Karena Semua Perempuan adalah Kartini

Perempuan dan IT

 

***

Siapa bilang dunia IT hanya untuk laki-laki? Itu mah kuno. Sekarang, siapapun, tak peduli laki-laki atau perempuan bisa menguasainya asal mau belajar.

” align=”alignleft”width=300″]<a href=20160422 WA0043.jpg”

Beberapa tahun lalu, deretan angka dan huruf acak seperti ini tak berarti buat saya. Bahkan cenderung membuat puyeng bila memandangnya. Alih-alih mempelototi, biasanya saya langsung angkat bendera putih.

Tapi itu dulu. Sejak aktif di dunia blogging, saya jadi terbiasa dengan kode-kode dan simbol yang lebih dikenal dengan script ini. Mulai dari urusan bongkar pasang widget, otak-atik template, hingga menggunakan sejumlah software.

Selain berurusan dengan coding, saya mulai akrab dengan instalasi program. Biasanya urusan instal-menginstal akan diserahkan pada suami. Sekarang, selagi masih bisa dikerjakan, akan saya tangani sendiri.

Sumber : Intel Software
Sumber : Intel Software

Tunggu dulu. Adalagi. Ketika komputer di rumah kami tiba-tiba hang, saya pun tak panik. Bila si ‘kompie’ merajuk saya akan pelajari dulu masalahnya. Baca perintah di layar lalu laksanakan, dan taraa, si ‘kompie’ bekerja kembali. 🙂

Senang rasanya mengetahui ilmu yang diperoleh secara otodidak menyelamatkan di saat-saat genting. Urusan komputer, jaringan, multimedia, hardware, sofware, yang identik dengan teknologi kini jadi bagian tak terpisahkan dalam keseharian.

Tapi harus diakui, dulu saya agak takut dengan dunia teknologi informasi. Saya merasa bidang satu ini terlalu kaku dan njlimet. Belum lagi pekerjaaannya yang terkesan monoton dan serius. Saya sempat beranggapan bidang ini hanya cocok untuk laki-laki yang memang cenderung punya sifat dasar logis dan taktis.

Membongkar Stereotip

Sumber : Intel Software
Sumber : Intel Software

Pengalaman langsung berhadapan dengan teknologi aplikatif seperti program, software, coding telah mengubah paradigma. Saya menjadi yakin bahwa tak ada yang tak bisa bagi perempuan untuk berkarya.

Bahkan tanpa menempuh pendidikan formal di bidang teknologi informasipun bila mau belajar dan berinovasi pasti bisa. Karena sejatinya, dunia teknologi informasi adalah bidang yang sangat dinamis yang membutuhkan inovasi dan trial and error.

Anggapan yang menyebut dunia TI hanya cocok dan hanya bisa dikuasai laki-laki jelas hanyalah asumsi dan stereotip semata. Dulu ketika masih bekerja, saya juga punya teman yang menjadi IT di salah satu perusahaan media. Kami cukup dekat.

Di kantornya, teman saya termasuk pegawai berprestasi. Ia beberapa kali menjadi penanggung jawab untuk proyek IT di kantornya. Dan yang membuat saya takjub, meski bekerja di dunia yang katanya milik laki-laki teman saya tetap tampil feminim.

Kisah-kisah sukses tentang perempuan yang berhasil di dunia teknologi informasi memang belum banyak. Karena faktanya, perkembangan bidang ini  memang dimulai oleh laki-laki.

Microsoft dan Apple didirikan oleh Bill Gates dan Steve Jobs. Begitu juga pendiri perusahaan raksasa di bidang teknologi, Larry Page untuk Google, Jerry Yang Chih-Yuan untuk Yahoo, Mark Zuckerberg untuk Facebook, Biz Stone untuk Twitter, dan beberapa Mega Aplikasi lain. Tapi bukan berarti dominasi laki-laki ini tak bisa dipatahkan bukan?

Selama perempuan terus belajar dan diberi kesempatan saya yakin suatu saat akan ada mega proyek teknologi yang lahir dari tangan perempuan.

Lihat saja, Marissa Mayer yang sekarang memimpin raksasa Yahoo. Di jajaran pejabat google mulai muncul nama perempuan. Dan bukan tidak mungkin jumlahnya akan terus meningkat. Di Indonesia juga ada beberapa nama perempuan hebat yang jawara di bidang IT.

Ada nama Dian Siswarini, CEO perusahaan seluler yang identik dengan teknologi informasi. Juga ada nama Megawaty Khie  yang malang melintang memimpin perusahaan teknologi. Hingga sederet nama perempuan seperti Betti Alisjahbana, yang pernah memimpin perusahaan teknologi Asia Pasifik.

Bangku-bangku kuliah jurusan teknologi informatika di sejumlah universitas dan perguruan tinggi juga makin banyak diisi oleh mahasiswa perempuan. Berdasarkan data Pusat Nasional untuk Perempuan dan Teknologi Informasi, sudah ada 6 persen perempuan yang menjadi kepala eksekutif dari 100 perusahaan teknologi. Saya yakin jumlah ini akan terus bertambah.

Fakta lain yang tak terbantahkan adalah makin banyaknya perempuan yang bergerak di industri yang melibatkan teknologi informasi seperti online shop dan start up. Itu artinya akan makin banyak perempuan yang melek TI. Sama halnya dengan  bertumbuhnya blogger perempuan yang secara otodidak belajar coding, SEO, analytic dan segala tetek bengek yang berkaitan dengan teknologi informasi.

Kehadiran perempuan di dunia TI tentu saja akan dibutuhkan untuk menjawab makin banyaknya pengguna media sosial dan internet dari kelompok perempuan. Ahli teknologi informasi perempuan tentu akan lebih mudah menyelami kebutuhan pasar perempuan dibanding laki-laki.

Dan menurut saya, yang terpenting dari perkembangan teknologi informasi ini bukan lagi tentang laki-laki atau perempuan yang berada di balik monitor. Tetapi tentang karya dan hasil. Tentang sebuah pencapaian dan prestasi. Saatnya dunia TI berkembang menjadi dunia tanpa pandang gender, melainkan dunia untuk berkarya. ***

 

12 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.