Di Bawah Kepungan Sialang

Mbat menghembat ake gadang
Mbat mai di ate tanggo
Kalau iyo sialang ini
Lingkaran tedung dan nago
Tetaplah juo di banie kayu

Mulut Hasyim komat-kamit kian kuat merapal mantra penunduk Sialang. Pacu, begitu istilah yang selalu digunakan untuk mantra yang ia rapalkan. Di bawah, di dekat akar sialang, dua lelaki pengambil madu lebah lainnya— disebut juagan— siap menunggu aba-aba dari Hasyim, sang juagan utama.

***

Malam kian larut. Di bawah cahaya kulit kayu yang dibakar, kawanan lelaki itu berjalan menembus rumput liar. Masing-masing orang telah siap dengan aneka peralatan untuk ritual pengambilan madu lebah. Kira-kira dua puluh langkah dari pokok sialang, kawanan itu berhenti. Mata mereka awas memperhatikan apakah lebah-lebah sedang lelap di ‘kerajaan’ madunya.

Tak ada cahaya bulan menyolok sebagai penerang mata para juagan. Sengaja, begitu yang disebutkan para juagan. Untuk memudahkan pekerjaan, proses pengambilan madu lebah dengan mantra magi yang disebut manumbai memang dilaksanakan pada malam-malam gelap tanpa bulan. Biasanya dari tanggal dua puluh lima sampai tanggal delapan. Ukuran bulan yang digunakan adalah bulan islam, supaya tepat penanggalan untuk menentukan besarnya bulan.

Di pokok sialang, rangkaian ritual manumbai pun dimulai. Racikan tepung tawar yang diambil dari aneka dedauan hutan, ditambah beras yang ditumbuk, ditabur dan ditanam di pokok sialang. Sesaat kemudian Hasyim langsung membacakan mantra sialang. “Intinya sang juagan meminta izin pada lebah-lebah untuk mengambil madu,” ucap Asai, lelaki enam puluhan yang pernah menjadi juagan selama sepuluh tahun. Selain itu di desa Lubuk Kembang Bungo, Asai juga dipercaya sebagai Batin Hitam. Batin Hitam adalah pembantu Batin Muncak Rantau yang bertugas menjaga tanah ulayat dan rimba kepungan sialang.

Masih dalam ritual yang sarat magis, tiba-tiba sang juagan menepuk tangannya tiga kali ke batang sialang.

“Nnngggggggg!” lebah yang berada di atas pohon sialang segera memberi jawaban dengan dengungan keras.

“Lai tadonge ko sadonyo,” teriak sang juagan memastikan apakah suara dengungan lebah juga didengarkan oleh khalayak yang hadir. “Lai! (ada!)” teriak yang lainnya hampir bersamaan.

Menurut kepercayaan setempat, jika setelah ditepuk tiga kali tetapi tidak ada terdengar jawaban dari lebah, berarti sialang belum boleh dipanjat. Ritual yang dilakukan harus diulang dari awal lagi. “Kalau tidak, jan cubo-cubo mamanjat sialang tu malam tu jugo,” ingat sang juagan.

Dengan terdengarnya bunyi sahutan lebah, bukan berarti pokok sialang sudah boleh langsung dipanjat. Sang juagan harus melalui ritual lainnya. Biasanya, jika sialang bisa dipanjat maka semua anggota tubuh juagan akan terlihat utuh oleh mata telanjang. Seperti jari tangan harus lengkap sepuluh, ada telinga, hidung, kepala, dan anggota tubuh lainnya.

“Kalau dicaliak jari tinggal ompat di kiri dan di kanan alamat tak selamat kalau dipanjat sialang tu,” jelas Asai sembari mengenang masa lalunya. Menurut Asai pernah dulu ada kawannya yang nekat memanjat sialang padahal ketika dilihat jarinya sebelum memanjat cuma ada empat di kiri dan kanan. Dan benar tepat malam itu nyawa kawan Asai tidak dapat tertolong lagi.

***

Tak mudah untuk memanjat sialang. Pohon yang ukurannya bisa mencapai dua pelukan lelaki dewasa itu mengandung banyak resiko. Batangnya yang licin bisa membuat tak bisa sembarangan untuk memanjat. Perlu sedikit ‘persetubuhan’ dengan para lebah dengan alam ghaib. Peran itulah yang selama ini dilakoni oleh para juagan.

Sesampai di ujung-ujung ranting dekat kawanan lebah bersarang, sang juagan harus membuai-buai lebah dengan nyanyian-nyanyian magis. Itulah kenapa proses pengambilan madu lebah ini disebut manumbai yang bisa diartikan membuai-buai. “Syaratnya hati harus bersih dan jalan harus dijaga,” jelas Asai.

Dalam mantra-mantra yang dibaca, juagan menempatkan lebah sebagai seorang puan yang cantik, putih, dan penyayang. “Unduklah-unduk paku ditobang, Bumba mudo di bawah batang, Tunduklah kau satu sialang, Juagan mudo baukan datang,” ujar Asai.

Sembari membacakan mantra; “Anak buayo mudik mandudu, Mai singgah ka pelabuhan, Putih kuning bukakan baju, kami manengok patubuhan,” lalu sang juagan menggoyang api tiga kali dan menjatuhkan api yang bersumber dari kulit kayu dan sabut itu ke tanah. Maka lebah-lebah yang bersarang akan mengikuti arah api dan jatuh ke tanah bersamaan.

Saat itulah tangan-tangan sang juagan akan beraksi memanen madu lebah. Sarang yang disobek dan madunya dimasukkan ke dalam timbo. Dan dengan bantuan tali timbo yang sudah terisi dijulurkan ke tanah. Kalau sedang mujur satu sarang bisa menghasilkan satu jeregen madu.

Dulu timbo yang digunakan terbuat dari rotan sembolit. Talinya juga dari rotan dengan panjang sampai 50 meter. Ada juga timbo yang terbuat dari kulit gaharu yang dipukul-pukul. Tetapi sekarang timbo yang dipakai kebanyakan terbuat dari seng. Bahkan menurut juagan Hasyim, sekarang sudah ada pula yang memanjat sialang dengan menggunakan tangga dari tali yang dilempar dengan menggunakan senapan angin. “Kalau kata Bapak saya itu pantangan,” jelasnya.

Meski terlihat lancar-lancar saja, tak jarang pula juagan menemukan hal-hal yang aneh terjadi di atas sialang. “Kalau sampai di atas sialang, kita merasa sudah terang benderang maka harus segera dibacakan mantra agar langit tetap gelap,” jelas Asai. Selain itu tak selamanya juagan aman dari sengatan lebah meski sang lebah sudah dibujuk, dirayu, dan dibelai sedemikian rupa dengan mantra magis. Tetap saja ada sengatan lebah yang mengena. “Ini bokeh sengatannya masih ado di kaki,” terang Hasyim sambil memperlihatkan tanda menghitam di tangannya pada BM.

Selama pengambilan madu lebah mata-mata juagan yang memanjat sialang selalu awas. Dengan kecekatan dan ketangkasan ekstra dalam sehari kalau nasib untung mereka mendapat empat sampai enam jeregen madu sialang. “Itu tergantung pohonnya. Ada pohon yang satu pokok bisa terdiri dari empat puluh sarang lebah. Ada juga yang sehari cuma dapat setengah jeregen,” jelas Hasyim.

Di dalam rimba kepungan sialang tak hanya pohon sialang saja yang bisa didiami oleh lebah. Pohon besar lainnya juga bisa dijadikan sarang seperti Makaluang, Terap Kedondong, dan Cubadak Air. “Cuma yang paling bagus tetap kayu sialang, karena kayu ini tidak menyerap air. Bahkan air tidak bisa hinggap sehingga madu dari pokok sialang tidak bisa tercampur dengan air meskipun hujan lebat,” jelas Hasyim.

Malam sudah hilang. Pagi mulai menjemput. Sebelum langit kembali benderang, para juagan mulai berkemas hendak meninggalkan lokasi. Alamat celaka kalau membiarkan langit menjadi kian terang. Dan para juagan pun segera turun dari pokok sialang. Tak lupa dengan merapalkan mantra perpisahan dengan sang kekasih;

kanduduak sabaliak uma
urat mlante ting panjang
mano datuak punyo uma
kami mohon babalik pulang
Ritual yang Hampir Punah

Asai dan Jasman di Desa Lubuk Kembang Bungo, Ukui, Hasyim di Desa Pangkalan Lesung, dan Antan Ibrahim di Desa Terbang Ngiang, Bandar Petalangan, hanyalah segelintir orang yang masih mempertahankan tradisi manumbai lengkap dengan rangakaian ritual magi nya. Di luar mereka yang masih kuat memegang adat sudah lahir pula generasi baru yang memanjat Sialang bermodal nekat. Cukup dengan memakai baju tebal tiga lapis, maka madu lebah bisa diturunkan.

Selain itu keberadaan hutan tanaman industri akasia dan kebun sawit yang jumlahnya kian tak terbendung telah ikut pula mengurangi kesakralan ritual manumbai. “Sekarang paling-paling hutan kepungan sialang yang dimiliki pebatinan hanya sepuluh hektar dari ribuan hektar hutan yang dimiliki tanah ulayat. Sisanya telah menjelma menjadi hutan sawit,” jelas Jasa, salah seorang pemilik kepungan sialang di desa Betung, Pangkalan Kuras.

Menurut Jasa, di Betung yang merupakan pusat budaya Bandar Petalangan sekarang hanya tinggal tiga kepungan, yaitu kepungan Mudo, kepungan Pebatinan, dan kepungan Kating. Yang dimaksud kepungan Kating adalah kepungan yang di bawahnya terang karena tidak ditumbuhi tumbuhan. Sedang kepungan pebatinan merupakan kepungan milik pesukuan.

Selain itu dari segi kualitas keberadaan hutan akasia dan kebun sawit telah ikut mengurangi kualitas madu sialang. Menurut Hasyim, madu dari lebah yang memakan bunga sawit lebih tinggi kadar airnya. Sedangkan madu dari lebah yang memakan bunga akasia akan berwarna hitam. “Tapi bagaimana lagi, memang sekarang sudah begitu pula keadannya,” tutup Hasyim seraya memperlihatkan madu-madu hasil manumbai yang ia lakukan.

Add a Comment

Your email address will not be published.