Yuk, Membuat Kalimat Efektif

Kalimat efektif

Beberapa teman pernah bertanya bagaimana tips memenangi lomba blog. Menurut saya ini pertanyaan yang sulit dijawab dengan lugas.

Pertama, saya hanya mengikuti dan memenangi beberapa lomba blog saja. Kedua, setiap lomba blog punya karakteristik tersendiri.  Syarat dan ketentuan berbeda, serta selera juri yang bervariasi.

Nah, untuk lomba blog yang saya ikuti, jurus utamanya hanya satu; berupaya membuat kalimat efektif. Kalaupun tak bisa memenangi hati juri, penggunaan kalimat efektif minimal bisa memenangi hati Mbah Google.

Yes. Berdasarkan pengalaman, penggunaan kalimat efektif disenangi mesin pencari karena berisi kata yang lugas dan sederhana. Beberapa artikel DuniaBiza terbukti bisa masuk halaman pertama mesin pencari. Padahal, selama ini, saya belum menerapkan aneka resep SEO untuk setiap artikel yang diunggah.

Baca juga : Jurus Sederhana agar Artikel Enak Dibaca

Kapan kalimat efektif dipakai?

Pada artikel perdana #JumatMenulis pekan lalu, kita sudah berdiskusi singkat tentang penggunaan kalimat efektif. Kalimat efektif bisa diterapkan untuk setiap jenis artikel. Tak peduli apakah tulisan yang dibuat berjenis populer atau karya ilmiah. Kalimat efektif memudahkan pembaca menangkap gagasan utama yang ingin disampaikan penulis.

Bagaimana kalau artikel ditulis dengan bahasa sehari-hari, dengan gaya elu gue? No matter! Apapun gaya bahasa yang dipakai, penggunaan kalimat efektif adalah keharusan. Kita tak mau pembaca pusing dan demam tersebab membaca artikel kita bukan? Hihi….

Bagaimana cara membuat kalimat efektif?

Untuk bisa membuat kalimat efektif temans tak perlu terpaku dengan aturan tata bahasa. Meskipun, sebagai blogger kita tetap perlu tahu dan memahami aturan ini. Khusus untuk bahasan kalimat efektif, mari kita buat sederhana saja. Pikirkan hal sederhana, lalu tuangkan dalam kalimat sederhana.

Berikut beberapa cara menyuguhkan kalimat efektif pada pembaca versi DuniaBiza

  1. Satu kalimat satu gagasan

Setiap kalimat sederhana berisi satu gagasan. Bahkan ketika kalimat itu bukan kalimat utuh, tetap ada satu pesan yang ingin disampaikan. Kalimat utuh adalah kalimat yang mengandung minimal Subjek dan Predikat. Namun, beberapa penulis terkenal juga suka menulis satu kalimat pendek yang tak utuh.

Contoh kalimat sederhana.

  • Saya menulis karena suka.
  • Anakku senang bermain layangan.

Kunci utama kalimat efektif adalah menghindari kalimat yang mbulet, bertele-tele. Pastikan bahwa satu kalimat mengandung satu gagasan.

Contoh :

  • Gue bingung deh mikirin jalan pikiran loe yang tak pernah mau mendengarkan penjelasan gue walau sedikitpun meski semua yang gue katakan itu murni untuk kebaikan masa depan kita berdua.

Kalimat ini bisa diubah menjadi:

  • Gue bingung deh. Loe tak pernah mau mendengar penjelasan gue walau sedikit. Apa yang gue katakan padahal untuk kebaikan kita berdua.

Kalimat bertele-tele berbeda ya temans dengan kalimat melebih-lebihkan. Ketika kita berdiskusi mengenai artikel yang enak dibaca pekan lalu, seorang teman bertanya mengenai kalimat yang melebih-lebihkan ini.

Apakah dengan menghindari kalimat bertele-tele artinya kita tidak diperkenankan membuat kalimat yang berlebihan? Tidak. Tentu saja boleh. Kalimat efektif semata-mata tentang penyajian kalimat singkat yang lugas. Materi berisi hal yang berlebihan, penuh bumbu, tetap bisa dituliskan dengan sederhana.

 

Contoh :

  • Perempuan itu menangis sejadi-jadinya. Air mata berjatuhan bagai bah. Ia meraung minta belas kasihan, tapi tak ada yang peduli. Sesekali ia memekik, lalu meronta. Sampai akhirnya ia ambruk, terkulai lemas di tanah.

 

Membuat kalimat efektif

  1. Bisa dibaca dalam satu nafas

Kalimat efektif salah satunya berguna untuk menghindari kebosanan pembaca. Seorang senior di dunia kepenulisan pernah berkata pada saya, jangan sampai artikel kita membahayakan nyawa pembaca.

Loh, kok bisa. Menurut dia, kalimat yang terlalu panjang dan bertele-tele bisa membuat pembaca sulit bernafas. Alih-alih mendapat informasi, pembaca malah terserang sesak nafas atau malah jantungan. 🙂

Untuk menghindari kalimat panjang, coba sesekali baca artikel yang sudah ditulis dengan suara lantang. Apabila setiap kalimat bisa dituntaskan dalam satu tarikan nafas, berarti artikel kita aman. Bayangkan saja seperti orang yang sedang membaca ijab qabul. Baru sah, bila dilafalkan dalam satu tarikan nafas.

 

  1. Satu kalimat maksimal 27 kata

Sebenarnya tidak ada aturan baku yang membatasi jumlah maksimal kata dalam satu kalimat. Bisa saja ada perbedaan standar antar penulis. Bahkan beberapa penerbit mengeluarkan aturan berbeda untuk masing-masing editor. Kalau saya sendiri, menerapkan maksimal satu kalimat 27 kata.

Seorang senior yang hingga kini masih menjadi panutan saya dalam menulis, mengatakan, 27 kata adalah ukuran maksimal. Bila lebih pendek akan lebih baik. Untuk memudahkan penghitungan, bisa digunakan standar baris pada halaman Microsoft word.

Biasanya, 27 kata setara dengan 1 2/3 baris halaman Microsoft word dengan huruf times news roman ukuran 12. Bila satu kalimat yang kita buat lebih dari dua baris, perlu dibaca lagi. Apakah memang kepanjangan atau kata-kata yang dipilih memiliki jumlah huruf yang banyak.

 

  1. Minimalisir penggunaan anak kalimat

 

Adalah hal lumrah bila satu kalimat terdiri dari induk dan anak kalimat. Toh, aturan baku berbahasa Indonesia membenarkan hal itu. Namun tak ada salahnya kita selektif menggunakan kalimat yang mengandung induk dan anak.

Kalau saya biasanya hanya menggunakan kalimat beranak dan berinduk hanya pada hal penting saja. Bila hubungan antara induk dan anak kalimat sangat dekat maka akan ditulis jadi satu kalimat. Namun, bila hubungan mereka tak kuat-kuat amat, akan saya pisah. Ceraikan mereka menjadi dua kalimat berbeda. Hihi…

 

Contoh 1 :

  • Pemerintah memastikan pasokan daging menjelang hari raya Idul Adha aman dan terkendali karena ketersediaan daging dari peternak lokal hingga akhir bulan Agustus masih dalam batas aman.

 

Kalimat ini bisa dipecah menjadi:

  • Pemerintah memastikan pasokan daging menjelang Idul Adha aman dan terkendali.
  • Hingga akhir Agustus, ketersediaan daging dari peternak lokal masih dalam batas aman.

 

Contoh 2 :

  • Sebagai orang tua, kita perlu lebih hati-hati dalam mendidik agar anak bisa tumbuh lebih cerdas.

 

Kalimat ini tak perlu dipecah karena hubungan antara anak kalimat yaitu  tumbuh lebih cerdas dengan induk kalimat orang tua perlu hati-hati mendidik, sangat erat. Keduanya berhubungan kuat satu dengan lain.

 

Contoh 3 :

  • Memiliki rumah impian adalah harapan semua orang karena dengan rumah impian mereka bisa hidup dengan lebih tenang dan damai dalam menjalani hari-hari.

Meski secara jumlah kata kalimat ini masih dalam batas aman, namun kalimat ini masih bisa dipecah menjadi:

  • Memiliki rumah impian adalah harapan semua orang. Rumah impian membuat orang hidup lebih tenang dan damai dalam menjalani hari-hari.

 

Tips mudik Nyaman

  1. Hindari penggunaan kata mubazir

Bagian penggunaan kata mubazir juga sudah dibahas pada artikel terdahulu. Kata mubazir dalam kalimat bisa berupa

  • Penggunaan terlalu banyak kata sambung
  • Penggunaan dua kata yang bermakna sama
  • Penggunaan dua frasa dalam kalimat yang mengandung maksud sama

Contoh 1:

  • Ketika bertemu kami saling berangkulan melepas rindu

Sepintas kalimat ini terlihat aman. Padahal sebenarnya ada kata mubazir yaitu saling dan berangkulan. Berangkulan sudah mengandung makna saling merangkul.

Kalimat di atas bisa menjadi :

  • Ketika bertemu, kami berangkulan melepas rindu

 

Contoh 2 :

  • Setiap hari Senin anak-anak berkumpul bersama-sama di lapangan untuk melaksanakan upacara bendera.

Ada dua hal yang mubazir

  1. Hari dan Senin. Senin adalah nama hari sehingga tak perlu lagi disebutkan hari Senin, cukup Senin saja. Begitu juga dengan nama bulan.
  2. Penggunaan anak-anak berarti jamak. Dengan begitu tak perlu menggunakan kata bersama-sama, karena anak-anak berkumpul sudah mengandung makna bersama-sama.

Dengan begitu kalimat contoh 2 bisa menjadi :

  • Setiap Senin anak-anak berkumpul di lapangan untuk melaksanakan upacara bendera.

 

Bagaimana dengan contoh 3 berikut?

Kalimat ini kompleks dan bisa disederhanakan dalam beberapa kalimat. Silakan temans mengubahnya menjadi kalimat efektif.

Bila berkenan boleh kok menuliskan kalimat versi temans di kolom komentar. 🙂

  • Jujur saya agak bingung ketika mendapatkan pertanyaan bagaimana mendapatkan pemasukan hanya dengan menjadi blogger yang bekerja dari rumah saja, karena untuk menjawabnya nggak cukup hanya dengan satu atau dua kalimat aja, tapi butuh panduan super lengkap dari awal sampai akhir agar semua hal bisa dituangkan dengan gamblang.

Bagaimana? Bisa dong ya temans menyederhanakan contoh ini menjadi beberapa kalimat efektif.

Oke. Sekian dulu untuk #JumatMenulis kali ini ya temans. See you next week.

Nb : Kalau punya usul bahasan kita Jumat depan silakan ya. 🙂

 

 

5 out of 5 based on 5 rating. 5 user review.
31 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *