Dolar Naik, Ternyata Ini Dampaknya untuk Rumah Tangga

dolar-naik

Rupiah melemah, dolar naik. Ah suka pusing ga temans kalau di televise dan linimasa dari pagi sampai sore ngomongin soal nilai tukar rupiah seperti ini.

***

“Pemirsa, setelah sempat menguat pada penutupan tadi malam, hari ini rupiah kembali melemah. Ketika pasar dibuka, rupiah bertengger pada posisi bla….bla… bla…”

Kalau suami lagi ada di rumah, mau tak mau saya jadi kebagian mendengar berita begini nih. Bisa pagi atau malam. Si Pak Suami memang suka sekali mindahin channel ke berita ekonomi. Ga tahu juga ya, apa karena insting kebapakan atau memang karena pekerjaannya berhubungan dengan market dan pasar.

Nah biasanya, kalau sudah urusan spesifik tentang financial ini saya sering bingung sendiri. Sebenarnya kenaikan dolar itu berpengaruh ga sih dengan rumah tangga. Apa cuma berpengaruh untuk perekonomian nasional saja.

“Bang, emang ngaruh ya buat dapur. Ngapain sih pusing-pusing mantengin berita kenaikan dolar segala,” ujar saya.

Ealah, bukannya diberi penjelasan biasanya saya bakal diketawain. “Ya iyalah dek, memang keperluan dapur tak dibeli dengan rupiah.”

Nah jadi penasaran dong. Apa iya kenaikan dolar berpengaruh terhadap keuangan rumah tangga. Kalau memang berpengaruh, berarti penting juga nih ternyata. Maka jadilah saya ambil kuliah 3 sks mendadak mengenai Pengaruh Kenaikan Dolar terhadap Keuangan Rumah Tangga dari si Pak Suami. Hahaha, serius amat ya mata kuliahnya.

rupiah-melemahOke, setelah ngobrol dicampur selingan ini dan itu akhirnya saya mengerti, bahwa kenaikan harga dolar juga berpengaruh terhadap keuangan rumah tangga. Tak Cuma buat negara saja. Kalau cuma berpengaruh pada keuangan negara biarlah ya Ibu Sri Mulyani, dan Pak Joko Widodo saja yang sibuk.

Lah lantaran ternyata kenaikan dolar juga berpengaruh pada keuangan rumah tangga, so yuk kita cari tahu. Apa sih dampak negatif dan positifnya pelemahan dolar terhadap dapur keluarga?

Dampak Negatif Kenaikan Dolar

  1. Barang Impor jadi Mahal

Semua barang barang impor seperti kosmetik, motor, mobil hingga sendok makan akan mahal. Jadi selama dolar naik, para Moms harus menguatkan ikat pinggang biar ga tergoda untuk membeli produk impor. Kalaupun lagi ada barang yang diincar bookmark dulu aja. Syukur-syukur setelah rupiah stabil lagi barangnya masih ada. Kalau tidak ya wasalam.

  1. Harga makanan impor naik

Produk makanan turunan impor juga bakal naik harganya. Ssst, jangan bayangkan produk makanan di sini yang cuma yang kebarat-baratan seperti keju, sosis ya. Makanan olahan lokal berbahan impor juga bakal berpengaruh. Seperti Tahu-tempe karena bahan dasar kedelai yang dipakai biasanya impor. Segala produk olahan tepung terigu juga lho.

Dan yang paling berasa itu kenaikannya biasanya susu dan segala produk olahannya. Hmmm, yang di rumah masih punya krucils yang aktif menyusu bakal merasakan langsung nih. Kenaikan dolar berarti kenaikan harga susu.

  1. Harga emas akan turun

Kalau mau beli sih enak, e kalau mau jual emas pas dolar naik sebaiknya mikir-mikir dulu deh. Mending tunggu rupiah stabil lagi. Susahnya itu kalau memang lagi kepepet, ya apa boleh buat.

Penurunan harga emas ini juga bakal berasa yang punya simpanan emas untuk jangka panjang. Karena nilai emas turun akibatnya nilai investasi yang ditanam tak akan semenggiurkan ekspektasi awal. Eh tapi biasanya nilai emas tidak hanya terpatok pada kurs nilai tukar saja.

  1. Berkurangnya belanja barang pemerintah.

Melemahnya nilai tukar rupiah biasanya membuat pemerintah menekan belanja. Alasannya, ketika dolar mahal pemerintah terpaksa membayar hutang luar negeri dengna nilai lebih besar. Padahal pemasukan yang diterima sama. Maka satu-satunya jalan adalah menekan belanja seperti catering, acara di hotel, pengadaan alat tulis hingga belanja fisik seperti membuat jalan, gedung.

Kalau pemerintah menurunkan belanja fisik otomatis proyek pembangunan yang biasanya membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar bakal dikurangi. Imbasnya ya tukang bunga yang biasa masok hotel, tukang bawang, tukang sayur yang masok juga ikutan berkurang omsetnya. Untuk buruh bangunan biasanya juga bakal ada pengurangan jumlah pekerja. Nah jadi panjang kan rentetannya.

Eh tapi, kenaikan dolar dan penurunan nilai rupiah juga ada lho manfaatnya. Jadi tak hanya berdampak negative saja.

Dampak Positif Pelemahan Rupiah

social-shopping

  1. Keuntungan Eksportir berlipat

Misalnya perusahaan meubel seperti yang dipunya Pak Joko Widodo. Berkah melimpah diterima karena nilai uang hasil penjualan di luar negeri ketika diganti dengan rupiah jadi lebih besar. Memang sih harga jual di pasar internasional sama saja, tetapi bawa pulangnya yang berasa. Nah, kalau pengusaha lokal banjir rezeki nanti yang merasakan manfaat ya pekerja. Lalu pekerja membelanjakan uangnya di pasar dan berdampak untuk masyarakat lebih luas.

  1. Daerah wisata kebanjiran bule

Asyik. Ini bakal berimbas buat temans yang tinggal di daerah tujuan wisata. Jadi tambah rame yang datang tambah mengalir dong rezekinya.

  1. Petani Komoditas untung

Daerah yang menghasilkan produk ekspor seperti petani kopi, karet hingga sawit ikutan menikmati kenaikan harga. Ujung-ujungnya rumah tangga warga jadi bahagia.

  1. Orang jadi senang produk lokal

Orang jadi senang produk lokal, karena kalau beli yang impor-impor pasti mahal. Misalnya wortel. Daripada beli wortel impor yang mahal ya mending beli wortel lokal. Hemat kan, rasanya juga sama. Hanya bentuknya saja yang tak se wah wortel impor.

  1. Terjadi Penghematan Massal

Karena harga barang impor pada naik, jadinya kita bakal mikir-mikir buat belanja. Ujung-ujungnya terjadi penghematan dalam keluarga. Atau kalau tetap belanja akhirnya pilih beli produk lokal saja. Jadi tambah diuntungkan dong ya pengusaha lokal.

 

So, itu dia kira-kira dampak negatif dan positif kenaikan dolar dan pelemahan rupiah terhadap ekonomi mikro kita di lokal. Hmmm, ternyata kenaikan dolar itu ga cuma berarti buruk ya. Oke deh, sip=sip catat. Nanti kalau anak-anak sudah sekolah dan bertanya, Emaknya ini tak susah lagi memberi penjelasan. Hihi…

2 Comments

Leave a Reply to Noni Khairani Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *