Untuk Dia yang Menolak Sakit

Tak ada yang berharap menjadi sakit. Itu Pasti. Setiap orang ingin sembuh. Namun, tak  semua bisa selalu merasakannya.  Untuk selalu fit juga butuh perjuangan. Bagaimana bila sakit itu akhirnya datang?

***

“Bang ayo kita ke dokter,” ujar saya pada suami waktu itu.

“Tidak Dek. Ini tak apa-apa kok. Hanya butuh istirahat saja.”

Kejadiannya memang sudah berlalu. Sekitar sebulan lalu. Waktu itu kami baru selesai pindahan. Namun, percakapan hari itu masih membekas di hati hingga kini lantaran banyak pelajaran yang saya petik dari sana.

Dua bulan terakhir, keluarga kami melewati banyak hal. Pindah rumah, renovasi kecil-kecilan, bersosialisasi dengan lingkungan baru, serta  membiasakan diri menempuh rute baru untuk segala urusan di Jakarta. Untuk urusan sosialisasi, saya salut dengan kemampuan si sulung Bintang dan juga Zizi. Mereka berdua sama sekali tak mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan baru.

Bagi saya sendiri, perubahan yang paling terasa adalah ketika harus menjadi ibu-ibu komplek dalam artian sebenarnya. Pengajian, setiap pagi ngumpul dengan tetangga sambil mengerubungi tukang sayur, dan ikut kerja bakti atau rapat RT. Hal yang ketika di rumah lama boleh dibilang jarang saya lakukan.

Di antara kami berempat, yang mengalami hari-hari berat adalah suami. Saya tahu, pada sekitar hari pindahan, waktu dan tenaga suami banyak terkuras untuk mengurus hal detail. Memastikan rumah yang akan kami tinggali layak dan nyaman, dan memastikan proses kepindahan berjalan lancar. Meski kelihatan sepele, urusan kemas-mengemas dan bongkar barang tentu saja telah menguras energinya.

Setelah pindah, suami juga harus menyesuaikan diri dengan rute perjalanan baru, Cikarang-Jakarta. Berbeda dengan saya yang lebih banyak stay di rumah. Pertarungan menghadapi kepadatan jalanan menuju ibu kota hanya saya rasakan bila mengikuti event blogger atau bertemu dengan kolega. Itupun satu minggu paling hanya satu kali.

aktivitas pindahan, Bintang langsung berbaur dengan tetangga.

Padatnya aktivitas dengan segala hal baru yang dialami selama dua bulan terakhir inilah yang berpengaruh pada suami. Pada pekan kedua, stamina suami mulai menurun.  Ia terlihat kurang bersemangat. Suaranya pun menjadi sedikit serak. Tetapi, setiap kali saya bertanya apakah ia merasa tak enak badan, suami selalu mengelak.

“Biasa aja kok Dek. Paling juga perasaan Adek saja,” begitu selalu ia memberi alasan. Alih-alih mengakui, suami malah balik menyanggah dan menyatakan analisa saya keliru.

Saya tahu, suami memang selalu berusaha  terlihat baik. Saya yakin, ia menyembunyikan rasa letih. Ia menolak sakit. Padahal menurut saya, adalah hal wajar bila sesekali ia sakit. Namanya juga manusia. Siapa yang melarang sakit. Tapi begitulah karakter suami sejak dulu.

Ia, lelaki yang saya kenal sejak 13 tahun lalu dan hidup bersama hampir lima tahun adalah sosok keras hati. Terutama dalam masalah kesehatan. Saya ingat dulu ia pernah berkata, “Kalau cuma flu itu tandanya tubuh butuh istirahat. Kalau sudah beberapa hari istirahat tidak baikan baru perlu diperiksa ke dokter,” ujar dia.

Selama hampir dua hari ia pun memilih istirahat di rumah. Tidak pergi ke mana-mana. Badannya masih terlihat lemas. Saya jadi salah tingkah. Apalagi selama ini suami sangat jarang sakit.

Rasa sedih dan perasaan bersalah menggelayuti hati. Saya merasa sedih melihat ia sakit. Merasa bersalah lantaran sejak kepindahan saya memang kurang memperhatikan asupan nutrisi dan vitamin untuk keluarga. Mungkin karena juga larut dalam mengurus ini dan itu. Jadilah saat itu perasaan campur tak menentu.

“Dear Suamiku,

Andai aku bisa membalik waktu,

Tak akan kubiarkan sedetikpun berlalu

Tidak juga untuk membiarkan penyakit itu datang padamu

Namun suamiku,

Bila sakit itu akhirnya datang,

izinkan aku merawatmu,

menjagamu dengan sepenuh hati,

hingga tak ada lagi yang berani menghinggapi”  

from my deep heart, Ami…

 

Perasaan campur aduk, menguatkan hati saya untuk segera mencarikan solusi. Tak boleh ada ruang bagi virus-virus menyerang daya tahan tubuh suami lebih jauh. “Saya harus segera mencari penawarnya.” Keyakinan itu menguat di dada.

Biasanya, kami ‘keras’ dalam hal pemenuhan nutrisi. Saya belajar banyak dari suami tentang pentingnya tindakan pencegahan dari sakit. Apalagi pada masa pancaroba, ketika tubuh lebih rentan terkena sakit. Misalnya dengan banyak minum air putih, memastikan asupan buah dan sayur terpenuhi, dan memperbanyak istirahat.

“Sakit itu dipicu kekurangan vitamin dan mineral sehingga menyebabkan penurunan daya tahan tubuh. Makanya harus terus menjaga asupan vitamin dan mineral,” ujar suami selalu mengingatkan saya.

 

Yup, dari berbagai referensi, saya mengetahui bahwa tubuh sangat butuh asupan nutrisi yang cukup. Untuk menjaga stamina tetap prima, setidaknya tubuh butuh beberapa zat utama seperti magnesium, zinc, vitamin A,B, C, D, dan E. Tubuh juga perlu mineral esensial lain seperti zat besi, tembaga, mangan dan iodium.

Banyak memang ragam vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh. Makanya butuh komitmen kuat dari dalam diri untuk memastikan semua kebutuhan nutrisi tercukupi setiap hari. Belum lagi asupan suplemen alami lain seperti madu, dan sari kurma. Sehari saja lalai dan malas, bisa menurunkan daya tahan tubuh seketika.

Dan harus saya akui, saat itu saya lalai. Saya lengah memastikan pemenuhan nutrisi dan mineral untuk keluarga.  Waktu yang tersita untuk mengurus beberapa hal membuat saya lupa dengan asupan nutrisi untuk suami. Padahal saat berat seperti itu seharusnya diimbangi dengan makanan sehat pula.

Add a Comment

Your email address will not be published.