Dokter Lintas Batas, Mereka yang Bertaruh Nyawa untuk Kemanusiaan

dokter-lintas-batas-msf

Dalam keadaan apapun, penyerangan terhadap warga sipil dan fasilitas kesehatan tak dapat dibenarkan. Bahkan ketika konflik dan perang sekalipun. Karena warga sipil bukanlah target. We Are Not a Target.

***

Selasa, 16 Agustus 2016 menjadi hari yang tak terlupa bagi Lukman Hakim. Dokter yang sudah tiga tahun menjadi relawan pada pusat organisasi Dokter Lintas Batas (MSF) menyaksikan sendiri bagaimana kebrutalan perang telah melampaui batas kemanusiaan.

Siang itu, Dokter Lukman berada tak jauh dari sebuah Rumah Sakit yang berada di Kota Abs Provinsi Hajjah, barat laut Yaman. Sudah lebih dua bulan dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar itu ditugaskan di sana. Saat menginjakkan kaki di Abs, Yaman masih dibayang-bayangi konflik yang berkecamuk di beberapa wilayah sekitarnya.

Seperti hari biasa, ia tengah bekerja di kamp MSF yang menjadi tempat penyimpanan bantuan medis untuk membantu beberapa daerah di Yaman yang tengah berkonflik. Ia tak pernah menyangka, kota Abs yang sebelumnya relatif tenang dan aman dari konflik mendadak berubah.

“Tiba-tiba kami dikejutkan dengan serangan udara yang diarahkan langsung ke rumah sakit yang menjadi wilayah kerja kami,” ujar Dokter Lukman pada saya.

Saya dan Dokter Lukman bertemu pada acara blogger gathering yang digelar MSF di kawasan Cikini, Sabtu, 26 November lalu. Tak banyak yang hadir, sekitar sepuluh orang.

Situasi rumah sakit di Hajjah Yaman pasca serangan, dok : MSF
Situasi rumah sakit di Hajjah Yaman pasca serangan, dok : MSF

Serangan ke rumah sakit di Abs bukanlah yang pertama di Yaman. Menurut laporan Direktur Informasi PBB, Alessandra Vellucci, seperti dikutip dari parstoday.com, lebih dari 70 pusat medis dan rumah sakit di Yaman menjadi sasaran pemboman jet-jet tempur Arab Saudi selama masa konflik. Tiga di antaranya merupakan pusat organisasi Dokter Lintas Batas (MSF).

Tak lama setelah serangan udara itu, Dokter Lukman bersama beberapa dokter dan petugas medis yang bekerja untuk MSF bergegas menuju rumah sakit. Apa yang mereka temukan sungguh di luar batas kemanusiaan. Sebagian besar gedung rumah sakit hancur.

Pekik ketakutan terdengar di mana-mana. Pecahan kaca berhamburan. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri. Dan beberapa pasien yang berada di area pengeboman, lemas tak berdaya.

“Kami langsung melakukan tindakan apa saja yang kami bisa. Pertolongan pertama diberikan pada pasien yang mengalami luka serius dengan peralatan seadanya.”

Di tengah amarah yang menyala, Dokter Lukman dan tim memberi tindakan darurat. Mereka juga bekerjasama dengan tenaga medis lokal. Pasien yang butuh perawatan lebih lanjut segera dirujuk ke rumah sakit terdekat dan ibukota negara. Sebanyak 11 orang meninggal, satu di antaranya merupakan relawan MSF. Sedangkan  19 orang lainnya luka – luka.

Setelah memberikan pertolongan pertama, Dokter Lukman dan rekan segera melapor pada perwakilan MSF di Yaman. Demi keselamatan pada relawan, hari itu juga mereka ditarik kembali ke ibukota negara. Keputusan pahit ini harus diambil karena tak ada jaminan dari pemerintah setempat atas keselamatan para relawan. Di sisi lain, juga tak ada tanda-tanda penurunan eskalasi serangan dari jet-jet tempur agressor.

“Tak ada pilihan. Sebagai lembaga kemanusiaan, MSF juga punya prosedur dan batas. Ada saat di mana kami tak bisa berbuat banyak. Dan memilih mundur untuk kemudian kembali,” ujar Dokter Lukman.

Benar saja. Setelah menarik relawan yang terdiri dari dokter dan petugas medis dari Arbs, MSF tak lantas melupakan kota itu. Beberapa waktu kemudian, MSF kembali memberikan bantuan berupa peralatan medis dan obat-obatan.

Bersama lembaga kemanusiaan internasional lainnya, MSF turut membantu renovasi rumah sakit. Berdasarkan informasi terkini, menurut Dokter Lukman kini rumah sakit di Abs itu telah beroperasi kembali.

Bekerja Demi Kemanusiaan

Relawan MSF saat bekerja pada situasi krisis.
Relawan MSF saat bekerja pada situasi krisis.

Menjadi dokter di daerah konflik dan bencana, tentu bukan perkara mudah. Pertaruhan nyawa adalah hal pertama yang selalu mengintai. Belum lagi cibir dan sindir dari kelompok-kelompok yang tak senang. Namun itulah jalan yang dipilih dokter Lukman Hakim. Sejak lulus kuliah, ia memilih langsung bergabung menjadi pekerja kemanusiaan di MSF.

Sebelum ditempatkan di Abs, Lukman pernah menangani pasien kala azar atau sleeping sickness di Sudan Selatan. Penyakit Kala Azar merupakan penyakit langka yang sudah jarang muncul. Ia juga pernah ditempatkan di daerah miskin dan berkonflik di Pakistan.

Pengalaman bekerja di daerah konflik bukannya menciutkan nyalinya, justru membuat rasa kemanusiaannya kian terpanggil untuk terus bisa mengabdi memberi bantuan kesehatan di bawah misi kemanusiaan.

“Dari zaman kuliah saya sudah biasa turun ke daerah bencana. Jadi ketika seorang teman memperkenalkan saya dengan MSF, saya langsung tertarik dan bergabung. Bekerja di daerah bencana dan konflik semakin meyakinkan saya akan arti hidup yang sesungguhnya.”

Dokter Lukman bukanlah satu-satunya dokter dan tenaga medis Indonesia yang bekerja untuk MSF. Saat ini tercatat puluhan nama dokter, tenaga medis, dan relawan yang tergabung dengan organisasi kemanusiaan internasional ini. Mereka pernah terlibat dalam penanganan wabah kolera dan perang di Sudan Selatan, penanganan gelombang pengungsi di Serbia, penanganan HIV/AIDS di Mozambique.

msf-di-indonesia

Tak hanya di luar negeri. MSF juga telah beberapa kali terlibat dalam tindakan kemanusian di dalam negeri. Aktivitas MSF di Indonesia bermula pada 1995 saat terjadi gempa bumi di daerah Gunung Kerinci.

Sejak itu lembaga ini terlibat aktif dalam penangan medis di beberapa provinsi. Pada 1998, ketika terjadi wabah malaria di puncak Jayawijaya Papua, MSF mengirimkan helikopter dan relawan melakukan penyemprotan di 179 desa. Mereka melakukan pencegahan malaria terhadap 300 ribu warga.

Selama berada di Indonesia  mencakup layanan medis di fasilitas kesehatan dasar, pelatihan tenaga kesehatan, serta memperkenalkan inovasi pengobatan yang lebih efektif dalam menangani penyakit menular. Officially program ini berakhir pada 2009. Setelah itu program MSF lebih bersifat tanggap darurat dan rehabilitasi pada daerah bencana.

Di dunia internasional Dokter Lintas Batas sudah beroperasi sejak didirikan di Perancis pada 1971. Misi kemanusiaan pertama mereka dilaksanakan di Nikaragua pada 1972. MSF merupakan organisasi independen yang menjalankan misi tanpa melihat latar belakang SARA. Dalam hal pendanaan, lebih dari 85 persen kegiatan mereka berasal dari donator individu.

We are Not a Target

not-a-target

Pengalaman terlibat dalam berbagai aksi kemanusiaan di berbagai belahan dunia membuat MSF semakin yakin pentingnya peningkatan kesadaran bersama dunia internasional atas penghormatan terhadap kemanusiaan. Menjunjung tinggi hukum Humaniter Internasional (International Humanitarian Law)  yang melarang keras penyerangan terhadap petugas medis dan fasilitas kesehatan meskipun dalam keadaan konflik dan perang.

Intan Febriani, Communication Manager MSF Indonesia, mengatakan kampanye ini hingga kini terus disuarakan hingga meja-meja perundingan internasional seperti PBB. Namun, aksi kekerasan dan penyerangan kepada masyarakat sipil dan petugas kesehatan terus berlanjut.

“Ini adalah kampanye bersama yang terus akan kami suarakan. Bahwa masyarakat sipil bukanlah target penyerangan. We are Not a Target.” ujar Intan.

Sebagai upaya menggalakkan kampanye We Are Not a Target  dan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai kegiatan kemanusiaan yang terjadi di berbagai belahan dunia ini pula, MSF berinisiatif menggelar pameran foto, film screening, dan diskusi bertajuk “No Borders”. Rangkaian kegiatan akan berlangsung selama 10 hari, 8-18 Desember 2016 di Mal Grand Indonesia, West Mall, Lantai 5, Exhibition Hall.

 

msf-no-borders

 

Siapa saja bisa datang dan menyaksikan kegiatan ini  Sekaligus menunjukkan dukungan atas berbagai misi kemanusiaan internasional. Acara terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

Selama eksibisi, masyarakat yang datang bisa merasakan tiga pengalaman kemanusiaan sekaligus. Pameran ini diharapkan bisa menggugah kesadaran lebih banyak orang tentang pentingnya melindungi keselamatan para pekerja kemanusiaan dan rumah sakit di tengah-tengah konflik.

Pameran dan eksibisi foto

  1. Battling Neglected Diseases

Pameran ini berisi kisah para tenaga medis MSF, pasien, dan dinas kesehatan melawan wabah penyakit. Selain foto, pengunjung bisa melihat langsung jubah Ebola yang digunakan tenaga kesehatan MSF di bangsal perawatan ebola di Liberia, Sierra Leone, Guinea (Afrika Barat).

  1. Because Tomorrow Needs Her

Berisi pameran foto seputar layanan kesehatan perempuan sejak remaja, hamil, dan melahirkan.  Di salah satu sudut ruang pameran, pengunjung bisa membaca diary seorang perempuan yang hamil dan melahirkan di tengah pengungsian.

  1. Krisis Pengungsi

 Materi pameran yang spesial pada  bagian ini adalah pelampung yang dipamerkan merupakan pelampung asli yang telah digunakan pengungsi menyeberangi Laut Tengah menuju Yunani.

 

Talkshow dengan Speakers Corner

Berikut beberapa materi talkshow yang akan dihadirkan selama kegiatan

  • New Frontieres of Global Health and Humanitarian Response/ Tantangan Baru dalam Kesehatan Global dan Respons Kemanusiaan. Waktu : Kamis,  8 Desember 2016. Pukul 3:00 PM
  • Challenges and Models of Adolescent Reproductive Health/Model Pelayanan Kesehatan Reproduksi untuk Remaja. Waktu : Jumat, 9 Desember 2016. Pukul 2:00 PM
  • Traveling Beyond Borders. Waktu: Sabtu, 10 Desember 2016. Pukul 4:00 PM. Speakers: Dr. Rangi Wirantika (MSF) & Windy Ariestanty (travel writer)
  • Meet up with MSF Field Workers. Minggu, 11 Desember 2016, Pukul  2:00 PM
  • Hospital Attacks in Conflict Zones: What Can We Do? Waktu: Jumat 16 Desember 2016. Pukul 2:00 PM. Speakers: MSF & Komite Internasional Palang Merah (ICRC)
  • Access to Affordable Medicines. Date: Minggu 18 Desember 2016 pukul 1:00 PM (after Fire in the Blood film screening). Speakers: Koalisi Obat Murah Indonesia – Indonesia Aids Coalition (IAC)
  • Photography for Humanity. Waktu : Minggu, 18 Desember 2016 pukul 4:00 PM. Speakers: Beawiharta (Reuters photographer, Jakarta-based) & Paula Bronstein (Getty Images photographer, Bangkok-based)

Pemutaran Film

  1. Living in Emergency

Jumat, 9 Desember, 19:00

Sabtu, 17 Desember 19:30 (+ bincang-bincang bersama field workers MSF)

Sutradara/Director        : Mark Hopkins

Bahasa/Language           : Inggris dengan teks Bahasa Indonesia/English with Indonesian subtitle

Durasi/Duration             : 90 menit/90 minutes

Dokumenter ini mengikuti empat dokter MSF yang bekerja di Liberia dan Republik Demokratik Kongo dalam kondisi kerja yang terkadang cukup ekstrem. Sebuah gambaran nyata tentang para pekerja MSF di misi kemanusiaan.

 

  1. Fire in the Blood

 

Sabtu, 10 Desember, 11:00

Minggu, 18 Desember, 11:00 (+bincang-bincang bersama Koalisi Obat Murah )

Sutradara/Director        : Dylan Mohan Gray

Bahasa/Language           : Inggris dengan teks Bahasa Indonesia/English with Indonesian subtitle

Durasi/Duration             : 87 menit/87 menit

Film documenter ini mengangkat kisah nyata perjuangan sekelompok orang yang menentang monopoli obat-obatan, hingga akhirnya obat HIV generic bisa tersedia di Afrika Selatan dan negara berkembang lainnya di dunia.

 

  1. The Invisibles

 the-invisibles

Sabtu, 10 Desember 19:30

Jumat, 16 Desember 19:00

Sutradara            : Wim Wenders, Mariano Barroso, Isabel Coixet, Javier Corcuera, Fernando León de AranoaBahasa                 : Swahili, Spanyol, Inggris dengan teks Bahasa IndonesiaDurasi                  : 95 menit

 Javier Bardem, actor pemenang Academy Award, mempertemukan Wim Wenders dan empat sutradara lain untuk menggarap lima film pendek tentang krisis yang terabaikan di beberapa negara di dunia.

***

Dan sekarang, sebagai seorang warga sipil sudahkah kita bersikap. Apa yang sudah dan akan kita lakukan untuk kemanusiaan. Hmmm…

 

Bintang bersemangat menjadi bagian dari kampanye We Are Not a Target MSF
Bintang bersemangat menjadi bagian dari kampanye We Are Not a Target MSF

you-can-do-something-msf

 

 

 

24 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *