Drama ASI Pertama

Rabu dini hari, 25 Januari 2016

Tik tok, tik tok, tik tok…

Detak jarum jam di kamar 109 Rumah Sakit Annisa Cikarang malam itu terasa begitu keras. Padahal jaraknya lumayan jauh dari tempat saya terbaring, empat meter lebih.

Di ruang berpendingin udara itu, mata saya benar-benar jauh dari kantuk. Obat bius yang disuntikkan dokter tujuh jam sebelumnya telah habis. Luka besar di bawah pusar menyisakan rasa ngilu dan kebas. Perih yang tak terkira ketika harus memiringkan badan ke kiri dan ke kanan.

Tapi bukan. Bukan rasa ngilu dan perih itu yang membuat mata enggan tertutup. Bukan pula bayangan akan gunting dan benang yang menari-nari di atas perut ketika masih terbaring di meja operasi.

Ingatan dan pikiran tertuju pada makhluk kecil yang hanya sempat saya pandangi beberapa detik. Menciumnya walau sebentar saja. Lalu ia berlalu bersama perawat yang menggendongnya, menjauh meninggalkan saya. Dan setelah itu tak ada lagi waktu bersua.

Pukul 1 malam, perawat jaga datang ke kamar.

“Ibu istirahat dulu, biar besok lebih segar,” ujar perempuan berbaju pink itu dengan suara lembut.

Tak saya hiraukan perkataannya. Lagi-lagi,  hanya teringat bayi kecil yang telah keluar dari rahim saya. Bayi kecil, Arsyad.

Ya. Kami memberinya nama Arsyad. Arsyad Mandala Agra yang berarti laki-laki penguasa wilayah putra dari Agra. Agra adalah singkatan dari nama saya dan suami, Anggara dan Ira. Kata Agra yang juga melekat pada dua anak kami sebelumnya, Bintang dan Azizah.

“Di mana anak saya Mba. Apakah saya sudah bisa menemuinya?” “Ibu istirahat saja dulu, setelah 1 x 24 jam Ibu baru bisa bertemu.”

Perawat itu menjawab dengan datar. Ia seperti tak merasakan kerinduan yang kini memenuhi jiwa dan raga saya. Oh tidak. 1 x 24 jam. Itu sungguh waktu yang teramat lama. Rentang waktu yang tak bisa saya tolerir untuk bisa bertemu bayi kecil kami.

“Kenapa lama Mba. Bagaimana dengan ASInya. Saya belum berikan ASI sejak dari ruang operasi,” ujar saya.

ASI Pertama. Sejak kelahiran si sulung Bintang, saya telah bertekad memberikan ASI Eklusif pada anak-anak kami. Paling tidak untuk enam bulan pertama. Tak boleh ada yang masuk ke perut mereka selain ASI dari saya.

Bukan susu olahan pabrik. Dan bukan pula susu milik orang lain. Tapi malam ini. Jawaban dari perawat membuat seluruh nadi saya tertusuk-tusuk. Bagaimana mungkin saya baru bisa bertemu dengan bayi kecil kami setelah 1 x 24 jam.

Bagaimana dengan aturan menyusui pertama yang sering saya baca dari sejumlah referensi bahwa maksimal bayi diberi ASI pertama setelah 6 jam kelahiran? Bagaimana bila si kecil lapar?

“Sekarang Ibu istirahat dulu ya. Biar besok lebih baikan.”

Ingin rasanya saya mencegat perawat jaga itu. Memegang tangannya, dan meminta diantar ke ruang perawatan bayi. Minta dipertemukan dengan anak kami. Tapi badan saya tak kuasa bergerak. Bagian bawah perut masih begitu kaku untuk digerakkan.

“Bagaimana dengan ASInya Mba? Baby nya tidak diberi susu formula kan?”

Setengah pasrah dengan ketidakberdayaan, akhirnya saya hanya bisa menanyakan hal itu. Memastikan bahwa bayi kecil kami tidak diberi susu formula. Karena saya yakin, saya masih bisa memberikan ASI Eklusif untuknya.

“Tidak Bu. Di sini, kami tak memberikan susu formula pada bayi, kecuali setelah mendapat persetujuan dari orang tua. Bayi masih kuat bertahan tanpa menyusui sampai 2 x 24 jam.”

Perawat itu lalu berlalu seraya mengingatkan kembali untuk istirahat. Tapi kantuk benar-benar telah tunggang langgang dari pelupuk mata saya. Dengkuran dari keluarga pasien di bed sebelah tak pula membuat saya tergoda untuk tidur.

Hingga pagi datang, dan petugas rumah sakit silih berganti masuk ke kamar, mata saya tak sedetikpun tertidur.

Pukul 7 pagi, perawat jaga datang lagi.

Kali ini perawat yang berbeda dari semalam. Ia melakukan pemeriksaan denyut nadi, tensi, dan suhu tubuh. Normal, semua teridentifikasi normal.

Saya pun merasa lebih baik, meski dengan perut dan bagian bawah pusar yang masih kaku.

“Apakah pagi ini sudah bisa bertemu dengan bayinya Mba,”

Sekali lagi saya menanyakan pertanyaan yang sama dengan perawat jaga malam. Kali ini dengan perasaan yang makin tak menentu. Ini sudah lebih 12 jam sejak kelahiran si kecil. Rekor baru bagi saya untuk belum memberikan ASI ekslusif.

Ketika Bintang lahir, rumah sakit yang kami pilih pro IMD. Meski tengah terbaring di meja operasi, saya sudah bisa memberikan ASI untuk Bintang melalui proses Inisiasi Menyusu Dini.

Ketika Azizah lahir, tak ada lagi IMD di meja operasi. Namun, si kecil masih bisa saya susukan pagi hari, enam jam setelah kelahirannya.

Dan kali ini, untuk Arsyad, lebih dari 12 jam, belum setetes pun ASI yang diterima baby mungil kami. Perawat jaga tak langsung menjawab, sampai saya utarakan kembali pertanyaan yang sama.

“Apakah saya sudah bisa bertemu dengan Bayinya Mba?”

Salah seorang perawat menjawab. “Belum Mba. Nanti sore setelah 1 x 24 jam baru bisa dijenguk.”

Pikiran saya makin gusar. Bagaimana mungkin si kecil bisa bertahan selama itu. Bagaimana saya bisa memastikan rumah sakit tak memberikan susu formula untuk waktu selama itu.

“Tapi Mba, bagaimana dengan ASInya. Bagaimana dengan IMDnya” ujar saya lagi.

Perawat masih bertahan dengan jawaban mereka. Seakan tak peduli dengan kekhawatiran saya.  Lalu mereka menjelaskan mengenai aturan dan SOP yang sudah biasa mereka terapkan.

“Itu karena Ibu baru saja Caesar. Ibu masih dalam masa pemulihan.”

Saya jelas tak bisa menerima. Ini bukan kali pertama saya menjalani Caesar. Apalagi sejauh ini tidak ada indikasi serius atau komplikasi setelah operasi.

Saya bersikeras untuk segera diperbolehkan menemui bayi kecil kami. Namun perawat bergeming. Saya tetap belum diberi izin untuk menemui si kecil. Mereka lalu meninggalkan saya yang masih gundah.

Berselang lima menit, salah seorang perawat datang. Ia mengabarkan bahwa saya bisa menemui Baby Arsyad asal saya sudah bisa berjalan.

 “Sekarang ibu coba berlatih jalan dulu. Kalau sudah bisa, nanti bisa pakai kursi roda ke ruang bayi.”

Secercah harapan mencuat di sana. Meski sejak selesai operasi saya belum berlatih berjalan, tapi saya yakin pasti bisa. Demi bertemu si kecil, tak masalah bila harus belajar jalan dalam waktu instan. Toh dulu, waktu kelahiran Azizah saya sudah bisa jalan kurang dari 12 jam.

Dengan keyakinan penuh, setelah belajar duduk dan sarapan, saya bulatkan hati untuk berlatih jalan. Namun, untuk sementara saya harus bersabar dulu menunggu suami yang harus mengurus pendaftaran BPJS untuk bayi kecil kami.

Arsyad kecil

Sekitar pukul 11 siang, suami datang dan selesai mengurus BPJS si kecil. Saya pun langsung mencoba belajar menggerakkan kaki.

Dengan keteter dan infuse yang masih terpasang, saya paksakan untuk turun dari tempat tidur. Sakit memang, apalagi ketika pertama menggerakkan kaki. Namun setelah berdiri, semua berjalan lebih mulus.

Dalam hati saya selalu menguatkan diri. Mengirim sugesti pada seluruh tubuh bahwa saya pasti bisa. Saya harus bisa, supaya bisa segera menemui baby kecil Arsyad di ruang perawatan bayi.

Setelah perkeliling beberapa kali, saya meyakinkan suami bahwa saya sudah siap untuk pergi ke ruang bayi. Keluarga pasien lain di kamar itu memberi kami semangat.

Tak lama, petugas datang mengantar makan siang. Saya dan suami sepakat kami akan menemui Baby Arsyad setelah saya selesai makan. Nasi lembek, sayur, telur, dan sepotong ikan yang disiapkan segera saya lahap. Meski tak terlalu suka, saya paksakan untuk menghabiskan semua makanan yang disediakan. Toh ini demi mempercepat pemulihan saya juga.

Selesai makan, sekitar pukul setengah satu siang, kami bersiap. Suami lalu menemui perawat jaga untuk meminta izin mengunjungi bayi sekaligus meminjam kursi roda.

Setelah menunggu beberapa saat, perawat datang membawa kursi roda. Ternyata tak hanya diizinkan menemui bayi, siang itu juga kami akan dipindahkan ke kamar kelas 1 setelah sebelumnya kami dirawat di kelas 3 karena kamar kelas 1 penuh.

“Ibu kita sekalian saja pindah kamar ya.”

Saya senang dengan kabar itu. Bukan lantaran fasilitas yang akan kami terima, tapi karena kamar kelas 1 berada satu lantai dengan kamar perawatan bayi. Jadi saya akan lebih mudah untuk bolak-balik menyusui Arsyad. Sedangkan kamar yang sekarang berbeda lantai dengan kamar perawatan bayi. Alhamdulillah, sekarang menjadi lebih mudah.

Setelah bersiap, saya diantar perawat ke kamar 205 yang berada di lantai 2. Suami mengikuti dari belakang. Sesampai di lantai dua, saya langsung minta diantar ke ruang perawatan bayi. Tak sabar ingin segera bertemu baby Arsyad.

Di ruang perawatan bayi, saya disambut dua perawat bayi. Diminta menyebutkan nama lengkap dan tanggal lahir. Setelah itu, salah seorang perawat menggendong dan membawa bayi kecil ke hadapan saya.

Subhanallah. Itu baby Arsyad kami! Bukan main senangnya hati saya. Akhirnya, setelah lebih dari 12 jam bisa bertemu dengan bayi kecil kami. Seperti ingin melepas rasa penasaran, saya pastikan sekali lagi pada perawat bayi bahwa bayi kecil kami tidak diberi susu formula.

Tidak Bu. Di sini kami tak menggunakan susu formula.”

Saya lalu dituntun ke ruang menyusui. Setelah mencocokan gelang tangan, akhirnya Baby Arsyad diserahkan pada saya. Subhanallah. Kini bayi Arsyad ada dalam pangkuan.

Tanpa membuang waktu saya pun segera memberikan ASI. Entah masih bisa disebut IMD atau tidak saya tak peduli, yang jelas itulah saatnya Arsyad mendapatkan ASI pertamanya.

Dan bukan main senangnya hati saya, karena Arsyad tak butuh waktu lama untuk mencari sumber gizi terbaiknya. Meski terlambat, saya senang Arsyad bisa menyusu dengan lahap.

Alhamdulillah, IMD yang meski terlambat itu memberi stimulus positif dalam produksi ASI saya. Karena setelah itu, ASI pun sudah mulai keluar dan bisa memenuhi kebutuhan Arsyad.

Terima kasih Nak. Terima kasih atas kesabarannya. Terima kasih atas kerjasamanya.

5 out of 5 based on 5 rating. 5 user review.
29 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *