Udara Putih Tipis Merapat Perlahan


Sesakk….

Udara tipis berwarna putih itu masuk perlahan. Dari sela pintu. Jendela retak.

Tarikan napas satu-satu membakar tenggorokan. Mata perih berair tak tertahan.

 

Udara putih itu merapat perlahan. Membekap mata. Merusak kehidupan.

Mencerabut akar, hati dan pikiran

 

Sudah tiga bulan tuan. Udara putih itu menutup sekolah. Menutup jalanan. Kami tidak meminta ini tuan.

 

Udara putih itu merapat perlahan. Demi apa tuan? Keserakahan?

Perlu berapa banyak nasi untukmu tuan? Lima piring sehari tidak cukupkah? Jutaan hektar masih kurangkah?

 

Salah kami apa padamu tuan? Haruskan anak-anak kami kau siksa?

Ini bukan kali pertama. Sudah 17 tahun. Masih belum cukupkah?

 

Kau menyebutnya bencana. Ini petaka tuan. 

Asap ini akibat Elnino katamu. Tapi korek api dan bensin kau siramkan demi nafsumu.

Berapa lama lagi tuan?**

 

Jakarta, 24 Desember 2015

 

**Bencana kabut asap akibat pembakaran lahan pertama kali terjadi pada 1997-1998 dan terulang setiap tahun. Dampaknya asap menyebabkan ekonomi lumpuh di Sumatera, Kalimantan dan menyebar hingga Singapura, Malaysia dan Thailand Selatan. Pemerintah merilis kerugian ekonomi akibat kebakaran yang disengaja di 2015 mencapai Rp200 triliun. Terbesar sepanjang sejarah.

Add a Comment

Your email address will not be published.