Mengadopsi Gaya Penulisan Feature untuk Blog

Feature untuk Blog

Halo temans. Bertemu lagi dengan #JumatMenulis. Setelah pekan sebelumnya belajar menggali ide tulisan, artikel enak dibaca, dan kalimat efektif, hari ini yuk  belajar bareng mengenai salah satu gaya penulisan yaitu Feature.  

***

Gaya penulisan feature biasanya dikenal di kalangan jurnalistik. Teman yang pernah kuliah di jurusan ilmu jurnalistik atau pernah berkecimpung di media kampus tentu sudah akrab dengan istilah ini. Apalagi buat yang memang bekerja sebagai jurnalis.

Baca juga:

Hmm, kira-kira apa ya feature itu?

Hingga saat ini, belum ada kesepakatan tertulis dari para ahli dan praktisi jurnalistik mengenai  pengertian dan batasan feature. Namun, secara praktek, feature dipahami bersama sebagai sebuah artikel kreatif yang informatif tentang suatu kejadian, keadaan atau aspek kehidupan.

“Feature adalah karangan non fiksi yang dipaparkan secara kreatif. Feature memuat unsur manusiawi (human interest) untuk mencapai tujuan memberi tahu, menghibur, mendidik, dan meyakinkan pembaca.”

Artikel dengan ragam feature ini mengandalkan ketajaman indera dan detail. Kekuatan tulisan terletak pada deskripsi dan narasi tentang suatu peristiwa atau kejadian. Beberapa praktisi menyebutnya sebagai tulisan yang ‘basah’.

Model tulisan dengan ragam feature berupa tulisan mendalam dan tidak berbentuk berita biasa yang to the point. Beberapa koran biasanya menyediakan ruang khusus bagi wartawannya untuk menulis dengan gaya feature. Misalnya Jawa Pos Group, punya ruang menulis feature yang terletak di halaman satu bagian bawah.

Kompas juga sering menempatkan tulisan dengan ragam feature pada halaman pertama meski tidak memberi label feature. Tulisan-tulisan dengan gaya penulisan feature juga banyak tersebar di Kompas Sabtu dan Minggu. Begitu juga dengan beberapa media lain yang menyajikan liputan akhir pekan dengan kemasan feature.

Tempo, terutama majalah, memang tidak memiliki rubrik khusus bernama feature. Namun, gaya tulisan feature bisa ditemukan di hampir semua artikel. Para petinggi media ini menyatakan bahwa Tempo mengusung semangat bertutur untuk setiap artikel yang disajikan. Sebenarnya, kekuatan bertutur inilah yang menjadi andalan dalam penulisan Feature.

Ciri utama pada artikel feature terletak pada uraian (deskripsi) dan detail. Bahkan tak jarang, tulisan feature disajikan dengan cara naratif seperti halnya sebuah cerita. Bedanya, dalam sebuah artikel jurnalistik detil apapun yang disajikan haruslah berdasarkan fakta dan merujuk pada kode etik.

Artikel feature jurnalistik juga harus bebas dari opini penulisnya. Bahkan, untuk terhindar dari opini dan subjektivitas penulis. Beberapa media seperti Tempo melarang penulisnya menggunakan kata sifat dan menggantikan dengan deskripsi. Misal tidak boleh menggunakan kata ia marah, tetapi diganti dengan mendeskripsikan perubahan wajahnya.

Kata marah harus diganti menjadi, mukanya memerah, alisnya terangkat, atau deskripsi lain yang merujuk pada marah seperti ekspresi yang ditunjukkan sis umber. Dengan begitu penulis terhindar dari opini dan asumsi.

Tulisan feature menitikberatkan pada fakta yang dinilai bisa memancing emosi pembaca, menarik empati, simpati, dan membuat pembaca menjadi merasa terlibat dengan tulisan. Tulisan feature lebih menyentuh rasa, bahasa kalbu.

Feature menitikberatkan pada ketajaman indera dan detil
Feature menitikberatkan pada ketajaman indera dan detail

 

Oke. Bagaimana ya dengan blog? Apakah ragam penulisan feature ini juga bisa dipakai untuk artikel blog?

Hmm, menurut saya bisa, bahkan sangat bisa. Blog justru memberi ruang yang sangat luas pada penulis untuk mengedepankan sisi manusiawi (human interest) dan melibatkan lebih banyak perasaan. Bedanya, pada artikel jurnalistik yang terikat dengan kode etik penulis harus selalu menampilkan fakta, sedangkan pada artikel blog penulis bisa saja melibatkan asumsi dan opini.

Perbedaan utama dari sisi fakta dan subjektivitas penulis ini selanjutnya akan menjadi batasan kita dalam membahas artikel feature untuk blog ya temans. Jadi mari lupakan sejenak tentang feature jurnalistik. Yuk kita mulai cerita tentang adopsi feature untuk blog.

Hal mendasar dari tulisan feature adalah gaya bertutur dan deskripsi akan suatu kejadian dan peristiwa yang ingin ditulis. Sederhananya, kita akan mencoba membuat artikel yang naratif dan deskriptif. Lengkap dengan laporan pandangan mata.

Kapan artikel feature bisa disajikan pada sebuah blog?

Artikel berjenis feature bisa diaplikasikan pada berbagai macam tulisan seperti

  • Tulisan perjalanan
  • Reportase liputan acara
  • Tulisan profil
  • Artikel inspirasi
  • Artikel tentang suatu tempat atau daerah
  • Juga artikel sehari-hari yang melibatkan pandangan mata.

 

Bagaimana mengadopsi ragam penulisan feature untuk artikel blog?

Karena tulisan feature lebih menitikberatkan penggunaan indera dan laporan pandangan mata yang detail, maka adopsi bisa dilakukan dalam berbagai artikel. Temans silakan menyampaikan berbagai hal dari pandangan mata atau yang dirasakan dengan cara berkisah.

Artikel feature melukiskan gambar dan keadaan dengan kata-kata untuk memancing imajinasi pembaca agar masuk ke dalam cerita.

Agar lebih mudah larut dalam cerita yang kita tulis, temans bisa membantu pembaca dengan mendeskripsikan berbagai peristiwa secara detil. Sederhananya, feature memberi ruang bagi temans untuk berkisah.

Mirip banget kan dengan tulisan blog yang biasanya sudah temans tulis. Hihi.. iya sih. Kalau menurut saya ini kan hanya teorinya. Pada prakteknya, temans sudah sangat jago, hanya mungkin belum tahu namanya. Bahwa secara tak sadar temans sebenarnya sudah terbiasa menulis feature.

Contoh aplikasi Feature untuk Blog

  1. Tulisan Perjalanan

Bila temans ingin membuat artikel perjalanan dengan gaya feature, siapkan detil yang banyak untuk diceritakan. Misalnya, ketika berkunjung ke pantai, tak cukup hanya dengan kata indah. Temans perlu melengkapi dengan laporan pandangan mata terhadap pantai tersebut. Di sinilah pentingnya ketajaman indera.

Deskripsi mengenai keadaan di sekitar pantai ketika kita datang perlu disajikan dengan lebih detil.

Contoh 1.

Pantai karang bolong Anyer indah banget. Apalagi saya sampai di sana sudah sore. Pas banget. Bisa main pasir sambil menunggu sunset. Benar-benar pengalaman yang tak terlupa. Saya jadi ketagihan pergi ke sana.

Artikel pada contoh 1 belum detil menggambarkan keindahan pantai karang bolong. Belum ada deskripsi pendukung sehingga pantai menjadi indah dan sangat berkesan. Penggalan ini akan berbeda bila diperkaya dengan pandangan mata dari penulis.

Matahari merambat turun ketika saya sampai di Pantai Karang Bolong Anyer hari itu. Gulungan ombak berpacu menyapa deretan karang yang menjorok ke laut. Di bagian pantai yang lebih landai, deburan ombak menjalar menutupi pasir putih. Dari kejauhan, burung camar terlihat berebutan mematuk ikan.

 Saya bermain pasir hingga lupa waktu. Tak terasa langit telah berubah warna. Rona jingga berpendar seiring menghilangnya mentari di langit barat. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Meninggalkan pantai karang bolong yang penuh kenangan.

 

2.  Reportase liputan acara

Sekarang, sudah semakin banyak ya temans acara yang melibatkan blogger. Bisa peluncuran produk, seminar, penandatangan perjanjian, atau festival. Nah, artikel reportase ini bisa banget dibuat ala-ala feature. Apalagi kalau dalam acara ada kemeriahaan atau kehebohan yang terjadi. Bisa jadi tulisan pandangan mata yang basah banget.

Syaratnya, jangan lupa memperhatikan detail acara dengan seksama. Terutama pada acara puncak. Misalnya saat pelepasan balon, pemotongan pita, atau saat narasumber utama berbicara. Yang diperhatikan tak hanya objek di atas panggung lho temans. Suasana di sekeliling tempat acara berlangsung juga bisa.

Misalnya saat meliput peluncuran kampanye Indonesia sehat. Peluncuran ditandai dengan pelepasan balon dan pemotongan pita oleh Ibu Menteri Kesehatan. Saat pelepasan balon, bersamaan saat tali digunting, ada tiga balon yang pecah sehingga suasana peluncuran menjadi lebih semarak.

Nah untuk ilustari ini ada baiknya teman mulai menggunakan indera dan juga memperhatikan detail. Misal, ada berapa balon yang dilepas. Jumlahnya bisa dikira saja. Apa warnanya, apakah satu warna dominan atau warna warni. Siapa saja yang mendampingi ibu Menteri, apa kostum ibu Menteri, dan detail lainnya yang dianggap perlu dan mendukung cerita. Termasuk juga suasana dan musik pengiring ketika peluncuran.

Contoh lain:

Ini tulisan peresmian sekolah,

Bangunan permanen bercat kuning menyedot perhatian saya ketika berkunjung ke Sekolah Alam, Tunas Mulia, di kawasan Sumur Batu, Bantar Gebang, Rabu, 4 April kemarin. Gedung dengan desain rumah panggung itu terlihat mentereng di banding bangunan lain di sana. Tak jauh dari gedung, anak-anak ramai bermain dan berlarian.

“Ini gedung baru sekolah di sini,” ujar Ibu Elly Indah Yani, salah seorang guru di Sekolah Alam Tunas Mulia. Bersama enam guru lainnya, ia terlihat antusias menunggu acara peresmian.

Gedung baru itu merupakan bantuan dari Wings Corporation –salah satu perusahaan penghasil produk makanan, minuman, perawatan rumah dan perawatan tubuh terkemuka di tanah air. Pembangunan dilakukan melalui kolaborasi Wings Peduli Kasih dengan Econity90, yaitu sebuah yayasan sosial non profit yang didirikan atas inisiatif dari alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia angkatan 1990.

Tulisan lengkap bisa dibaca di sini.

Mewujudkan Mimpi Sekolah Alam Bantar Gebang

  1. Tulisan profil

    Kemiskinan artikel feature

Ketika menuliskan kisah seseorang, penyertaan banyak detail akan semakin membantu kita menggambarkan tokoh yang sedang ditulis. Karena itu untuk membuat tulisan profil akan lebih mudah bila kita bisa bertemu langsung dengan sosok yang akan ditulis.

Tak hanya lewat pertemuan langsung, interaksi dengan sosok yang akan diulas juga bisa dilakukan melalui percakapan di dunia maya. Intinya sih agar kita mendapatkan ruang yang lebih besar untuk mengenal lebih detail sosok yang akan ditulis.

Tulisan profil juga tak mesti mengenai seorang tokoh atau sosok yang dikenal luas masyarakat. Feature juga bisa diadopsi untuk menuliskan profil seorang kakek penjual es dawet yang tak sengaja temans temui di jalan.

Ketika akan menuliskan kisah pak Tua penjual dawet tersebut, temans bisa mendeskripsikan postur tubuhnya, pancaran mukanya, senyumnya, kecepatan tangannya dalam menyajikan es dawet. Juga tentang sorot matanya.

Detil pandangan mata ini, tentu akan memperkaya tulisan temans tentang siapa sosok pak tua penjual dawet. Apalagi ditambah dengan kisah hidup dia yang telah menginspirasi temans menulis artikel tentang semangat pantang menyerah.

Ini salah satu artikel profil yang coba mengadopsi gaya feature :

Baca : Meutia Mansur dan Selaksa Rindu dari Khourtum

 

  1. Feature suatu tempat atau daerah

Untuk menuliskan feature tentang suatu daerah yang diperlukan adalah ketajaman indera. Temans sebaiknya bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk menangkap sebanyak mungkin detail yang ada di lokasi tersebut.

Beberapa waktu lalu, saya mencoba menulis sebuah apartemen yang akan dibangun di kawasan Kemang. Saya coba memulainya dengan menggambarkan suasana apartemen bila dilihat dari depan.

 

Contoh :

Bangunan joglo nan apik berdiri gagah di tengah areal seluas 2 hektar. Dua menara, Nakula dan Sadewa, mengapit dengan perkasa. Dari sisi kanan, Arjuna, si menara ketiga, ikut menjaga dan melindungi bangunan tradisional Jawa ini. Di depan Rumah Joglo terdapat Patung Bancak Doyok, yang dipahat pematung kawakan Wahyu Santosa.

Artikel lengkapnya bisa dilihat di sini.

Menikmati Hunian Etnik dan Modern di Kemang

Dari beberapa uraian hari ini, beberapa hal yang menjadi ciri utama artikel feature adalah

  • Deskriptif
  • Detil
  • Menyentuh

Oke temans, sekian dulu artikel #JumatMenulis hari ini.  Selamat berkreativitas.

See u next week ya.

 

 

112 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *