Aplikasi My Blue Bird, Sahabat Perjalanan Keluarga Kami

MyBlueBird Aplication

Hal terpenting dari sebuah perjalanan adalah kenyamanan dan keamanan dari keberangkatan hingga tempat tujuan.

***

Jumat pekan lalu, ketika sedang bersantai siang sambil menemani anak-anak bermain, si Sulung Bintang tiba-tiba merengek minta diajak ke Mall. Sebenarnya tujuannya bukan Mall sih, si Sulung ingin diajak main di play yard yang ada di sana.

“Sluncuyy(rr).. maa,,sluncuuyyy (rrr),” ujar Bintang

Awalnya saya pura-pura tak mendengar. Terbayang bagaimana repotnya bila harus mengajak si sulung dan si bungsu main ke Mall. Temans tahu sendiri kan, keduanya masih kecil dan butuh perhatian intensif. Bintang baru berusia 2 tahun 7 bulan dan Azizah, 1 tahun 1 bulan. Biasanya kalau ke mall saya pergi dengan suami atau saudara.

Tapi ternyata jurus saya tak mempan. Bintang malah makin merengek.

“Ma…. aimmm (main)… Aimmm bola.. (main bola).”

Nah! Kali ini permintaannya makin spesifik. Saya yakin yang ia maksud adalah mau main mandi bola. Hihi.. anak-anak kalau sudah berkehendak susah diajak kompromi. Apalagi kalau sebenarnya dia hanya menagih janji.

Iya sih. Sebenarnya saat itu Bintang sedang menagih janji. Malam sebelumnya, suami memang menjanjikan akan mengajak Bintang main mandi bola. Ceritanya malam itu, suami bercengkerama dengan Bintang dan Azizah selepas pulang kerja.

Ketika asyik bermain, suami mengatakan pada saya kalau Jumat besoknya ia bisa pulang cepat. Seperti biasa, setiap Jumat jadwal kerja suami tidak terlalu padat. Ia bisa pulang ke rumah lebih siang.

“Besok, kita main mandi bola ya. Siapa ikut?” ujar suami.

Terang saja Bintang senang. Ia memang paling suka kalau diajak main seluncuran dan mandi bola. Tapi saya tak menyangka juga kalau ia akan ingat janji itu dan menagihnya.

Setelah saya coba alihkan Bintang dengan menemani bermain puzzle dan mewarnai, ternyata ia tetap saja ingat. Akhirnya saya menelepon suami dan menanyakan rencana ke mall. Dan, seperti yang saya duga, suami masih punya sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan.

“Pergi duluan saja Dek sama Bintang dan Azizah, nanti disusul langsung ke sana.”

Hmm, pergi bertiga dengan anak-anak? Jujur saja, saya belum pernah melakukannya. Kalau pergi menjemput Bintang sekolah sih sudah biasa. Tapi kalau mengajak ke mall, rasanya akan sangat merepotkan.

Suami sepertinya mengerti kalau saya tak yakin bisa pergi bertiga saja.

“Naik taksi saja. Pesan pakai aplikasi My Blue Bird,” ujar suami.

Nah. Iya. Itu dia yang saya maksud. Saya tak yakin bisa mengajak Bintang dan Azizah ke mall naik ojek online. Pasti akan susah dan merepotkan.

Sedangkan kalau pakai taksi, rumah kami ada di dalam komplek, berarti harus jalan dulu ke depan untuk menyetop taksi yang lewat. Belum lagi kemungkinan datangnya lama, karena jalan di depan komplek bukan jalan raya.

langkah mudah pemesanan taksi dengan MyBlueBird
langkah mudah pemesanan taksi dengan MyBlueBird

Saran suami untuk memesan taksi lewat aplikasi My Blue Bird memang paling masuk akal. Karena belum menginstall, saya pun langsung mencoba. Selama ini kalau urusan pesan taksi, biasanya suami yang kerjakan dari handphonenya. Apalagi ia memang pelanggan setia Blue Bird.

Tidak butuh waktu lama untuk mendownload aplikasi My Blue Bird dari Google Play. Kurang dari semenit, aplikasi dengan dominasi biru terinstall di gadget saya. Setelah registrasi, saya coba memasukkan lokasi keberangkatan.

fitur Taxy Nearby Me MyBlueBirdAlhamdulillah ternyata dengan fitur taxy nearby me saya tahu bahwa ada beberapa taksi yang standby di sekitar rumah kami. Saya tak perlu khawatir kalau lokasi rumah kami jauh dari jangkauan taksi. Satu persoalan selesai.

Ketika sedang berkemas dan menyiapkan anak-anak untuk berangkat, tiba-tiba saya teringat dengan uang di kantong yang tak seberapa. Aduh, bagaimana ini. Tidak mungkin saya harus mengutang dulu pada tetangga, untuk bayar ongkos taksi. Bisa saja sih nanti minta supirnya mampir sebentar ke atm terdekat. Tapi perasaan saya menjadi tak enak. Was-was kalau ternyata ada sesuatu hal di atm seperti rusak atau kehabisan uang cash.

fitur estimation cost aplikasi MyBlueBirdUntungnya, perasaan waswas itu tak berlangsung lama. Aplikasi My Blue Bird ternyata dilengkapi dengan fitur perkiraan biaya. Setelah saya coba masukkan alamat penjemputan dan tujuan langsung terlihat estimasi cost yang harus dikeluarkan.

Huff, hati pun menjadi lega karena setelah ubek-ubek sana sini saya berhasil mengumpulkan uang dua kali lipat dari harga perkiraan itu.  Akhirnya dengan mantap saya tekan booking.

Dua menit setelah booking, supir taksi menelepon. Ia mengabarkan sedang berada dalam perjalanan menuju lokasi penjemputan. Saya dan anak-anak bergegas ke luar dan standby di depan rumah. Hampir lima menit, taksi yang kami pesan tak juga datang.

Fitur Tracking system aplikasi MyBlueBirdKetika saya lihat kembali ke aplikasi, saya melihat taksi yang kami pesan masuk ke gang berbeda. Fitur tracking system yang tersedia di aplikasi membantu saya mengetahui keberadaan taksi yang dipesan. Bukannya mendekat, di layar monitor saya justru melihat Bapak supir semakin menjauh dari titik penjemputan.

Akhirnya saya berinisitaif menelepon si pak supir memanfaatkan fitur call driver. Dan benar. Ternyata ia memang tengah kebingungan mencari lokasi kami.

Saya lalu memberitahukan dengan lebih rinci lagi lokasi penjemputan. Memang sih, rumah kami berada di gang buntu yang tak terlalu ramai. Saat itu saya benar-benar merasa terbantu dengan fitur tracking system yang membantu mengecek keberadaan driver.

saya bersama Bintang dan Azizah menikmati pengalaman perdana ke mall tanpa Daddy
saya bersama Bintang dan Azizah menikmati pengalaman perdana ke mall tanpa Daddy

Tak lama menunggu, taksi pun datang. Bintang dengan semangat langsung menghambur dan bersiap berangkat. Kami bergegas dan meluncur menuju Depok Town Square di Jalan Margonda Raya.

Sepanjang perjalanan, Bintang dan Azizah terlihat bersemangat. Saya pun bertukar cerita dengan si pak sopir. Sejak dulu setiap kali melakukan perjalanan dengan taksi atau ojek online saya memang senang ngobrol dengan pengendara. Dari mereka biasanya saya mendapat pelajaran hidup, tentang dedikasi dan semangat pantang menyerah menjemput rezeki.

Ketika ngobrol saya sempat bertanya pada pak supir apa yang membuat dia tadi sulit menemukan titik lokasi penjemputan. Padahal dari aplikasi MyBlueBird yang saya pakai, saya bisa melihat kalau si pak supir sudah menjauhi rumah kami.

Rupanya, ia tak memiliki GPS seperti halnya saya. Ia hanya dibekali alat komunikasi yang berisi data nama, nomor kontak, alamat penjemputan dan alamat pengantaran. Barangkali untuk masa mendatang ada baiknya setiap supir Blue Bird juga dilengkapi dengan smartphone yang dilengkapi dengan GPS. Jadi komunikasi data bisa dilakukan dua arah, antara pelanggan dan supir.

 

Kemudi dan radio komunikasi, senjata andalan supir dalam memanfaatkan Aplikasi MyBluebird
Kemudi dan radio komunikasi, senjata andalan supir dalam memanfaatkan Aplikasi MyBluebird

Di luar urusan koordinat, rupanya berdasarkan pengakuan si pak supir, sejak aplikasi My BlueBird diluncurkan, pendapatannya jadi lebih meningkat. Banyak pelanggan yang menggunakan layanan pesan online ini. Proses penjemputan pun menjadi lebih cepat.

fitur multiple booking MyBlueBirdAsyik ngobrol dengan pak sopir saya jadi tambah ilmu. Ternyata aplikasi My Blue Bird bisa digunakan untuk Multiple Booking. Dengan fitur ini pengguna bisa memesan beberapa taksi sekaligus untuk satu kali keberangkatan. Nah ini sangat cocok untuk bepergian dengan rombongan besar.

Biasanya, ketika menggunakan layanan ojek online, saya susah memesan ojek lebih dari satu bila harus pergi dengan saudara. Akibatnya, kami perlu mendownload lagi aplikasi dengan gadget yang berbeda. Tetapi dengan adanya fitur Multiple Booking, bila nanti saya butuh taksi untuk perjalanan rombongan, tak perlu lagi repot-repot unduh aplikasi dengan smartphone yang berbeda.

Di tengah jalan, sedang asyik menikmati pengalaman pertama saya keluar rumah menuju mall bersama anak-anak, tiba-tiba telepon saya berbunyi. Rupanya ada panggilan masuk dari suami. Ia ingin memastikan perjalanan kami aman dan lancar.

Terang saja saya bilang aman dan terkendali. Apalagi supir yang mengantar kami sangat ramah. Untuk lebih meyakinkan suami, saya lalu memanfaatkan fitur share my location yang tersedia di aplikasi My Blue Bird. Hebat sekali. Cukup dengan klik share, ternyata suami langsung menerima laporan titik lokasi keberadaan kami melalui google map.

“Wah enak ya Dek, bisa terlacak lokasinya. Selamat bersenang-senang dengan anak-anak,” ujar suami.

fitur share my location memudahkan pengguna berbagi info perjalanan
fitur share my location memudahkan pengguna berbagi info perjalanan

Iya saya akui, fitur share my location ini  sangat membantu. Apalagi kalau sedang janjian bertemu dengan kerabat apalagi rekan bisnis. Dengan men-share lokasi, kita bisa meyakinkan rekan atau kerabat bahwa kita memang tengah berada di jalan menuju lokasi pertemuan. Share my location juga memudahkan kerabat atau rekan bersiap-siap menunggu kedatangan.

Karena asyik bercerita, tak terasa, kami sampai di tujuan. Aplikasi pun memberi kode. Kami turun di depan Depok Town Square.

Ketika melihat ke arah argo, alhamdulillah saya menjadi lega. Harga yang tertera di sana tak jauh berbeda dengan perkiraan biaya yang sebelumnya saya baca. Di aplikasi juga tertera nominal yang sama dengan yang muncul di argo mobil.

Setelah membayar ternyata juga tersedia fitur driver rating. Karena merasa nyaman selama perjalanan dengan sopir yang ramah, tentu saja saya tak segan untuk memberi bintang lima. Semoga rezekinya si Pak supir makin lancar.

Saya dan anak-anak pun segera meluncur masuk ke Depok Town Square dan menuju lantai dasar. Ke mana lagi kalau bukan ke playyard tempat main favorit Bintang dan Azizah.

Bintang puas bermain setelah naik MyBlueBird
Bintang akhirnya bisa bermain dan mandi bola sepuasnya

Dulu, Sekarang, dan Besok Ya Tetap Blue Bird

Pengalaman menggunakan aplikasi My Blue Bird hari itu membuat saya menjadi bertambah betah menggunakan taksi biru. Bahkan, saat belum ada aplikasi ini, Blue Bird sudah ada di hati.

Ketika masih menjadi full time worker, saya kerap mendapat jatah piket malam. Sebulan bisa dua sampai tiga kali. Bila sudah piket malam,  biasanya baru pulang setelah di atas jam 11 malam. Kadang-kadang tembus dini hari sekitar jam 1-2. Bila sudah piket malam, satu-satunya pilihan adalah pulang dengan taksi si burung biru.

Armada Blue Bird Group, gambar: Bluebirdgroup.com
Armada Blue Bird Group, gambar: Bluebirdgroup.com

Pilihan untuk menggunakan Blue Bird lantaran saya merasa nyaman. Hampir semua sopir yang saya temui ramah dan tak banyak neko. Memang ada beberapa kali ketemu sopir yang saya anggap pura-pura baru datang ke Jakarta dan bersikap seolah tak hapal jalan. Tapi jumlahnya tak banyak. Di antara 100 kejadian paling banter ketemu 4.

Berbeda dengan sopir  salah satu armada taksi yang suka mengaku menjadi pendatang baru. “Maaf Bu kita lewat mana ya, saya baru bawa taksi Bu, jadi tidak hapal jalan.” Ah, tanpa bermaksud berprasangka tapi biasanya pengemudi taksi yang begini hanyalah modus. Saya yakin setiap armada tak akan sembarang menerima sopir, dan pasti persyaratan dasarnya adalah mengetahui jalanan Jakarta.

Lupakan soal modus-modusan. Hal lain yang membuat saya susah pindah ke lain hati adalah harga jujur BlueBird. Sebelum pemerintahan berganti dan harga bensin masih stabil harga buka pintu Blue Bird memang di atas beberapa armada lain. Namun, harga yang tertera harga jujur.

Saya belum pernah menemukan taksi Blue Bird nakal yang suka memainkan argo. Contohnya, hampir setiap pulang malam menggunakan taksi Blue Bird, biaya yang saya keluarkan stabil, antara Rp30 ribu sampai Rp 38 ribu. Sedangkan menggunakan taksi lain, meski tarif buka pintu lebih murah, pernah juga saya harus membayar di atas Rp40 ribu.

Ketika bbm naik, dan armada taksi ramai-ramai menaikkan tarif, Blue Bird tetap dengan harga normal. Saya merasa nyaman karena tak turut larut dalam keriuhan kenaikan harga BBM waktu itu.

Meski tak pernah menaikkan tarif, ketika harga BBM turun lagi, Blue Bird malah turut menurunkan tarif buka pintu dari semula Rp 7.000 menjadi Rp 6.500. Dan kini, dengan menggunakan aplikasi MyBlueBird minimum order bahkan turun menjadi Rp 20 ribu. Enak bukan. 🙂

Fitur e-receipt memudahkan urusan klaim transport
Fitur e-receipt memudahkan urusan klaim transport

Oya, ngomong-ngomong soal harga, setelah BlueBird bertransformasi dan meluncurkan aplikasi MyBlueBird, satu fitur yang menurut saya sangat berguna adalah fitur e-receipt. Aplikasi inilah yang kini menjadi favorit suami. Dengan E-receipt ia menjadi lebih mudah mengurus klaim transport bila sedang tugas.

Berbeda dengan ketika saya kerja dulu. Untuk memudahkan reimburse biaya transport untuk piket malam, biasanya setiap naik taksi saya harus siap sedia kuitansi untuk disodorkan pada supir sebagai bukti pada bagian keuangan. Sekarang urusannya menjadi lebih mudah.

Kini aplikasi My Blue Bird sudah duduk manis di smartphone saya. Belum sepekan, sudah dua kali saya menggunakannya. Dengan segala manfaat dan kemudahan yang saya rasakan, tentu saja aplikasi ini akan berumah lama di smartphone saya. Sebuah aplikasi yang mobile friendly, dan mengerti kebutuhan keluarga kecil kami. #NewMyBlueBird

58 Comments

Leave a Reply to Ety Abdoel Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *