Tentang Rezeki dari Langit

rezeki-dari-langit

Yey, akhirnya publish juga. Artikel yang sebetulnya sudah saya ancar sejak sebulan terakhir, namun selalu tertunda. Yup, seperti judulnya ini adalah cerita tentang sesuatu yang berharga. Yang diturunkan dari langit untuk pelengkap kebahagiaan dan kehangatan di rumah kami. πŸ™‚

Cerita ini bermula sejak kepindahan saya ke rumah baru di daerah Cikarang.Β  Kami pindah persis di hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-71. Saat truk bermuatan perlengkapan rumah mendarat di rumah baru, saat itu di komplek tengah berlangsung perayaan 17 Agustusan. Jadilah kepindahan kami diiringi riuh rendah tepuk tangan dari para tetangga.

Saya sangat bersyukur dengan kepindahan ini. Apalagi Bintang dan Azizah juga bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. Bahkan di hari kepindahan itu, Bintang langsung berbaur dengan teman sebayanya. Ia juga larut dalam kemeriahaan 17 Agustusan. Saya juga begitu. Perpindahan kami dari Depok ke Cikarang alhamdulillah berjalan mulus.

saat memuat barang pindahan
saat memuat barang pindahan

Hal Tak Biasa di Hari yang Biasa

Beberapa hari menempati rumah baru seperti biasa, saya melakukan aktivitas rutin. Membereskan pekerjaan rumah, bermain dengan Bintang dan Azizah dan menulis. Kebetulan saat itu ada order penulisan buku yang mendekati tenggat.

Satu-satunya kendala yang kami hadapi di awal kepindahan adalah minimnya sinyal. Untuk beberapa hari saya harus berdamai dengan hati. Terisolasi dari dunia maya.Β  Tanya dengan tetangga ternyata mereka mengeluhkan hal yang sama. Rupanya lokasi blok kami memang tak terlalu bagus menangkap sinyal. Jadilah seminggu pertama saya dan suami puasa internet sampai akhirnya kami berlangganan indihome.

Nah di sela rutinitas itu saya merasakan ada sesuatu yang berbeda. Terutama saat menyusukan Azizah. Saat itu Azizah yang berumur 15 bulan masih menyusu ASI.

Kadang-kadang ketika Azizah sedang menyusu saya merasakan pergolakan dari dalam tubuh. Seperti ada perlawanan. Ada rasa yang kemudian saya sadari sebagai kontraksi. Rasa aneh itu terasa di tulang belakang dan tulang panggul.

Sekitar dua malam, saya merasa sangat tidak nyaman. Sampai-sampai harus bangun tengah malam, berjalanan keliling rumah, atau membuat teh untuk membuat nyaman tubuh lagi. Saya tak terlalu yakin itu perasaan apa. Karena cukup menganggu, di sela sinyal yang seret saya sempatkan bertanya pada si Mbah Google.

Dari hasil baca-baca itulah saya tahu yang saya rasakan itu sebagai kontraksi ringan. What? Kontraksi? Apakah saya sedang hamil? Kalau hamil kenapa saya tak mengalami fase malas, lemas dan mual-mual. Nah.

Saya dan suami pun mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali menstruasi. Hmm, memang kalau dipikir-pikir itu sudah lama. Saya tak ingat persisnya, tapi sekitar sebulan-dua bulan sebelum puasa

Jujur, meski sudah terlambat datang bulan saya tak pernah berpikir itu karena hamil, lantaran sebelumnya saya juga telat sekitar 3 bulan. Setelah 3 bulan dan sempat periksa ke dokter ternyata saya telat karena masih menyusui. Menurut dokter adalah hal normal bila ibu yang memberikan ASI pada bayinya mengalami datang bulan yang tak teratur selama menyusui.

Nah karena penasaran keesokan pagi saya pun melakukan test pack. Dan hasilnya, selamat! Dua garis bercokol di sana. πŸ™‚

Dua Garis Tanda Apa?

Dua garis, hasil test pack pertama
Dua garis, hasil test pack pertama

Ketika hasil test pack itu saya perlihatkan pada suami, ia hanya senyum-senyum. Saya pun demikian. Satu-satunya yang bisa kami lakukan adalah tersenyum dan bersyukur atas kehendak Langit. Atas garis hidup yang sudah dituliskan untuk kami.

Kenapa saya bilang garis hidup? Karena sebelumnya saya dan suami tak berencana untuk menambah anak lagi. Namun itu hanya sebatas ucapan. Nyatanya sejak selesai nifas, saya tak memasang alat kontrasepsi apapun. Selalu saja alasan untuk menunda-nunda pemakaiannya. Dan begitulah, ternyata langit menggariskan lain. Bahwa DuniaBiza diberi kepercayaan untuk menambah satu anggota lagi. Yey!

Dua kali melakukan test pack, hasilnya tetap sama. Setelah itu kami pun memutuskan untuk mendapat kepastian dari dokter kandungan. Pada hari Jumat, ketika jam kerja suami tak padat, kami sekeluarga pergi ke dokter kandungan di RS Sentra Medika Cikarang. Nenek dan kakek juga ikut menemani.

Sesampai di RS Sentra Medika, dokter kandungan yang kami tuju belum ada. Jam prakteknya baru ada di sore hari. Akhirnya kami pindah ke RS Siloam Lippo Cikarang. Kami sengaja pindah rumah sakit untuk mendapatkan sebanyak mungkin pengalaman di beberapa rumah sakit sebelum memutuskan rumah sakit yang akan kami pilih untuk persalinan nantinya.

RS Siloam di Lipo Cikarang
RS Siloam di Lipo Cikarang

Tiba di RS Siloam Lippo Cikarang, saya dan suami cukup puas dengan layanan petugas front office. Selesai urusan administrasi kami diarahkan ke lantai 5 tempat dokter kandungan berada. Lumayan lama antrinya. Ada sekitar 10 nomor di depan kami. Selama menunggu Bintang dan Zizi sibuk mengeksplorasi ruangan.

Di RS Siloam kami konsultasi dengan dokter Agrebina Sotolom, Sp.OG. Dokternya lumayan komunikatif dan penyabar. Karena ini adalah kehamilan ketiga saya dengan jarak operasi kurang dari dua tahun ia menyarankan agar saya lebih menjaga diri. Jangan terlalu capek dan juga memastikan asupan gizi terpenuhi.

Setelah bertanya tentang riwayat kandungan dan kehamilan, selanjutnya saya di-USG untuk memastikan keberadaan si kecil. Dan Wow! Ternyata ketika pemeriksaan itu usia kandungan saya sudah masuk 16 minggu. Itu artinya sudah empatΒ bulan.

Alhamdulillah, si kecil sehat dengan berat normal. Ketika di USGΒ  si kecil masih malu-malu dan mengambil posisi menyamping. Posisi itu membuat dokter tak bisa memastikan jenis kelaminnya. Jadilah itu masih menjadi rahasia langit.

Si kecil sudah berusia 16 week
Si kecil sudah berusia 16 week

Ketika tahu usia kandungan saya sudah masuk trimester kedua, dokter kembali memastikan apakah selama ini saya tidak mengetahui ada tanda-tanda. Dengan pasti saya jawab tak tahu. Sebab semuanya berjalan biasa saja.

Bahkan ketika harus menempuh perjalanan darat ke Padang selama dua hari dua malam sembari mengurus Bintang dan Azizah menjelang lebaran lalu saya tak merasakan apa-apa. Alhamdulillah, Tuhan maha melindungi. Kalau dipikir-pikir berarti saat lebaran itu saya sedang hamil muda, trimester pertama.

Ritme Baru

Sejak memeriksakan diri ke dokter hari itu, dan sadar sudah hamil trimester kedua, saya pun akhirnya memilih lebih bersantai. Termasuk juga untuk urusan blogging. Bila sebelumnya sering begadang hingga tengah malam, sekarang saya selalu mengupayakan untuk memperbanyak istirahat. Meski kadang tak mengantuk setelah seharian bermain sama Bintang dan Azizah, saya tetap upayakan tidur.

Saat ini fokus utama adalah memastikan semua sehat. Bintang dan Azizah sehat, si kecil dalam kandungan sehat, dan saya pun juga sehat. Menjaga stamina dan kesehatan menyambut operasi caesar ketiga adalah hal yang kini menjadi fokus saya. Tentu saja aktivitas ngeblog tetap dilakukan di waktu senggang. Hanya saja, ritmenya disesuaikan.

Sejak positif hamil anak ketiga ini pula saya mengurangi aktivitas yang bisa menyedot pikiran. Bila dulu hape lebih banyak di tangan, sekarang intenstitasnya mulai berkurang. Jadilah sekarang saya lebih banyak memilih menjadi silent reader saja di beberapa grup. Bukan apa-apa sih, biar pikirannya ga ke gadget terus… Hihi…

Dan sekarang, usia kandungan sudah memasuki minggu ke-25. Dokter memperkirakan hari kelahiran pada akhir Januari-awal Februari. Dan insyaallah, saat si kecil lahir nanti si sulung Bintang sudah berusia 3 tahun 2 bulan, dan si kecil Azizah berusia 21 bulan.

Doakan ya temans, segala sesuatunya berjalan baik dan lancar. πŸ™‚

 

 

 

 

120 Comments

Leave a Reply to Eko prasetyo Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *