Piknik Perdana Azizah

Sabtu lagi. Rasanya baru kemarin kami menghabiskan akhir pekan dengan berpiknik bersama. Ternyata sudah sampai lagi pada hari emas keluarga ini. Ingin rasanya saya memboyong kembali buah hati kami; Bintang dan Zizi, tamasya seperti pekan lalu. Sayangnya,  papanya anak-anak masih berdinas di luar kota.

Azizah

Sejak memutuskan menepi dari dunia kerja, piknik menjadi sangat berharga bagi saya. Dulu, karena setiap hari selalu “mobile”, libur akhir pekan lebih banyak saya habiskan di rumah, bermain bersama anak-anak.

Ternyata, menghabiskan waktu bersama di luar rumah jauh lebih menakjubkan. Apalagi, saat ini, si bungsu yang baru berusia empat bulan sudah bisa berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Sabtu lalu, kami sepakat untuk liburan di Bogor. Kebun Raya Bogor. Bogor dipilih lantaran ini piknik pertama si cantik Zizi.  Kami khawatir, kalau mengajak Zizi ke tempat ramai, dia gelisah dan rewel. Lagipula kami ingin mengajak si sulung Bintang bermain sepuasnya di udara terbuka. Taman Raya juga relatif gampang diakses untuk kami pengguna angkutan umum. 🙂
Dan waktu piknik pun tiba. Makanan kecil, air mineral,  pakaian cadangan, bola karet, tikar plastik, dan –ini yang tak boleh lupa– kursi portable Zizi. Semua sudah lengkap. Piknik kecil-kecilan pun dimulai.
Kami berangkat sekitar pukul sebelas siang. Sebenarnya kami berniat lebih pagi. Namun,  karena banyak hal yang harus dibereskan  jadilah keberangkatan itu molor beberapa jam. Tidak masalah, yang penting senang.

Menempuh perjalanan kereta sekitar 35 menit kami sampai di Bogor. Alhamdulillah Zizi aman. Bahkan dia terlihat senang. Sulung Bintang apalagi. Sepanjang perjalanan berkereta ia tak berhenti bersuara. Ledakan kata-katanya meletup di mana-mana. Kami –aku dan suami– kadang harus putar otak menerka apa kira-kira yang ia maksud. Maklum, Bintang yang belum berusia dua tahun belum bisa berucap dengan sempurna.

“Ta.. Keta..,” ujar Bintang antusias saat kereta yang kami tumpangi berpapasan dengan kereta tujuan Jakarta. Atau dia akan menunjuk-nunjuk bila melihat tanaman bunga di sepanjang rel.

“Nga… Nga….” ujarnya melihat bunga warna-warni. Matanya berbinar-binang senang.

Saat kami tiba, Kebun Raya sedang ramai. Ada dua rombongan karya wisata. Satu ibu-ibu pengajian –saya menebak berdasarkan baju kurung seragam yang mereka pakai– dan satu lagi rombongan anak sekolah. Ramai sekali. Setiap rombongan paling tidak beranggotakan lima puluh orang.

Bintang senang dengan keramaian itu. Ia yang belum fasih berlari mengekor di belakang rombongan anak SMP. Badannya bergoyang kiri dan kanan. Saya dan suami senyum senyum sambil mengikuti Bintang. Zizi yang baru selesai mimik sudah terlelap di gendongan.

Hal yang tak akan kami lewatkan di Kebun Raya adalah menyeberangi jembatan merah. Tentu saja saya tak ingin Bintang melewatkan momen ini. Wow.. Sama sekali tidak takut, Bintang justru bersorak girang. Dia tak mau digendong. Jadilah ia menyeberang dengan dituntun papa. Waktu sampai di ujung jembatan, ia minta lagi untuk balik ke belakang. Dua kali.
Bintang

Dari jembatan merah, kami menyusur hutan buatan hingga ke padang rumput. Sayangnya, musim kemarau telah merenggut kehijauan padang favorit kami itu. Warnanya berubah jadi kuning kecoklatan  karena rumput yang mengering. Di sinilah kami akan santai sejenak. Si cantik Zizi, sudah terbangun kembali. Sembari menunggu papa dan Bintang sembahyang Zuhur, Zizi kembali minta mimik.

Saat Bintang datang, Zizi sudah duduk di kursi kerajaannya. Ia begitu senang. Sesekali kakinya dihantamkan ke ujung dudukan kursi dan berteriak kegirangan dan menebar senyum. Alhamdulillah, saya senang si cantik menikmati piknik perdananya ini.
Kami menghabiskan golden time di padang rumput itu. Saya dan Zizi bercengkerama, sedang bintang sibuk berlarian bermain kejar-kejaran dengan papanya. Di padang itu, Bintang lari sesukanya. Bahkan sesekali ia menggulingkan badannya. Siang ini saya menemukan power of picnic itu. Kami menjadi sangat menikmati waktu bersama.
Lebih setengah jam, Zizi menunjukkan tanda-tanda bosan. Ia mulai memanyunkan bibirnya, siap-siap meledak. Saya memberi aba-aba pada suami dan Bintang yang masih sibuk bermain untuk segera beranjak.
Bintang kelihatan belum puas, tapi Zizi sudah lelah. Ia sangat ingin tidur lelap. Padahal rencananya, sebelum pulang kami akan mengajak Bintang melihat-lihat rusa di istana presiden. Tapi ya, berhubung ini piknik perdana si cantik, Bintang harus menyesuaikan.
Hup… Ternyata saya kalah sigap dengan tuntutan alam Zizi untuk tidur. Saat menunggu angkutan menuju stasiun Zizi mulai resah. Tangisnya mulai meletup. Bisingnya kendaraan yang berlalu lalang membuat ia tak tenang.  Semula kami menunggu taksi, namun tak kunjung lewat. Akhirnya kami naik angkot karena mengingat jarak stasiun yang dekat. Di dalam angkot, tangis Zizi pun pecah. Eak.. Eak.. Untungnya Zizi segera lelap.
Di kereta kami men”tag” bangku prioritas. Sore itu penumpang tak terlalu ramai. Masih banyak bangku kosong. Bintang seperti tak kehabisan energi untuk memanfaatkan gerbong yang lapang itu. Ia pun berjalan dan bermain-main ke sana ke mari. Sampai di stasiun ketiga Bintang pun mengantuk. Ia minta dibuatkan susu, dan…, terlelap bersama si cantik Zizi.Di gerbong itu saya dan suami berjanji akan kembali lagi liburan di Bogor. Selain belum sempat mengajak Bintang bermain dengan rusa, kami juga tertarik untuk mengunjungi beberapa destinasi lain. Selain kebun raya, juga ada beberapa taman bermain terkenal di sana. Bogor juga menjanjikan wisata alam terbuka yang disediakan sejumlah hotel dan penginapan. Tentu sangat cocok untuk liburan keluarga. ***

Add a Comment

Your email address will not be published.