Rahasia Sukses ASI Eklusif Dimulai dari Hati

Sukses ASI Eklusif Dimulai Dari Hati

Menjadi Moms yang hebat untuk buah hati sudah pasti menjadi harapan hampir seluruh Moms ya. Bisa membesarkan si kecil dengan penuh kasih sayang hingga mereka besar dan menjadi orang-orang hebat.

***

Bagi saya, salah satu indikator keberhasilan seseorang menjadi Moms hebat adalah ketika berhasil memberikan ASI eklusif untuki si kecil hingga 6 bulan pertama kelahiran. Setelah itu baru deh hingga 2 tahun. Karena menerapkan standar ini maka ketika Bintang dan Azizah lahir, saya berkeyakinan keras untuk bisa lulus ujian pertama, ASI Eklusif.

Memberikan hanya ASI tanpa tambahan makanan pendamping atau cairan lain hingga bayi berusia 6 bulan atau biasa disebut ASI Eklusif pada Bintang dan Azizah buat saya pada awalnya bukanlah perkara mudah. Untuk kelahiran Bintang dan Azizah ada tantangan yang berbeda.

ASI Eklusif untuk Bintang, Drama di Trimester Kedua

Pekan ASI Dunia 2016Ketika Bintang lahir, proses pemberian ASI Eklusif berjalan lancar di tiga bulan pertama. Sedangkan untuk Azizah justru tersendat pada tahap awal.

Ketika Bintang lahir, saya beruntung bisa menjalani proses persalinan di rumah sakit yang Pro ASI. Meski melahirkan dengan cara caesar saya tetap diberi kesempatan untuk melakukan Inisiasi Menyusu Dini.

Di ruang operasi, ketika Bintang masih merah, dan saya masih dalam kondisi dibius sebagian dan para dokter masih melakukan tugas mereka pada perut saya yang baru dibelah, bidan dan dokter SPoG sudah memberikan Bintang pada saya. Badan hangat si kecil terasa merangkak di atas dada saya. Ia dengan cekatan langsung mencari sumber makanan dan gizi utamanya.

Ketika itu air mata haru dan bahagia mendengar tangis pertama Bintang belum hapus dari mata. Sekarang harunya menjadi-jadi ketika menyaksikan si mungil Bintang mencari-cari sendiri puting saya.

Ya Allah, perasaan saya waktu itu benar-benar campur aduk. Kesibukan para dokter di bagian perut sama sekali tak membuat saya takut. Satu-satunya perhatian saya adalah pada si kecil yang sibuk. Dan saya semakin senang dan terharu ketika dalam hitungan detik saja, Bintang mungil bisa menemukan sumber gizi terbaiknya.

Inisiasi Menyusui Dini Pekan ASI Dunia

Tak lama, setelah Bintang mungil berhasil menyedot air susu pertamanya, bidan dan dokter langsung memindahkan Bintang ke ruang perawatan bayi. Dan saya, masih terbaring di ruang operasi. Team dokter masih bekerja ketika air mata haru dan bahagia saya tak henti-hentinya keluar.

Sampai akhirnya saya dibawa ke ruang pemulihan rasa bahagia dan haru itu tak segera hilang. Tak sabar untuk segera bertemu dengan si mungil. Namun dokter menyarankan pada saya untuk istirahat dulu, tidur agar proses pemulihan berjalan lebih lancar. Dan setelah terjaga dari pemulihan, saya dibawa ke ruang perawatan dan bisa bertemu dengan Bintang kecil.

Dari sini semua proses menyusui berjalan lancar. Rumah sakit yang Pro ASI memberikan saya bekal yang cukup untuk proses menyusui Bintang. Selama masa pemulihan, saya juga ikut dua kali kelas ASI.

Di kelas ASI para ibu diajari cara pijat, cara menyusui yang benar, peletakan mulut bayi pada puting. Dan diberi informasi dasar cara menyimpan dan mengelola ASI Perah. Untuk saya yang merupakan ibu muda dengan anak pertama, berbagai pengetahuan yang diberikan  konselor ASI di sana sangat berguna.

Drama menyusui Bintang dimulai ketika mau memasuki bulan ketiga. Saat saya harus bersiap bekerja kembali. Asyik memberikan ASI langsung pada Bintang membuat saya abai menyiapkan stok ASI Perah. Padahal dari beberapa pengalaman dan cerita ibu menyusui, stok ASI sebaiknya sudah dimulai ketika bulan kedua agar persediaan ASI selama bekerja aman. Kebiasaan mengulur membuat saya baru melakukannya seminggu sebelum bekerja.

Masa itu sekaligus menjadi masa bagi Bintang belajar minum ASI Perah. Ternyata semua tak berjalan mulus. Bintang menolak segala macam dot. Disusukan lewat sendok, bahkan dengan sedotan makanan cair juga menolak. Dia hanya mau menyusu langsung. Saya dan suami pun menjadi khawatir. Bagaimana harus meninggalkan Bintang di rumah sementara ia tak mau minum ASI Perah.

Akhirnya ketika hari bekerja itu datang, saya kuatkan hati meninggalkan Bintang di rumah bersama Nenek dan si Mbak. Perasaan campur aduk membuat selama di kantor saya hanya terpikir tentang Bintang. Bagaimana bila ia lapar? Bagaimana cara ia menyusu?

Ternyata rasa khawatir saya tak sepadan. Ketika menelepon ke rumah, Bintang bisa menyusu dan menhabiskan ASI Perah yang saya tinggal dengan lahap. Ia terlihat tak bermasalah dengan ASI Perah. Segala sesuatunya kembali  berjalan lancar. Ia juga tak mengalami bingung puting.

Ketika di kantor saya rutin dua kali memompa ASI. Awalnya tiga kali, pagi siang dan sore. Namun akhirnya saya menemukan ritme yang paling pas.Sekitar pukul 10.30 WIB dan pukul 14.30 WIB. Satu lagi ketika sampai di rumah sekitar pukul 19.00 WIB. Alhamdulillah di kantor meski tak ada ruang laktasi tetap ada ruangan direksi yang jarang diisi dan bisa dipakai untuk memerah ASI.

Sepekan bekerja, drama baru dimulai. Saya yang memang merupakan  pekerja lapangan kembali mendapat tugas di lapangan. Usai sudah masa bulan madu hamil besar dan pasca melahirkan.

Kantor mewajibkan saya melaksanakan tugas seperti sedia kala. Berkorespondensi dan bertemu dengan orang-orang yang berbeda setiap hari. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

 

Pekan ASI Dunia 2016

 

Mobilitas kerja membuat saya kesulitan menemukan tempat memerah ASI yang pas. Namun keyakinan bahwa stok ASIP di kulkas tak boleh kosong membuat proses memerah harus terus jalan. Tas ASIP lengkap dengan botol, ice gell, dan pompa elektrik selalu saya boyong ke mana-mana. Dalam hati saya menguatkan diri untuk selalu bisa.

Lagipula saya sering membaca cerita dari pejuang ASI lain yang tetap keukeuh memberikan ASI Eklusif dan menjalani proses memerah ASI dengan kondisi yang sangat terbatas. Di toilet, di gudang, di bawah kolong meja. Kalau mereka bisa, kenapa saya tidak. Maka perjuangan memerah pun dimulai.

Setiap kali datang ke gedung baru, menghadiri seminar atau sekadar bertemu seseorang hal pertama yang akan saya tanyakan pada front office atau security adalah adakah gedung itu punya ruang laktasi. Bila ada, maka urusan  perah menjadi aman. Namun tak jarang saya harus memerah di toilet atau rest room. Tentu saja dengan tetap memperhatikan faktor kebersihan.

Dan alhamdulillah proses ASI Eklusif untuk Bintang berhasil dengan predikat lulus sempurna. Tentu saja prosesnya terus berlanjut dan tak berhenti di situ. Ketika Bintang memasuki usia 8 bulan, ternyata kabar baik lainnya datang. Si calon adik sudah ada di perut. Meski begitu proses menyusui tetap berlanjut. Yup. Menyusui sambil hamil.

ASI Eklusif untuk Azizah, Drama di Tiga Hari Pertama

Susu eklusif untuk Azizah
Susu eklusif untuk Azizah

Ketika anak kedua Azizah lahir, saya bertekad bisa lulus lagi ASI Eklusif. Namun dramanya justru terjadi di awal. ASI saya tak lancar di hari-hari pertama setelah melahirkan.

Salah satu persoalan yang saya hadapi ketika lahiran Azizah adalah, Azizah tak mendapatkan Iniasiasi Menyusu Dini (IMD) karena pihak rumah sakit tak mengizinkan. Saya sangat kecewa tentang hal ini.

Sejak beberapa hari sebelum melahirkan saya sudah beberapa kali mengkonfirmasi dan minta kepastian bahwa rumah sakit tersebut memberikan kesempatan IMD meski pada ibu yang melahirkan caesar. Sesaat sebelum masuk ruang operasi saya masih menanyakan hal sama. Kebetulan untuk anak kedua saya lahiran tidak di Jakarta, di Kota Padang.

Ternyata setelah mendengar suara tangis Azizah saya tak mendapati si mungil diletakkan di dada saya. Harapan untuk bisa menjalani IMD tinggal janji. Bahkan ketika sampai di ruang pemulihan saya masih tak dapat kesempatan memberi IMD pada Azizah. Saya coba bertanya pada perawat, tak ada yang memberi jawaban pasti. Sampai akhirnya saya tertidur.

 

IMD Setelah caesar, proses penting yang tak dialami Azizah
IMD setelah caesar, proses penting yang tak dialami Azizah

Rupanya, pihak rumah sakit tak mau mengambil risiko IMD pada ibu yang melahirkan caesar. Barangkali mereka takut IMD bakal mempengaruhi proses operasi. Jelas itu keliru karena ketika lahiran di salah satu rumah sakit di Jakarta dengan caesar saya tetap diberi kesempatan IMD.

Tak segera IMD ternyata berpengaruh pada produksi ASI saya. Barangkali karena saya tak merasakan IMD yang salah satunya berfungsi merangsang hormon untuk memproduksi ASI. Ketika si mungil Azizah mulai menyusu air susu saya tak segera keluar. Azizah juga kelihatan kesulitan.

Saya coba menstimulasi dengan memberikan pijatan ringan di sekitar payudara, hasilnya belum terlalu kelihatan. Tak banyak ASi yang keluar. Hanya setetes dua tetes. Saya benar-benar berusaha agar tidak stres.

Drama menyusui di hari pertama makin besar ketika Azizah mulai menangis besar. Beberapa ibu yang juga satu ruangan pemulihan dengan saya, termasuk keluarga mereka, mulai berkomentar bahwa Azizah menangis karena lapar. Mereka menyarankan agar saya member Azizah susu formula. Hari itu saya menjalani operasi caesar bersama empat ibu lainnya dan kami dirawat di ruang yang sama.

Saya berkeras tak mau memberikan Azizah susu formula. Dengan keyakinan penuh bahwa saya pasti bisa, saya terus memijat dengan handuk hangat kedua payudara. Beberapa ilmu yang dulu didapat ketika lahiran anak pertama kembali diulang.

Saya sedih, lantaran perawat di rumah sakit tak terlalu peduli dengan masalah saya. Berbeda ketika dulu lahiran anak pertama di rumah sakit yang Pro ASI. Perawat dan bidan langsung sigap memberikan petunjuk menstimulasi ASI. Hari itu saya merasakan betul bahwa peran petugas rumah sakit juga sangat mempengaruhi suksesnya ASI Eklusif.

Sore hari ketika Azizah masih sering menangis, ibu-ibu di sekitar saya kembali mengingatkan untuk memberikan susu formula saja. “Kasian anaknya lapar.”

Saya tahu, beberapa di antara mereka sudah memberikan susu formula pada bayi mereka dengan alasan yang sama. ASI tak keluar karena baru selesai operasi. Perawat di rumah sakit itu tak melarang susu formula selama ada surat pernyataan dari orang tua. Tentu saja ini semacam dalih pembenaran bila nanti mereka dipersoalkan ke ranah hukum.

Baca juga : 10 Mitos Keliru tentang ASI dan Menyusui

fakta ASIDengan keyakinan kuat saya terus mencoba. Pesan dokter waktu Bintang baru lahir dulu terngiang-ngiang di telinga. Bahwa bayi baru lahir, hingga usia tiga hari masih punya cadangan makanan dalam dirinya. Bahwa bayi baru lahir hanya butuh setetes dua tetes ASI untuk bertahan hidup. Bahwa bayi baru lahir hanya punya lambung yang sangat kecil.

Alhamdulillah, orang tua saya juga tak terpengaruh dengan bisik-bisik tetangga. Mereka terus mendukung. Mereka meminta saya lebih tenang agar tidak stress. Dan esok harinya, ASI saya pun mulai lancar. Bahkan mulai merembes. Saya senang, Azizah bebas dari susu formula. Dan selanjutnya menjadi lebih mudah.

Azizah tak perlu menghadapi drama ditinggal dengan ASI Perah lantaran sejak kelahirannya saya memutuskan menepi dari dunia kerja. Fokus di rumah bersama Bintang dan Azizah. Dan masa ASI Ekslusif 6 bulan untuk Azizah pun berhasil. Yey. Dan hingga kini, setelah Azizah berusia 14 bulan ia masih terus merasakan ASI.

Pengalaman memberikan ASI untuk Bintang dan Azizah membuat saya yakin bahwa kunci utama keberhasilan ASI eklusif adalah pada keyakinan hati orang tua, suami dan orang di sekitarnya.

Tak peduli apakah ibu bekerja atau stay at home moms, selalu ada jalan untuk memberikan yang terbaik buat si kecil. Di luar sana, dengan keyakinan kuat itu juga banyak ibu yang rela menjalani terapi agar tetap bisa memberikan ASI pada si kecil. Bahkan Ibu yang punya dada rata, atau puting masuk sekalipun tetap bisa menyusui. Lalu mengapa kita yang sehat mau menyerah?

Karena ASI adalah gizi utama dan terbaik untuk si keci. ASI punya sistem imun alami untuk si kecil yang tak bisa tergantikan dengan vaksin manapun.

Selamat merayakan Pekan ASI Dunia. Oya buat temans yang punya cerita tentang pengalaman memberikan ASI jangan lupa ikutan Give Away DuniaBiza ASI dan Segala Ceritanya ya.

Give Away ASI dan Segala Cerita Tentangnya Dunia Biza

 

 

25 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.