Kenali 7 Penyakit yang Berpotensi jadi Wabah Berbahaya

PED_feature_boy

“I regard universal health coverage as the single most powerful concept that public health has to offer. It is inclusive. It unifies services and delivers them in a comprehensive and integrated way, based on primary health care.”

Dr Margaret Chan, WHO Director-General

Menjadi sehat dan bugar setiap hari tentu saja menjadi harapan semua orang bukan? Termasuk juga saya dan keluarga. Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan dan memperhatikan pola makan menjadi suatu keharusan. Tapi bukan berarti kita otomatis terhindar dari penyakit.

Faktanya ada banyak penyakit yang menular dengan mudah lewat udara yang kita hirup, melalui kontak langsung dan tidak langsung dengan orang yang menderita penyakit tertentu. Meski tak bisa menghindar salah satu yang bisa dilakukan adalah mengenali, mencari tahu lebih banyak tentang suatu penyakit baik mengenai penularan sampai penyembuhan.

Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama
Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama

Sayangnya saat ini masih ada beberapa penyakit yang belum ditemukan obatnya. Menurut Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), DTM&H, MARS, DTCE yang pernah menjabat Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan,  WHO baru mengeluarkan daftar tujuh penyakit yang dianggap mungkin dapat menyebabkan wabah besar.

 

“Ketujuh penyakit ini belum ada obat dan atau program penanganan yang benar-benar ampuh,” ujar dokter Tjandra yang saat ini menjabat Regional Coordinato di WHO South East Regional Office.

Ketujuh daftar penyakit ini  dievaluasi dari waktu ke waktu dan mungkin saja berubah tergantung situasi yang ada.

Berikut daftar 7 penyakit yang dirilis WHO belum lama ini

1. Crimean Congo Hemorrhagic Fever (CCHF)

Ini adalah sejenis demam yang ditularkan oleh sejenis kutu yang disebut “tick”. Penyakit ini pertama kali ditemukan di daerah Crimea pada 1944, dan menyebar luas di Congo pada 1969. Sekarang penyakit ini dilaporkan dari berbagai Negara, termasuk Asia.

Dokter Tjandra menyebutkan kadang-kadang penyakit ini disalahnamakan dan disebut sebagai “Asian Ebola virus” karena gejala yang hampir mirip, seperti pembesaran hati, demam, nyeri otot dan muntah. Angka kematiannya dapat sampai 40%, dan belum ada vaksin yang tersedia.

2. Ebola virus disease (EVD)

Penyakit ini (yang nama lainnya adalah Ebola hemorrhagic fever ) cukup menghebohkan dunia sehubungan wabah di Afrika Barat belum lama ini. Meski masalah kesehatan di Afrika masih menjadi perhatian serius, warga negara lain juga perlu berhati-hati.

Angka kematiannya tercatat hingga 90 persen dengan rata-rata 50 persen. Penularannya diduga bermula dari hewan (zoonosis) dan lalu berkembang menular antar manusia.

Seperti diketahui, saat ini belum ada obat untuk membunuh virus ebola. Vaksinnya juga belum tersedia luas, walaupun sudah ada beberapa penelitian yang cukup menjanjikan yang tengah dilakukan.

index3. Marburg hemorrhagic fever

Pada 1967 ada penyakit misterius yang timbul di Eropa, utamanya terjadi pada petugas laboratorium yang menangani monyet dari Uganda. Belakangan diketahui penyebabnya adalah jenis filovirus, satu kelompok “family” dengan virus penyebab Ebola.

Karena virus ini ditemukan di kota Marburg di Jerman, maka diberi nama “Marburg virus”.

4. Lassa fever

Penyakit ini awalnya ditemukan di Afrika Barat dan terjadi pada orang yang kontak dengan kotoran binatang  “Mastomys rats”, atau kontak dengan cairan tubuh orang yang terkena penyakit ini.

Secara ilmiah penyakit ini pertama kali didiagnosis di daerah Benin. Salah satu tantangannya adalah karena hanya sekitar 20 persen pasiennya yang menunjukkan gejala, sehingga kasus lainnya bisa tidak terdeteksi.

Gejala yang timbul dapat berkisar dari keluhan ringan seperti demam tidak tinggi sampai pada keadaan berat berupa perdarahan, radang otak / ensefalitis dan shock. Demam merupakan gejala utama, dan salah satu komplikasinya (sampai sepertiga pasiennya) adalah gangguan pendengaran sampai tuli.

Pengobatan yang mugkin diberikan adalah obat anti virus ribavirin yang efektif pada sebagian kasus. Vaksin belum tersedia.

5. MERS dan SARS coronavirus diseases

header_vp3Virus Middle East Respiratory Syndrome (MERS) bermula di jaziran Arab tahun 2012. Sedangkan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) beberapa tahun yang lalu bermula di Cina pada 2003.

Kedua virus ini adalah dua penyakit yang cukup banyak jadi perhatian masyarakat. Ke duanya disebabkan oleh kelompok  coronavirus family, dan menimbulkan penyakit pada saluran napas. Memang ada dugaan bahwa MERS ditularkan dari unta dan SARS ditularkan dari sejenis musang, tapi yang jelas ke dua penyakit ini kemudian dilaporkan menular dari pasien ke orang sehat di sekitarnya, antara lain melalui batuk dan bersin.

Virua MERS dan SARS menjadi ancaman tersendiri bagi jamaah haji yang menjalankan ibadah di Arab Saudi. Sejak berjangkit virus ini telah menyebabkan lebih dari 100 orang meninggal dunia.

Sejauh ini belum ada obat anti viral yang benar-benar ampuh untuk membunuh virus korona penyebab penyakit ini. Sedangkan vaksin juga masih dalam penelitian. Menurut dr Tjandra, belum ada hasil yang sepenuhnya pasti saat ini.

6. Nipah virus infection

malaria-2014-buffetPenyakit Nipah virus pertama kali diidentifikasi pada1998 di Malaysia, pada peternak babi. Untuk menanggulangi wabah ketika itu pemerintah Malaysia membunuh lebih dari sejuta ekor babi. Belakang penyakit ini juga ditemukan di negara lain seperti di Bangladesh dan India.

Penyakit akibat Nipah virus ini menyebabkan peradangan otak, kejang dan bahkan perubahan kepribadian. Belum ada vaksin untuk pencegahan penyakit ini.

7. Rift Valley fever

Rift Valley fever berawal pada peternak domba di Kenya pada 1931. Sejak itu berkali-kali menjadi wabah di benua Afrika. Penularan terjadi dengan menyentuh atau memegang jaringan binatang yang sakit, minum susu yang terinfeksi dan atau tergigit nyamuk yang terinfeksi. Sejauh ini tidak ada penularan dari manusia ke manusia.

Gejalanya menyerupai meningitis dan terkadang sulit dideteksi pada fase awal. Sebagian besar pasien hanya menunjukkan gejala ringan, tapi sekitar 8 persen ternyata mengalami gangguan penglihatan, radang otak dan dapat menimbulkan kematian.  Belum ada vaksin untuk penyakit ini.

Kategori lain

medicines_001_thumbSelain tujuh penyakit yang dirilis WHO ini, dokter Tjandra mengatakan para pakar WHO membuat dua kategori yang lain. Kategori pertama dikelompokkan “serius” , dan perlu penelitian dan pengembangan segera.

Saat ini ada tiga penyakit yang terkategori serius yaitu 1) chikungunya, 2) severe fever with thrombocytopaenia syndrome, dan 3) Zika. Penyakit-penyakit ini juga ditemukan di Asia, dan sebagian juga ada laporan dari Indonesia.

Kategori kedua adalah penyakit yang punya “potensi epidemi”, seperti HIV/AIDS, Tuberkulosis, Malaria, Avian influenza (Flu Burung) dan Dengue. Kategori ini tidak dimasukkan dalam daftar penyakit berbahaya karena sejauh ini sudah cukup banyak penelitian yang dilakukan (obat, vaksin dll).

Program penanggulangan penyakit potensi endemi ini juga sudah relatif tertata jelas. “Perlu disadari bahwa penyakit yang masuk kategori satu dan dua tetap perlu diwaspadai, dan mungkin dapat jadi sama berbahayanya dengan 7 penyakit yang dirilis WHO,” ujar dokter Tjandra.

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.