Jazirah Laila

 

love1

Hai! Itu lelaki yang menjatuhkan istrinya dari balkon!

Aku berjalan menyusuri jalan berdebu. Menusuk di keramaian jantung kota yang berdengung memekakkan telinga. Deretan toko mencibir dengan aneka tipu daya yang telah menyeret istriku. Membuat ia menghabiskan seharian penuh waktunya meladeni setiap inci ruangnya.

“Alah Mas, kan cuma sekali semusim kita memanjakan diri,” celotehnya. Kalau sudah begitu aku paling tidak bisa menolaknya. 

Padahal seingatku setiap kali kami mengunjungi departemen store itu, setiap itu pula ia mengeluarkan jurus ampuhnya itu. Tak ada musim musiman bagiku untuk menolak permintaan istriku itu. Bahkan ketika musim kantong tipis sekalipun.

Aku tidak pernah menolak. Mungkin tepatnya tidak mau menolak. Aku tak berani melihat istriku sedih. Aku memujanya. Mencintainya lebih dari seisi departmen store ini. Aku menyayanginya lebih dari rindu pungguk yang mendamba bulan.

Sejak menikah tak ada satu pun yang bisa membuatku tidak memenuhi keinginannya. Kekasih yang sudah menemani hari-hariku selama sepuluh tahun terakhir. Belahan jiwa tempat aku menumpahkan rindu damai kehidupan.

Ia Laila Majnun ku. Ia Sialang yang meranumkan madu-madu lebahku. Dalam mili-mili aliran darahnya telah kusemaikan benih rindu. Dalam setiap pandangannya telah kutitipkan pendar kasihku. Dalam setiap hasta rambutnya telah kutanamkan pohon-pohon asmaraku. Ia istriku. Matahari dalam sepiku.

Hai! Itu lelaki yang menjatuhkan istrinya dari balkon!

Deretan toko itu kulewati dalam kekosongan. Ada yang hilang dari peganganku. Tak ada tangan lembut Laila istriku. Tak ada genggaman tangannya yang begitu hangat selembut sutera. Tak ada senyuman penenang jiwa yang biasanya kudapatkan setelah memuntahkan jutaan uangku dalam sekali belanja.

Aku bingung seribu bahasa. Lelah pikiran ku menerka ke mana sosok Laila menghilang. Tidakkah dia mencintaiku lagi. Kalau Lailaku pergi siapa lagi yang akan menghabiskan digit-digit nol dari dompet dan tabunganku. Setiap minggu, bulan, tahun kuhabiskan hanya untuk membuat Lailaku tersenyum dari balik kantong-kantong belanja barang bermerek yang telah kupesankan khusus untuknya.

Ataukah Laila tak lagi mencintaiku. Tak lagi berminat untuk menjelajahi pusat-pusat perbelanjaan bersamaku. Bukankah dunia ini masih teramat luas untuk kita jelajah berdua saja, sayang.

“Atau kini sudah kau temukan lelaki pilihan hatimu seperti yang pernah kau sebutkan padaku?”

Ah itu tidak mungkin. Aku tahu betul siapa Lailaku. Kekasih yang sudah satu dekade menemani hari-hariku. Perempuan seribu mahkota yang pernah kukenal. Istri dalam kelembutan cahaya bintang di langit-langit istanaku. Mana mungkin dia meninggalkanku dalam semalam.

Tiadalah sanggup Lailaku meninggalkan harum nafas dan kulit buaya di celanaku. Dari lipatan lembaran uang kertas yang selalu kuselipkan di saku belakang celanaku. Lailaku adalah penghias istanaku. Tempat aku menebarkan cibir ibu-ibu muda lainnya yang tak sempat belanja.

Lalu kemana Lailaku menghilang. Ditelan keramaian kota kah? Atau mengepul bersama asap kota yang mulai tak ramah? Ah, mana mungkin Laila menghilang. Tiadalah sanggup dia berjalan kaki, atau berpanas-panas dengan mobil sembilan puluhan yang hanya kugunakan untuk mengangkut sampah dari rumahku.

Aku tahu. Istriku tak akan pergi jauh dariku. Mungkin ia hanya meninggalkanku sesaat saja. Ia bisa saja sedang melihat lagi kebaya model terbaru yang kemaren sore ia perlihatkan padaku dari majalah perempuan kegemarannya. Ataukah ia benar-benar sudah menemukan lelaki idaman seperti yang pernah ia katakan padaku.

“Mas aku merindukan kebahagian sejati. Cinta yang tak berbatas tembok istana. Cinta yang tak mengenal pintu-pintu sutera.”

Hai! Itu lelaki yang menjatuhkan istrinya dari balkon!

Dua minggu aku tak pulang. Pekerjaan di luar kota memaksaku untuk meninggalkan rumah. Untungnya hanya dua minggu. Tak terpikirkan bagaimana jadinya kalau aku harus berbulan-bulan meninggalkan istanaku. Sama saja membiarkan Laila kesepian dan hanya ditemani beberapa penjaga rumah kami. Penjaga istana tempat aku dan Laila berkasih-kasih sepanjang hari. Tempat Laila mencurahkan semua kisah hanya padaku seorang. Sumaninya yang gagah dan menyenangkan dengan segala yang ia minta.

Tak bisa kubayangkan apa jadinya Laila kalau aku tak pulang lebih dari dua minggu. Mungkin saja dia akan menjadi dekil dan keriput. Kulitnya tentu tak akan semulus seperti biasanya karena tidak lagi mendapat sentuhan kosmetik terbaru. Aku bisa kehilangan kehangatan sutera dari setiap belaian tangannya. Sentuhan hangat senyumnya yang menggoda saat aku sibuk bekerja.

Laila saat ini tentu saja tengah terlelap di atas tumpukan majalah mode edisi terbaru. Apalagi ini awal bulan. Aneka majalah kecantikan dan fashion biasanya terbit awal bulan. Pastilah Laila kini tengah menungguku untuk segera diajak belanja pakaian baru.

Ah, Laila. Aku mencintaimu sayang. Segera setelah sampai di rumah, akan aku ajak engkau melihat duniamu. Tunggulah aku di istana kita.

Gerbang rumah terbuka perlahan. Matahari mulai tergelincir. Remang jingga dan merah bercampur menghias langit. Limusim hitam merangkak pelan. Perlahan pandanganku menjelajahi taman bunga. Di situ biasanya matahariku menghabiskan waktu luangnya.

Tetapi kali ini aku tidak melihat bidadari itu. Hanya tanaman anggrek kegemarannya yang sudah merekah indah. Termasuk anggrek hutan yang kubawakan sepulang dari pertemuan di Palangkaraya dua bulan lalu.

Laila pasti tengah menunggu di balik pintu. Atau dia sengaja menunggu di suatu tempat untuk memberi kejutan. Tapi tunggu saja. Aku juga punya kejutan untuknya.

Ku masuki pintu rumah dengan hati berdebar. Ruang demi ruang kujelajahi. Tak satu pun wajah kekasih itu terlihat. Tidak juga di kamar tempat kami biasanya menghabiskan waktu sepanjang malam.

Tanpa terduga mataku tertumbuk sesuatu yang tiba-tiba membuat dada berhenti bergetar. Laila muncul dengan baju daster pendek bermotif kembang sepatu dari arah ruang makan. Aku tidak sanggup berkata sepatah kata pun melihat keanggunan wajah Laila. Dia memang istriku. Bidadari tercantik dalam istanaku.

Ia menuntunku menuju meja makan. Di sana sudah tersedia aneka hidangan. Dengan mata berbinar, Laila menarik salah satu bangku dan mempersilahkan duduk. Hampir saja aku mengikuti semua perintahnya. Namun aku teringat sesuatu. Dan segera berlari kembali ke mobil. Secepat kilat aku kembali. Berdiri, persis di depan Laila.

‘Mas ingatkan sekarang tanggal berapa?” Laila berkata dengan lembut.

“Ya, tentu saja aku ingat sayang.”

Senyum Laila seketika merekah. Matanya semakin berbinar membuat aku ingin segera mengecup bibirnya yang indah.

“Kalau begitu Mas juga tahu ini hari apa?” ia melihatku dengan berbinar.

Aku tidak menjawab. Hanya mengangguk kecil. Aku ingat hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami. Sepuluh tahun lalu, persis di tanggal ini, aku dan Laila mengikrarkan janji untuk saling berbagi dan mencintai selama-lamanya. Ya, tentu saja Laila akan mencintaiku selamanya karena aku punya segalanya yang bisa membahagiakan Laila.

“Mas aku ingin memberi hadiah sesuatu. Tapi…”

Sssstttt. Belum sempat Laila melanjutkan kata-katanya, aku menahan bibirnya dengan
jari telunjuk kananku. “Aku tahu sayang. Ini lihatlah. Aku belikan liontin terbaik untukmu.”

Laila kembali tersenyum. Ia semakin cantik saja. Dan hasratku untuk segera membahagiakannya tak bisa kutahan lagi. Bahkan untuk menunggu sampai acara makan malam selesai.

Laila ingin kembali bicara tetapi aku tak mau keduluan. Bagaimana pun juga aku harus membuat Laila bahagia. Aku harus bisa menyenangkan bidadariku. Sebelum Laila menyampaikan isi hatinya aku segera memotong. “Laila, karena hari ini hari istimewa buat kita. Aku ajak engkau makan di luar.”

Laila terdiam. Raut mukanya berubah. Menjadi kelam. Tapi aku yakin itu karena ia terkesima dengan hadiahku. Dengan semangat kulanjutkan lagi perkataanku.

“Hanya kita berdua. Setelah itu kita terbang ke Singapura. Aku sudah pesankan tiket untuk kita berdua dan disana kita akan belanja sepuasnya. Hanya untukmu sayangku,” ujarku menyampaikan rencana yang sudah kusiapkan dengan bangga.

Aku masih tenggelam dalam kecantikan istriku. Semakin kudekatkan wajahku pada Laila sehingga hidung kami hampir beradu.

Tetapi sesuatu yang tidak kuduga tiba-tiba terjadi. Laila murka. Ia berubah menjadi singa betina yang siap mengamuk. Ia menarik badannya ke belakang seraya berkata.

“Mas! Ini hari bahagia kita. Tak bisakah sekali saja kita hidup dalam damai….”

“Ya aku tahu sayang. Aku tahu ini hari bahagia kita. Itulah kenapa kita ke Singapura. Aku ingin memuaskan mu sayang. Berlibur di surga belanja bukankah menarik?” Aku tidak habis mengerti mengapa Laila berubah menjadi histeris.

“Mas!” Mata Laila mulai berkaca-kaca. Ia tetap saja cantik. Kelembutan terpancar dari matanya itu. Tetapi aku tidak mengerti kenapa Laila seperti itu.

“Apakah Mas juga mau bilang kita akan makan di luar malam ini?”

“Iya sayang. Seperti yang aku bilang tadi. Kita akan habiskan malam ini berdua saja di tempat yang istimewa.”

Laila tepekik. Ia berteriak histeris. Sungguh aku tidak pernah melihat Laila seperti itu. Ia seperti bukan Laila yang kukenal. Lailaku tidak pernah menangis. Dan Lailaku pasti akan senang jika diajak belanja dan makan di luar.

Praangg!!! Suara piring pecah berserakan di lantai mengagetkanku. Aku seperti terjaga dari tidur yang panjang. Laila tiba-tiba menarik ujung taplak meja makan hingga semua hidangan yang ada di atasnya jatuh ke lantai.

“Seharian aku menyiapkan semua ini untuk menyambut kedatangan Mas. Teganya Mas ganti dengan beberapa helai uang di luar sana,” ucapan Laila tidak terlalu jelas kudengar karena bercampur dengan isak tangisnya yang makin menjadi.

“Mas, bukan cinta begini yang aku inginkan. Bukan cinta lewat lembaran uang kertas yang kita belanjakan setiap minggunya. Bukan pula rindu di atas meja kerja. Mas aku capek, aku lelah menjadi permainan dunia.”

Aku terperanjat dengan sikap Laila. Walau sesaat aku sempat membenarkan apa yang ia sebut, tetapi aku tak terima ia mengatakan bahwa selama ini ia tidak bahagia setelah semua yang aku berikan padanya. Semua fasilitas dan kenikmatan belanja yang aku persembahkan khusus untuk Lailaku.

“Mas, pernahkah mas menghabiskan sedikit waktu untuk sekadar menanyakan apakah aku sehat atau tidak. Pernahkah mas mengusap rambutku ketika mas pulang dari kantor. Aku capek mas! Capek!”

“Ya. Tapi bukankah semua keperluanmu sudah kupenuhi. Semua kucurahkan hanya untukmu. Siang malam aku bekerja demi membahagiakan engkau seorang.” Aku coba melunak. Berharap Laila senang mendengar pengakuanku.

“Cukup Mas. Lagi-lagi uang. Harta! Bukan cinta begini yang aku harapkan. Bukan mas. Bukan”

Laila menangis semakin kencang. Ia benar-benar sudah kehilangan kendali. Tetapi entah mengapa ego melarangku untuk mendekati dan merangkulnya. Membenamkan Laila dalam pelukanku. Tidak. Aku tetap saja berdiri mematung dan membiarkan Laila terus menjerit.

“Laila. Beginilah aku. Seumur hidup aku hanya tahu mencintai dan membahagiakanmu dengan segala yang aku punya. Mencukupi kebutuhannmu. Membangunkan rumah mewah.”

Mendengar ucapanku Laila malah semakin membabi buta. Ia meraung-raung seperti kesetanan. “Cukup Mas!”

“Laila. Mengertilah. Beginilah caraku mencintaimu. Dan biarkan aku mencintaimu dengan caraku.”

Tiba-tiba suasana hening. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Ia kemudian bangkit dan mengusap air matanya. Sambil terisak ia menatap mataku tajam. “Mas kalau begitu izinkan juga aku mencintai mas dengan caraku sendiri.”

Usai mengucapkan kata itu. Laila tersenyum padaku. Ia seperti mendapatkan kekuatan baru. “Aku mencintaimu mas. Lebih dari semua materi yang ada di langit dan di bumi. Aku menyayangi mas dengan setiap getar yang mengalir dalam nadiku. Biarkan cintaku utuh dan tetap seperti ini sampai Tuhan benar-benar menginginkan kita bersatu. Tak akan ku biarkan lagi cinta ini tersentuh materi semu. Hingga ajal yang memisahkan kita.”

Usai mengucapkan kalimat itu. Laila berlari menuju balkon atas. Larinya begitu cepat hingga tak bisa kususul. Sesaat ia menoleh ke arahku dan tersenyum manis. Manis sekali. Dan kemudian ia hilang dari pandanganku.

money

Hai! Itu lelaki yang menjatuhkan istrinya dari balkon!

Di sana, di sudut taman kota itu, lelaki paroh baya dengan badan gempal tak terurus menghabiskan malam-malamnya. Setiap hari ia tak henti-hentinya menggendong, memeluk dan bahkan menyiumi sebuah boneka karet. Ia seakan tak rela berpisah dengan boneka itu.

Bila mentari sudah menyingsing di ufuk timur lelaki itu akan segera menyeret langkahnya menyusuri jalan kota. Debu dan sampah jalanan sudah menjadi temannya.

Setiap berkeliling kota ia akan berhenti agak lama di depan toko pakaian wanita. Sambil menggamit lengan bonekanya, ia kemudian tersenyum manis dan terkekeh.

Diguncang-guncangnya boneka itu persis di depan mukanya. Entah apa yang ia ucapkan. Hanya mereka berdua saja yang tahu. Hanya ia dan Laila.

***

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *