ibadah) dan Puri (bangunan istana).

Museum ini dibangun di lahan seluas 2.600 meter persegi dengan pintu masuk berupa bangunan candi bentar dan candi kurung. Meseum ini secara resmi dibuka pada tanggal 8 desember 1932.

 

 

Koleksi yang disimpan dan dipamerkan pada wisatawan

Benda-benda koleksi yang ada di Museum Bali adalah benda-benda sejak zaman prasejarah hingga semua benda yang memiliki unsur kebudayaan Bali. Beberapa di antaranya koleksi arkeologi, koleksi historika, koleksi seni rupa, koleksi ethnogafika, koleksi biologika, koleksi numismatika, koleksi filologika, koleksi keramalogika dan koleksi tehnologika.

Letak Museum Bali tidak jauh dari bandara Ngurah Rai. Kalau temans tiba di Bali menggunakan pesawat, sebaiknya langsung sewa mobil saja via Omo cars, nanti mobilnya bisa diambil di bandara juga. Setelah itu temans bisa bermobil sekitar 45 menit ke Museum Bali.

Selamat berlibur ya. 🙂

sumber :

  • Laman resmi Dinas Pariwisata Bali
  • Laman resmi Pemerintah Kota Denpasar

 

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *