Kisah Bertemu Buaya di Sungai Singingi

Bila ada yang bertanya pengalaman berkesan dan tak terlupakan dalam hidup, maka kisah sehari mengarungi Sungai Singingi, akan masuk dalam daftar saya.

***

Suatu pagi medio Januari 2008, cuaca cerah menangkupi Desa Sungai Pauh. Sungai Pauh adalah desa yang terletak di Kecamatan Singingi, Kabupaten Kuantan Singingi,  Provinsi Riau. Sungai Pauh berada di hilir Singingi. Di Desa itu pula aliran sungai Singingi bersatu dan masuk ke aliran sungai Kampar Kiri untuk kemudian mengalir ke laut.

Kejadiannya sekitar tujuh tahun lalu. Hari itu, bersama dua orang teman saya akan mengarungi Sungai Singingi untuk melakukan penelitian mengenai aktivitas penambangan emas liar yang saat itu marak di sana.

Seperti biasa, saya sudah siap dengan peralatan tempur, kamera saku, buku catatan, dan pena. Waktu itu gadget belum sepopuler sekarang sehingga untuk urusan catat mencatat saya masih mengandalkan pena dan kertas.

Dengan semangat kami bertiga menuju dermaga kayu. Namanya Pelabuhan Koto Baru. Tempat masyarakat biasa menyandarkan perahu. Sungai Singingi memang terbilang lebar. Di dermaga ada perahu yang biasa disewa warga untuk menyeberang ke desa di balik sungai. Namun hari itu, saya dan teman sedang tidak ingin menyeberang. Kami akan menyusuri sungai.

Di dermaga seseorang sudah menunggu kami dengan sampan mesin. Dia adalah tekong Abe. Tekong merupakan istilah untuk penarik sampan di sana. Tekong Abe dikenal oleh penduduk sekitar sebagai tekong yang teliti, dan hati-hati. Ia juga dikenal gesit dan tangkas dalam melewati arus sulit.

“Bagus kalau kalian dibawa tekong Abe, dia aman dan hati-hati,” celetuk seorang bapak paruh baya pada kami.

Arus Singingi hari itu agak tinggi dari biasa. Musim penghujan yang terjadi sepanjang akhir tahun menyebabkan debit air sungai Singingi naik. Hal ini berarti dua hal untuk tekong Abe. “Kalau air pasang ada untungnya, sampan jadi tak kena tali-tali. Tapi untuk menghilir agak payah karena arusnya deras.”

Setelah memberi pengarahan singkat, kami bersiap berangkat. Kami dibagi menjadi dua kelompok. Saya bersama satu teman dan Tekong Abe. Sedangkan teman satu lagi naik sampan berbeda.

Hari itu sebenarnya saya agak deg-degan. Bukan lantaran karena penelitian yang akan kami lakukan sedikit berbahaya. Bagaimana pun objek yang akan kami amati siang itu adalah aktivitas penambangan emas liar. Otomatis mata-mata tak suka akan saya hadapi sepanjang perjalanan. Begitu pula ketika harus bertemu dan mewawancarai beberapa orang.

Hal yang membuat saya deg-degan adalah karena saya tak mahir berenang. Kalau boleh diskala 1-10 maka nilai saya untuk berenang hanya 6. Apalagi hari itu kami harus berhadapan dengan arus liar Sungai Singingi yang deras. Namun, dengan keyakinan bulat dan yakin bahwa sudah tersedia tong kosong sebagai penyelamatan darurat, saya pun merasa aman. Ditambah lagi saya percaya, tekong Abe akan siap siaga bila terjadi apa-apa.

Setelah mengarung sungai sekitar 20 menit dan melewati banyak penambangan liar milik warga, kami memasuki kawasan yang agak rimbun. Di kiri dan kanan tak ada aktivitas penambangan. Apalagi rumah warga. Yang ada adalah pohon besar. Menurut Tekong Abe, daerah itu adalah kawasan hutan warga.

Di sini saya merasakan suasana berbeda. Bila sebelumnya arus sungai terasa deras, di sekitar kawasan ini sungai terasa lebih tenang. Barangkali karena di daerah ini sungainya lebih dalam. Selain sungai yang tenang saya juga merasa areal ini sedikit hening.

Begitu memasuki kawasan hutan warga, Tekong Abe mematikan mesin sampan. Ia memilih hanyut bersama arus sungai. Waktu itu saya sempat bertanya, kenapa ia mematikan mesinnya. “Ini daerah larangan. Di sini warga dilarang memancing dan menjala ikan. Ikan di daerah larangan ini hanya bisa dipanen sekali dalam setahun.”

Sebelumnya saya memang sempat mendengar cerita mengenai daerah larangan. Di beberapa daerah di Riau ada tradisi masyarakat berupa sungai larangan. Peraturannya hampir sama di setiap daerah.

Di daerah sungai larangan, biasanya masyarakat tak diperkenankan melakukan aktivitas harian seperti mandi, mencuci, dan juga menangkap ikan. Barangkali karena alasan itu pula di daerah larangan ini tak ada aktivitas penambangan emas.

Semakin masuk menyusur daerah larangan, saya merasa suasana semakin hening. Tiba-tiba saya merasa sepersekian detik tak ada angin bertiup. Hening. Benar-benar hening. Saat itulah saya melihat ke arah air.

Persis di arah sampan kami, saya melihat benda hitam berbentuk seperti tunggul kayu. Namun ada gerigi lancip di atasnya. Firasat saya mengatakan ada sesuatu dengan benda hitam yang mengapung di permukaan air itu. Tak dinyana, perahu yang kami tumpangi melaju ke arah tunggul kayu itu.

Sreg, hati saya berdebar. Saya merasa kenal dengan ciri penampakan seperti itu. Kata orang-orang, di sungai yang dalam bila melihat seperti kayu terapung di air, hati-hati bisa saja itu buaya.

Darah saya mengalir deras. Saya  melihat ke arah Tekong Abe, dan juga teman yang menumpang dengan perahu lainnya. Mereka diam seribu bahasa.

Mulut saya seperti terkunci saat itu juga. Tunggul kayu yang saya duga sebagai buaya itu kini persis berada di samping kami. Kalau saya boleh menjangkau, saya bisa menjangkaunya. Perlahan benda panjang hitam itu menghilang, tenggelam ke dasar sungai. Lalu terlihat sudut-sudut lancip bergerigi mengapung di permukaan. Sementara perahu kami terus melaju.

Dari sana, Tekong Abe masih belum bersuara. Saya masih penasaran namun juga tak berani berkata apa-apa. Dalam hati saya masih menyimpan perasaan aneh dengan benda hitam yang baru saja kami lewati. Melewati daerah sungai larangan, mesin sampan kembali dinyalakan. Sekitar lima menit, kami pun sampai di dermaga tempat pemberhentian.

Di dermaga, rasa penasaran saya kembali mengemuka. Segera saya mendekati tekong Abe hendak bertanya perihal benda hitam panjang seperti gelondongan kayu yang tadi kami jumpai. Namun Tekong Abe sudah mengerti maksud saya. Sebelum bertanya, ia memberi penjelasan terlebih dahulu.

“Mba benar. Yang tadi di samping kita itu buaya. Kalau di sungai kita berpapasan dengannya, kita tak boleh bersuara agar dia tak terganggu.”

Alamakjang! Ternyata benar dugaan saya. Berarti tadi itu, persis, satu depa dari kami saya tengah berada di samping buaya liar di alam terbuka. Tuhan! Saya tak bisa bayangkan bila saja tadi si buaya mengamuk. Andai si buaya marah dan murka. Ah saya benar-benar tak bisa membayangkannnya.

Saat itu yang bisa saya lakukan hanya bersyukur sebanyak-banyaknya. Berterima kasih pada pemilik langit dan bumi yang menyelamatkan kami dari amukan buaya liar. Bersyukur atas pengalaman tak terlupa yang hari itu saya dapat. ***

Add a Comment

Your email address will not be published.